Tanda Andalkan Amal, Jika bersalah Harapan Berkurang

Hukum Menggunakan Uang Kotak Amal
Jun 24, 2018
Terserah pilihan Allah, Bekerja atau Melulu Ibadah
Aug 16, 2018

 

 مِنْ عَلَامَةِ الْإِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ

Termasuk tanda bahwa seorang itu mengandalkan amal perbuatannya, yaitu berkurangnya harapan ketika terjadi suatu kesalahan

MENGANDALKAN kepada Allah adalah sifat orang arif yang mengesakan Tuhannya. Mengandalkan kepada selain Allah adalah sifat orang bodoh dan lalai, baik yang diandalkan berupa ilmu, amal perbuatan atau kedudukan.

Seseorang yang bersandar kepada ilmu, amal, dan kedudukannya berarti lupa akan kurnia rahmat Allah subhanahu wa ta’ala yang memberi taufiq dan hidayah kepadanya. Ini pasti membawanya kepada ujub, kesombongan, merasa sempurna diri sebagaimana yang telah terjadi pada Iblis. Sewaktu Iblis diperintah oleh Allah untuk sujud kepada Nabi Adam, dia menolak. Ia tidak mengikuti perintah Allah bahkan berkata, Aku lebih baik daripada dia. Iblis mengandalkan dirinya dan kedudukannya. Akhirnya ia jatuh dalam maksiat dan dia durhaka sehingga dimurkai Allah subhanahu wa ta’ala sampai hari kiamat. Hal ini juga terjadi pada Qarun. Dia berkata:

 إِنَّمَا اُوْتِيْتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Aku dapat menghimpun harta yang banyak semata-mata dari ilmuku. ” (QS. Al Qoshos: 78)

Qarun tidak mau mengakui bahwa kekayaannya berasal dari Allah. Ia merasa tidak butuh kepada Allah. Ia merasa cukup dengan dirinya. Ia lupa bahwa semua itu datang dari Allah. Dengan kebodohan dan kelalaiannya itu dia disiksa oleh Allah. Dia ditenggelamkan ke dalam tanah. Ini contoh orang yang mengandalkan kekayaan, amal, kepandaian, ilmu dan kedudukan.

Adapun orang Arif (yang mengenal Tuhan) yang betul-betul bertauhid (mengesakan Allah), mereka berada di atas hamparan kedekatan kepada Allah. Mereka hanya melihat kepada Tuhannya. Mereka lupa pada dirinya, dan hanya ingat kepada Allah. Kalau mereka jatuh dalam kesalahan, perbuatan dosa atau ditimpa kelalaian, mereka beristighfar dan mereka yakin bahwa itu adalah tindakan Allah dan mereka mengetahui itu adalah jalan takdir Allah.

Juga apabila timbul ketaatan, melakukan ibadah dan tampak padanya kesadaran, dan tidak lalai, maka mereka tidak melihat semua itu dari diri dan daya upaya mereka. Tetapi semua itu semata mata dari Allah. Ini dikarenakan yang mendahului mereka adalah ingat kepada Allah.

Ini sebagai pengamalan kalimat laa haula wala quwwata illa billah. Artinya, Tidak ada daya untuk mengelak dari dosa dan dapat melakukan sesuatu amal kebaikan, kecuali dari Allah.

Bagi mereka, tidak ada perbedaan antara dua keadaan tersebut (taat atau maksiat) karena mereka tenggelam dalam lautan tauhid. Takutnya dan harapannya kepada Allah sama. Kalau mereka menjauhi dosa, maka takutnya kepada Allah tidak berkurang. Jika mereka melakukan amal kebaikan, maka harapannya kepada Allah tidak bertambah. Artinya, ketika berbuat dosa pun harapannya kepada Allah tetap dan tidak berkurang. Di saat mereka melakukan ketaatan, rasa takutnya kepada Allah tetap tinggi.

Harapan dan takut mereka selalu seimbang dan sama. Ini disebabkan takut mereka kepada Allah timbul dari menyaksikan sifat Allah Al-Jalal (keagungan Allah). Harapan mereka timbul karena melihat sifat Allah Al-Jamal (keindahan Allah). Sedangkan kedua sifat Allah itu tidak pernah berubah, berkurang atau bertambah.

Syarih Kitab Al-Majalis mengatakan: “Orang-orang arif itu berdiri tegak dengan Allah. Urusan mereka diatur oleh Allah. Apabila mereka melakukan ketaatan, maka mereka tidak berharap pahala, sebab mereka tidak menganggap itu sebagai perbuatan diri mereka. Apabila berbuat kesalahan, maka itu sudah ada yang menanggung. Mereka hanya melihat Allah dalam kesusahan dan kelapangan. Berdiri tegak hanya dengan Allah. Yang dilihat hanya Allah. Takutnya hanya kepada Allah. Harapannya adalah bersenang-senang dengan Allah.”

Sedangkan orang lain yang bukan arif keadaannya berbeda. Mereka masih selalu bersama diri mereka dalam menisbatkan amal. Apa yang dilakukan dirinya dari amal taat dianggap dari diri mereka. Mereka meminta keuntungan (pahala) atas amal tersebut. Mereka mengandalkan amal itu dan merasa tentram dengan keadaan mereka.

Apabila mereka jatuh dalam kesalahan, maka harapannya kepada Allah berkurang. Sebagaimana jika mereka melakukan ketaatan, maka mereka menganggap itu sebagai bekal dan andalan mereka yang besar. Harapan mereka kepada Allah bertambah.

Orang yang menemukan tanda ini pada dirinya maka sebaiknya ia tahu kedudukan dirinya dan jangan malampaui ukuran derajatnya, lalu mengaku-ngaku telah mencapai kedudukan orang-orang khusus dari Al-Muqarrabin (para auliya). Padahal ia masih golongan awam Ashabul yamin.

Orang yang bergantung kepada amal, berarti tauhidnya kepada Allah belum murni. Sebab, ia masih mengandalkan sebab. Ia tidak bergantung kepada Allah. Dengan begitu, maka ia menuai kepayahan dalam beribadah gara-gara mengandalkan amalnya.

Andai ia sirna dari memandang dirinya dan amalnya, maka ia akan istirahat dari kepayahan. Ia akan bebas dari kepayahan. Untuk mencapai itu harus ada Syeikh (guru) yang sempurna yang bisa mengeluarkannya dari kepayahan diri menuju kesenangan melihat Allah. Guru yang sempurna adalah yang meringankan bebanmu dan membuatmu istirahat dari kepayahan, bukan yang membuatmu payah. Siapa yang menunjukkanmu untuk beramal maka ia membuatmu lelah karena ibadah saja. Siapa yang menunjukkanmu terhadap dunia maka ia menipumu. Siapa yang menunjukkan kepada Allah maka ia benar-benar menasehatimu.

Lalu bagaimana kalau tidak menemukan guru yang sempurna itu? Maka, seperti kata Habib Abdullah Al-Haddad, harus ada kesungguhan dalam menempuh jalan Allah, sebab kesungguhan adalah sebaik-sebaik kendaraan menuju Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *