Terpaksa dan Rendah Diri Dapat Mempercepat Terkabulnya Doa

Tujuan Utama Dari Berdoa
Apr 22, 2020
Bagaimana Bisa Sampai Kepada Allah ?
Apr 30, 2020

مَا طَلَبَ لَكَ شَيْئٌ مِثْلُ الْإِضْطِرَارِ, وَلَا أَسْرَعَ بِالْمَوَاهِبِ اِلَيْكَ مِثْلُ الذِّلَّةِ وَالْإِفْتِقَارِ

Tiada sesuatu yang dapat mempercepat engkau untuk mendapatkan sesuatu, seperti keadaan terpaksa. Dan tiada sesuatu yang dapat mempercepat untuk mencapai pemberian-pemberian Allah, seperti merasa rendah diri dan merasa amat miskin.

 

SIFAT terpaksa adalah sifat ubûdiyah (kehambaan) seorang hamba yang paling khusus. Orang yang terpaksa ialah orang yang merasa bahwa tidak ada yang dapat menolong dirinya selain Allah. Orang yang seperti ini bagaikan orang yang tenggelam di dasar lautan dan bagaikan orang yang tersesat di dalam hutan belantara yang dia merasa bahwa tidak ada yang menolong dan menyelamatkannya dari kebinasaannya seorangpun selain Tuhannya. Keadaan seperti ini sangat menguntungkan bagi dirinya, sebab dalam keadaan seperti ini dapat mempercepat doanya terkabul.

Allah subhanahu wa ta ‘ala berfirman dalam Al-Qur’an:

أَمَّنْ يُجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ

“Atau siapakah yang dapat memperkenankan (doa) orang yang dalam keadaan terpaksa (kesulitan) apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (QS. An-Naml: 62)

Sebagian orang-orang arif mengatakan: “Orang yang terpaksa ialah orang yang berdiri di hadapan Tuhannya kemudian ia mengangkat tangannya seraya memohon suatu permohonan kepada-Nya. Dan ia tidak melihat dirinya dan antara Allah mempunyai suatu kebaikan (dalam dirinya) sehingga ia merasa berhak untuk mendapatkan sesuatu (pemberian dari Allah). Maka ia berkata: “Ya Allah berilah aku pemberian, bukan dengan sebab sesuatu apapun.”

Artinya, orang yang terpaksa itu adalah orang yang tidak bersandar kepada dirinya dan tidak bersandar kepada sebab-sebab, namun ia hanya bersandar kepada Allah yang menciptakan sebab. Karena Allah tidak memberi rezeki kepada hamba-Nya, melainkan dari arah yang tidak diduga oleh hamba itu agar ia merasa bahwa yang memberinya rezeki adalah Allah.

هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي

“Ini adalah termasuk karunia Tuhanku.” (QS. An-Naml: 40)

Sayyidina Ali radhiyallahu anhu pernah ditanya: “Wahai Ali. Dari mana rezeki itu datang?” Sayyidina Ali karramallahu wajhahu menjawab: “Dari arah datangnya ajal.”

Sebagian orang arif tidak mau memohon dan meminta kepada Allah kecuali apabila ia sudah mencapai keadaan yang sangat terpaksa.

Dalam hadits disebutkan:

إِشْتَدِّيْ أَزْمَةُ, تَنْفَرِجِيْ

“Sampaikanlah ke puncak kesusahan niscaya akan terbuka kelapangan.” (HR. Al-Askari, ad-Dailami,‘ al-Qidha’i)

Merasa rendah diri dan merasa sangat butuh (kepada rahmat Allah) adalah dua hal yang sangat erat kaitannya dan tidak bisa dipisahkan dengan sifat terpaksa. Kedua sifat itu dapat mempercepat datangnya pemberian-pemberian Allah kepada hamba yang memiliki kedua sifat itu. Hal inilah seperti yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ

“Sungguh Allah telah menolong kalian dalam perang Badar padahal kalian adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah ( merasa rendah diri ).” (QS. Ali Imran: 123)

Mereka merasa rendah diri, kemudian mereka menjadi kuat dan mendapatkan kemenangan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ

“Sesungguhnya pemberian-pemberian Allah itu, hanyalah untuk orang-orang yang butuh kepada Allah dan merasa miskin kepada rahmat Allah.” (QS. At-Taubah: 60)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *