Tanamlah Dirimu di Tanah Kehinaan

Amal Adalah Kerangka, Jiwanya Adalah Keikhlasan
Aug 30, 2018
Uzlah Disertai Tafakkur Adalah Obat Hati Paling Manjur
Sep 2, 2018

ادْفِنْ وجودَك في أرضِ الخمولِ فما نَبَتَ مما لم يُدْفَنْ لا يَتِمُّ نَتَاجُه

Tanamlah dirimu di tanah kerendahan, sebab sesuatu yang tumbuh dari yang tidak ditanam tidak sempurna hasil buahnya.

KHUMUL (menutupi keistimewaan diri) adalah lawan dari Syuhrah (kemasyhuran)

Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi seorang murid yang bersuluk daripada kemasyhuran dan terkenal di tengah masyarakat. Sebab, kemasyhuran itu adalah keinginan yang utama bagi hawa nafsu. Kita diperintah oleh agama untuk memerangi hawa nafsu itu,

Kemasyhuran berlawanan dengan sifat ubudiah. Ibrahim bin Adham mengatakan, “Orang yang suka kemasyhuran tidak sungguh-sungguh menghadap Allah.” Artinya, orang itu tidak benar-benar ikhlas beribadah kepada Allah. Seharusnya, seorang mukmin menyembah dan beribadah kepada Allah secara murni karena ingin meraih keridhaan Allah, bukan untuk dikenal atau mendapat kedudukan di tengah masyarakat.

Banyak bahaya yang timbul dari kemasyhuran dan kedudukan di tengah masyarakat. Kemasyhuran bisa membuat seseorang sombong, berubah niat dan keikhlasannya. Habib Abdullah Al-Haddad menyatakan bahwa kedudukan itu bagaikan racun dan disenangi oleh manusia. Ahli hikmah mengatakan: “Khumul adalah suatu kenikmatan, tetapi nafsu menolaknya. Sedangkan kemasyhuran adalah kesengsaraan, tetapi nafsu menyukainya.”

Seorang sufi berkata :

الظُّهُوْرُ قَصْمُ الظُّهُوْرِ

“Kemasyhuran memutus punggung.”

Wali-wali bersepakat bahwa mereka tidak suka kemasyhuran. Mereka lebih senang khumul daripada kemasyhuran. Mereka pandai menyimpan rahasia dan keistimewaan mereka. Mereka tidak mencari-cari kemasyhuran atau dapat pengaruh. Namun kalau kemasyhuran itu datangnya dari Allah maka mereka ridha dengan takdir dan pilihan Allah. Nabi Muhammad dijadikan oleh Allah berpengaruh luas di dunia dan akhirat. Itu semua datangnya dari Allah, bukan dibuat-buat.

Sorang sufi mengatakan, “Tarekat kami tidak cocok kecuali kepada golongan yang mau menyapu sampah dengan ruh mereka.”

Ada seseorang minta wasiat kepada Bisyr bin Al-Harits. “Sembunyikan namamu dan harumkan makananmu,” wasiat Bisyr kepada orang itu. Ia menasehati orang itu untuk menutup keistimewaannya dan makan dengan makanan yang halal.

Arti kata hikmah ini ialah; Hai murid, tutupilah keistimewaan dirimu di tanah kerendahan sampai engkau merasakan manisnya lebih manis dari madu dan kemasyhuran terasa pahit bagi dirimu lebih pahit dari handhol (buah yang sangat pahit). Apabila dirimu sudah tertanam di tanah kerendahan dan kuat memanjang akar-akarnya di dalam tanah, maka ketika itu engkau akan memetik buah keikhlasanmu itu dan sempurna hasilnya, yaitu engkau akan menggapai maqam khawashul Khawash.

Kalau tidak engkau tanam dan malah engkau mengobralnya diatas kemasyhuran, maka pohonnya akan mati dan buahnya akan berguguran. Disaat orang-orang arif memetik apa yang mereka tanam di taman makrifat mereka dari ilmu dan hikmah, maka dirimu tidak memiliki apa-apa.

Nabi Isa bertanya kepada murid-muridnya, “Di mana tumbuhnya biji-bijian?”

“Di dalam tanah,” jawab mereka.

“Begitu pula hikmah tidak akan tumbuh kecuali di hati yang seperti tanah, “ ucap Nabi Isa. Hati yang seperti tanah maksudnya hati yang rendah hati (tawadhu’), merasa hina dan menutup dirinya.

Banyak cara untuk berkhumul dan menghilangkan kesombongan. Ada yang berpakaian compang camping. Salah satunya Uwais Al-Qarani. Kisah Uwais Al-Qarani yang khumul sangat terkenal. Ia menanam keistimewaannya dan menyembunyikannya dari manusia. Sampai-sampai kuburannya pun hilang ditelan bumi. Akhirnya, Rasulullah yang membongkar keistimewaannya. Rasulullah menyatakan bahwa Uwais adalah sebaik-baik golongan tabiin. Ia memberi syafaat manusia sebanyak kabilah Rabiah dan Mudhor.

Mengenai orang yang berpakaian compang-camping, Rasulullah memberi isyarat dengan sabdanya:

رُبَّ أَشْعَثَ أَغْبَرَ ذِي طِمْرَيْنِ تَنْبُو عَنْهُ أَعْيَنُ النَّاسِ , لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرَّهُ

ada seorang yang berambut awut-awutan, berdebu badannya, berpakaian compang-camping, tidak dihiraukan manusia, andai ia bersumpah kepada Allah maka Allah membenarkan sumpahnya.” (HR. Hakim dan juga diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim)

Sahabat Nabi Anas bin Nadhr adalah salah satu hamba Allah yang apabila bersumpah atas nama Allah, maka sumpahnya akan menjadi kenyataan. Pada suatu ketika saudarinya yang bernama Rubayyi’ binti Nadhr mematahkan gigi seorang perempuan muda. Keluarga rubayyi’ meminta maaf kepada wanita itu. Si korban menolak. Ia tetap menuntut qishas (gigi dibalas gigi). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memutuskan untuk mengqhisas Rubayyi’. Anas bin Nadhr datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

“Ya Rasulallah, apakah akan dipecahkan giginya Rubayyi’? Tidak akan, Demi Allah yang mengutusmu dengan membawa kebenaran,” ucap Anas.

“Wahai Anas, ini sudah keputusan Allah dalam kitab-Nya, yaitu qhisas,” sabda Rasulullah. Tiba-tiba wanita dan keluarganya rela dan memaafkan Rubayyi’. Maka qhisas tidak jadi dilaksanakan. “Sesungguhnya ada hamba Allah yang apabila bersumpah atas nama Allah, maka Allah membenarkan sumpahnya,” sabda Rasulullah kemudian.

Ada seorang wali yang menutup keistimewaannya dengan pura-pura mencuri pakaian di sebuah pemandian umum. Ia masuk ke pemandian umum dan memakai pakaian seorang pengunjung yang ditaruh di pinggir pemandian. Ia berjalan dengan pura-pura bingung berkeliling di sekitar pemandian itu agar ditangkap oleh orang yang melihatnya. Akhirnya ia ditangkap dan dijuluki dengan pencuri pemandian. Ia senang dengan julukan itu.

Ada yang menutup diri dengan berkata-kata kotor, makan dengan lahap atau perbuatan lain agar tidak disukai masyarakat. Tetapi bagi ulama, seperti kata Imam Ghazali, tidak boleh memakai cara-cara yang tidak baik seperti telanjang, pura-pura mencuri agar tidak ditiru oleh masyarakatnya. Pakailah cara yang lain seperti dengan melatih diri menghormati murid-muridnya, menemui tamunya dengan duduk menghormati mereka, atau dengan cara tidak suka dihormati oleh orang lain.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *