Tanda Hati Buta : Semangat Memburu Rezeki dan Teledor Ibadah

Jangan Risau, Sudah Ada Yang Mengatur
Aug 19, 2018
Jangan Putus Asa, Walau Doa Terkabul Lama
Aug 20, 2018

 

اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ

Usahamu yang keras untuk mendapatkan rezeki yang sudah dijamin oleh Allah, dan keteledoranmu terhadap kewajiban yang ditugaskan kepadamu, membuktikan atas kebutaan mata hatimu.

 

ARTINYA, sesuatu yang dijamin dan ditanggung oleh Allah, seperti rezeki, tidak perlu kita bersungguh-sungguh untuk mencarinya. Sebab, rezeki yang memang untuk kita pasti akan datang. Tidak perlu semangat yang tinggi untuk mencarinya sehingga melupakan kewajiban, ibadah dan ketaatan.

Mengenai rezeki hamba yang sudah dijamin, Allah berfirman:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Berapa banyak dari binatang yang melata yang tidak sanggup membawa rezekinya, Allah-lah yang menjamin rezeki mereka dan terhadap kamu. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 60)

Dan yang dimaksud sesuatu yang dituntut oleh Allah artinya ialah urusan akhirat. Allah menyerahkan urusan akhirat kepada hamba. Tidak ada jaminan dari Allah tentang urusan akhirat. Kita harus berusaha keras untuk menjalankan ibadah, ketaatan dan urusan akhirat lainnya. Itulah tugas yang harus dijalankan oleh hamba.

Tantang hal ini Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Sesungguhnya manusia tidak mendapatkan kecuali apa ya diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Allah tidak menuntut kita untuk mencari rezeki, karena rezeki sudah dijamin oleh Allah. Ia hanya menuntut kita untuk beribadah dan taat kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ

“Perintahkanlah keluargamu melakukan shalat dan sabarlah dalam melakukannya, kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kami yang akan memberi kamu rezeki.” (QS. Thaha: 132)

Arti ayat di atas; kerjakanlah apa yang menjadi kewajibanmu terhadap Kami dan Kami akan melengkapi bagian Kami untuk kamu. Jangan memikirkan rezeki, yang penting kamu jalankan kewajiban pada Allah, pasti Allah akan memberimu rezeki.

Memahami ayat di atas, ada ulama yang mengatakan orang yang membangunkan keluarganya, anak-istri untuk shalat akan mendapat rezeki dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ  إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Aku tidak menghendaki rizki dari mereka dan Aku tidak ingin mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezeki dan Pemilik kekuatan yang kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 57-58)

Disebutkan dalam sebagian atsar, “Hai hamba-Ku, taatlah kepada-Ku dengan apa yang Aku perintahkan dan jangan engkau mengajari-Ku apa yang menjadikan engkau baik.”

Ibrahim al-Khawwash mengatakan, ”Ilmu itu seluruhnya ada dalam kandungan dua kalimat. Jangan engkau membiasakan dirimu untuk mencapai apa yang yang telah dijamin. Dan jangan menyia-nyiakan apa yang telah ditugaskan padamu.”

Siapa yang menjalankan perkara ini menurut apa yang disebut diatas, yaitu bersungguh-sungguh untuk menjalankan tugas, kewajiban dan ketaatan dan membersihkan hati dari urusan yang sudah dijamin, maka berarti orang itu terbuka mata hatinya.

Sebaliknya, siapa yang semangat dan sungguh-sungguh, sampai lelah, untuk mencari rezeki yang sudah dijamin sehingga melupakan perintah agama dan lalai dengan tugas-tugasnya maka berarti ia buta mata hatinya.

Jika Allah menghendaki kehinaan pada hamba-Nya maka hamba itu disibukkan badan dhahirnya dengan berkhidmah pada dunia. Sedangkan batinnya disibukkan dengan mencintai dunia sehingga mata hatinya menjadi buta dan yang ia kejar dan ia usahakan dengan sungguh-sungguh adalah urusan dunia yang sudah dijamin oleh Allah. Sedangkan urusan akhirat yang menjadi kewajibannya ia sia-siakan.

Itulah tanda orang yang ditelantarkan oleh Allah. Waktunya dicurahkan kepada urusan dunia sehingga ia merasa tidak ada waktu untuk beribadah atau menghadiri majlis ilmu. Bahkan ada yang membenci pengajian dan menganggap majlis ilmu itu menghalangi pekerjaan mereka. Na’udzubillah. Padahal seharusnya kalau ia tidak bisa hadir, sedikitnya di dalam hatinya ada rasa cinta kepada pengajian atau majlis ilmu. Ini seperti disabdakan oleh Rasulullah:

اُغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا وَلَا تَكُنِ الْخَامِسَ فَتَهْلَكَ

“Jadilah orang yang berilmu atau orang yang mencari ilmu atau pendengar atau pecinta dan jangan jadi yang kelima maka kamu akan binasa.” (HR. Bazzar, Thabrani)

Mencari rezeki hukumnya boleh dan diizini dalam agama asalkan tidak melupakan kewajiban kepada Allah. Orang yang seperti ini tidak buta mata hatinya. Misalnya, dia berusaha mencari rezeki, tetapi berniat untuk ibadah, sehingga ketika dia bekerja mendapat pahala karena pekerjaannya menjadi ibadah. Dalam bekerja tetap menjalankan agama, tugas dan kewajiban sekuatnya. Ia tidak lupa shalat jamaah serta selalu berdzikir. Ibadah dzikir bisa dilakukan dimana saja dan dalam keadaan apapun. Allah Ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

Maka ingatlah Allah baik disaat berdiri, duduk ataupun berbaring. “ (QS. An-Nisa’: 103)

Malahan Allah memuji orang yang mencari dunia tetapi tidak lupa dari mengingat Allah. Allah berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Lelaki-lelaki yang perdagangan dan jual beli tidak melupakan mereka dari mengingat Allah.” (QS. An-Nur: 37)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *