Terserah pilihan Allah, Bekerja atau Melulu Ibadah

Tanda Andalkan Amal, Jika bersalah Harapan Berkurang
Aug 15, 2018
Sekeras Apapun Semangatmu, Tidak Akan Dapat Menembus Takdir
Aug 17, 2018

إرادتك التجريد مع إقامة الله إياك في الأسباب من الشهوة الخفية، وإرادتك الأسباب مع إقامة الله إياك في التجريد انحطاط عن الهمة العلية

Keinginanmu untuk tajrid (melulu ibadah tanpa usaha) padahal Allah masih menempatkamu di dalam usaha maka keinginan itu termasuk dari hawa nafsu yang samar. Keinginanmu untuk menjadi orang-orang yang berusaha untuk dunia padahal engkau ditetapkan Allah pada golongan ahli tajrid adalah turun dari semangat yang tinggi.

YANG dipilih Allah adalah yang terbaik. Masing-masing ada pada tingkatannya. Ada yang ditempatkan Allah menjadi Ahli Tajrid, yaitu orang yang melulu ibadah tanpa berusaha untuk dunia. Rezekinya datang sendiri kepadanya. Ada pula yang menjadi Ahli Asbab, yaitu orang yang mencari dan berusaha untuk kebutuhan dunianya.

Kedua golongan itu dipilih dan ditentukan oleh Allah. Semua harus ridho dengan pilihan Allah. Yang dipilih oleh Allah menjadi ahli kasab maka itulah yang terbaik untuknya. Dipilih jadi ahli tajrid, maka itulah yang menguntungkan baginya. Pepatah sufi mengatakan:

اِصْبِرْ بِالْوَاقِعِ فَإِنَّهُ اَكْبَرُ نَافِع

Sabarlah dengan apa yang terjadi karena itu adalah pemberi manfaat yang terbesar.

Masing-masing adalah orang yang bekerja untuk Allah. Ahli kasab bekerja dengan niat baik untuk menuju kepada Allah. Ahli tajrid berkhidmat kepada Allah dan masyarakat dan rezekinya datang sendiri. Mereka berdua dimisalkan seperti dua budak raja. Raja berkata kepada salah satunya, “Kerjalah dan makanlah.” Kepada yang satunya raja berkata, “Engkau duduk bersamaku nanti kamu aku kasih bagian.” Tetapi tawajjuhnya ahli tajrid lebih kuat, karena tidak banyak rintangan dan gangguan.

Tanda seseorang diletakkan menjadi ahli kasab ialah usahanya berjalan, ia merasakan hasilnya, mendapat ketentraman dan selamat agamanya. Niatnya dalam berkasab baik untuk mencari keridhaan Allah seperti untuk mencukupi keluarga, menyambung hubungan dengan famili, menolong orang yang membutuhkan.

Apabila ia merasakan hal di atas, maka janganlah ia meninggalkan pekerjaannya itu. Nabi bersabda:

مَنْ بُوْرِكَ فِيْ شَيْئٍ فَلْيَلْزَمْهُ

Siapa yang diberi barakah dalam sebuah pekerjaan maka hendaklah ia menetapi pekerjaan itu.

Seumpama mau bekerja lain, maka pekerjaan yang lama itu ditetapkan, jangan disingkirkan. Boleh saja cari tambahan rezeki, tetapi jangan sampai membuang yang lama. Tetapkan jenis pekerjaan itu dan pegangkan kepada orang lain, misalnya.

Tandanya Ahli tajrid ialah ia rajin dan istiqamah melakukan ibadah wajib dan sunnah, hari-harinya dibuat berkhidmah kepada Allah dan masyarakat.

Karena kedua golongan itu sama-sama mencari keridhaan Allah. maka syaitan tidak tinggal diam. Ia datang kepada kedua golongan ini untuk menggoda mereka agar meninggalkan apa yang ditetapkan Allah kepadanya dan pindah ke yang lain. Syaitan datang berpura-pura menasehati kedua orang itu, seperti dulu ketika Iblis mendatangi Nabi Adam dan Hawa.

Syaitan datang kepada ahli asbab, orang-orang yang biasa bekerja, dan berkata, “Andai engkau meninggalkan pekerjaanmu dan melulu beribadah, maka engkau akan diterangi dengan cahaya, hatimu menjadi bersih dan menjadi gudangnya cahaya. Lihat fulan dan si fulan, ia meninggalkan pekerjaannya. Akhirnya ia dapat mukasyafah, hidupnya nyaman…” Padahal orang yang didatangi syaitan ini tidak termasuk orang yang ahli tajrid dan ia tidak kuat dengan tajrid. Akan tetapi kebaikan orang itu ada pada bekerja mencari sebab.

Lalu orang itu tergoda dengan bisikan syaitan itu dan ditinggalkanlah pekerjaannya. Tiba-tiba ia tidak mendapat apa-apa. Maka imannya menjadi goncang. Keyakinannya hilang. Ia mulai meminta dan mengharap bantuan manusia.

Syaitan juga datang kepada orang yang tajrid (melulu ibadah yang mendapat rezeki tanpa usaha). Syaitan berbisik kepada orang itu, “Sampai kapan engkau tidak bekerja? Apakah engkau tidak tahu bahwa meninggalkan usaha memyebabkan hati mengharapkan apa yang ada pada manusia, menjadi rakus, tidak bisa membantu orang, tidak bisa mengutamakan orang lain, tidak bisa menegakkan kewajiban. Terkadang yang kamu harapkan luput…”

Orang tersebut tergoda oleh bisikan syaitan itu. Ia bekerja. Padahal ia sudah tenang dengan tidak bergaul dengan manusia. Maka ketenangannya hilang. Ia tercemar dengan kekeruhan pekerjaannya itu. Kegelapan menyelimuti hidupnya. Lalu ia sadar bahwa kehidupannya yang dulu lebih baik. Ibnu Athaillah menyebut orang ini turun dari semangat yang tinggi.

Syaitan sengaja berbuat demikian itu agar manusia gagal mendapat ridho-Nya dan mengeluarkan mereka dari pilihan Allah untuk mereka dan pindah kepada pilihan yang didorong oleh hawa nafsunya. Kalau Allah yang memilih, maka Allah akan membantu. Kalau engkau masuk pada suatu maqam dengan dorongan nafsumu, maka engkau dibiarkan oleh Allah untuk engkau urus sendiri.

    وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

 “Katakanlah, Masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar dan jadikan bagiku dari-Mu kekuasaan yang menolong aku.” (QS. Al-Isra’: 80)

Masuk yang sungguh-sungguh adalah engkau masuk karena Tuhanmu bukan nafsumu. Keluar yang sungguh-sungguh adalah keluar karena Allah, bukan karena hawa nafsumu.

Maka terimalah dan ridhalah dengan kedudukan yang dipilih oleh Allah. Jangan coba-coba memilih keluar dari kedudukan itu dengan nafsumu sampai Allah sendiri yang mengeluarkan kamu dari kedudukan itu. Jangan tinggalkan sebab (usaha mencari rezeki) sampai sebab itu meninggalkanmu. “Berkali-kali aku berusaha meninggalkan sebab tetapi aku kembali ke sebab itu. Kemudian sebab itu yang meninggalkan aku maka aku tidak pernah kembali kepadanya,” ucap seorang Sufi.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *