Tak Pantas, Beribadah Karena Surga Dan Neraka

Dijadikan Ahli Taat Sudah Cukup
Oct 2, 2019
Allah Memberi, Berarti Menunjukkan Kemurahan-Nya, Kalau Tidak, Berarti Menunjukkan Kekuasan-Nya.
Oct 15, 2019

مَنْ عَبَدَهُ لِشَيْءٍ يَرْجُوْهُ مِنْهُ أَوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُوْدَ الْعُقُوْبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ

Siapa yang beribadah kepada Allah karena mengharapkan sesuatu atau untuk menolak datangnya siksa kepada orang itu, maka ia belum menunaikan hak kewajibannya terhadap sifat-sifat Allah.

 

MANUSIA dalam keikhlasannya beribadah kepada Allah terbagi dalam tiga tingkatan:

Pertama, beribadah kepada Allah karena takut pada siksa Allah di dunia atau di akhirat, atau karena mengharap rahmat dan penjagaan Allah baik di dunia atau di akhirat. Singkatnya, ia mengharap surga dunia dan surga akhirat, dan takut dari neraka dunia dan neraka akhirat. Ini Ibadahnya kebanyakan orang muslim (Awamul Muslimin). Ini dinyatakan dalam hadits Nabi:

لَوْلَا النَّارُ مَا سَجَدَ للهِ سَاجِدٌ

“Seandainya bukan karena api neraka maka tidak ada orang yang sujud kepada Allah.”

Hadits di atas menyatakan bahwa kebanyakan manusia menyembah Allah karena takut api neraka.

Kedua, beribadah karena cinta kepada Allah dan rindu bertemu Allah, bukan karena takut pada neraka atau mengharap surga. Ini adalah tingkatan para pecinta yang rindu kepada Allah dari orang-orang yang menempuh jalan Allah (Al-Muhibbun Al-Asyiqun minassairin)

Ketiga, beribadah karena melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba (wadhaif ubudiah) dan beradab dengan keagungan ketuhanan Allah (Adhamat Rububiah). Ia hamba dan Allah Tuhannya. Ini adalah tingkatan para pecinta yang makrifat kepada Allah (Al-Muhibbun Al-Arifun).

Ibadah tingkatan pertama, beribadah karena kepentingan diri sendiri dengan mengharap pahala dan terhindar dari siksa adalah ibadah yang tercemar dan ibadah yang tidak sehat. Ini bukan pekerjaan orang yang pintar dan orang yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadahnya. Sebab, hak Allah itu besar terhadap manusia. Orang yang melakukan ibadah karena tujuan pahala atau menolak siksa berarti belum melaksanakan hak Allah. Manusia, sebagai seorang hamba, punya kewajiban kepada Allah. Tetapi Allah, Tuhan yang memiliki hamba itu, tidak punya kewajiban kepada manusia. Kenapa manusia lantas menuntut balasan dari Allah, padahal semua amal ibadah itu datangnya dari Allah.

Maka seharusnya seorang hamba itu beramal semata karena Allah, beribadah untuk mengagungkan Allah. Tidak mengharapkan keuntungan di dunia atau di akhirat. Kalau tidak seperti itu berarti ia tidak benar-benar melaksanakan hak kewajibannya kepada Allah. Ini semua timbul dari kebodohan dan kelalaian dirinya.

Sahal bin Abdullah At-Tusturi berkata: “Matahari tidak terbit dan tidak terbenam kepada seseorang di permukaan bumi ini kecuali mereka semua bodoh terhadap Allah, terkecuali orang yang mengutamakan Allah atas dirinya, jiwanya, dunianya dan akhiratnya.”

Disebutkan dalam kitab Nabi Dawud bahwa Allah berfirman kepadanya: “Sesungguhnya orang yang paling Aku cintai adalah orang yang menyembah Aku bukan karena ingin pemberian. Tetapi ia menyembah Aku karena Aku memang pantas disembah.”

Wahab bin Munabbih menukil, dalam kitab Zabur disebutkan: “Siapakah yang lebih dhalim dari orang yang menyembah Aku karena surga atau neraka. Andai Aku tidak menciptakan surga dan neraka tidakkah Aku pantas untuk disembah.”

Disebutkan dalam Kitab Nabi Isa bahwa Nabi Isa bersabda: “Apabila engkau melihat orang yang bertakwa mabuk cinta mencari Tuhan, maka berarti orang itu lupa dari yang lain.”

Nabi Isa lewat bertemu sekelompok orang yang ahli ibadah. Mereka terbakar dari banyaknya ibadah seperti wadah air yang rusak.

“Siapa kalian?” Isa bertanya kepada mereka.

“Kami adalah hamba-hamba Allah,” jawab mereka. “Untuk apa kalian beribadah kepada Allah?”

“Allah menakut-nakuti kami dengan api neraka-Nya. Maka kami takut dari api neraka itu.”

“Pasti Allah akan mengamankan kalian dari apa yang kalian takuti,” ucap Nabi Isa kepada mereka.

Nabi Isa terus berjalan melewati mereka. Ia bertemu dengan sekelompok orang yang lebih hebat ibadahnya dari kelompok sebelumnya.

“Untuk apa kalian beribadah?” Nabi Isa bertanya kepada sekelompok orang itu.

“Allah menginginkan bagi kami surga dan apa yang dijanjikan Allah di surga untuk para kekasih-Nya. Kami mengharap itu,” jawab mereka.

“Pasti Allah memberi kalian apa yang kalian harapkan,” ujar Nabi Isa.

Nabi Isa terus berjalan melewati mereka. Ia bertemu sekelompok orang yang beribadah kepada Allah.

“Siapa kalian?”

“Kami adalah orang-orang yang cinta kepada Allah. Kami menyembah-Nya bukan karena takut neraka atau mengharap surga. Tetapi kami beribadah karena cinta kepada Allah dan mengagungkan keagungan Allah,” jawab mereka kepada Nabi Isa.

“Kalian adalah kekasih-kekasih Allah yang sebenarnya. Aku diperintahkan untuk tinggal bersama kalian,” ujar Nabi Isa kepada mereka. Maka Nabi Isa tinggal bersama mereka.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Isa berkata kepada kelompok pertama dan kedua, “Kalian hanya takut kepada makhluk. Dan kalian hanya mengharapkan makhluk.” Sedangkan kepada kelompok terakhir Nabi Isa berkata, “Kalian adalah Al-Muqarrabun.”

Abu Hazim Al-Madani berkata: “Aku malu kepada Tuhanku untuk menyembah-Nya karena takut siksaan. Kalau begitu berarti aku seperti budak yang buruk, kalau tidak ditakut-takuti, tidak bekerja. Dan aku malu beribadah kepada Allah karena mengharap pahala. Maka aku seperti buruh yang buruk, kalau tidak diberi upah tidak akan bekerja.”

Syeikh Abu Thalib Al-Makki menyatakan bahwa ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang sesuai dengan hal ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يَكُنْ أَحَدُكُمْ كَالْعَبْدِ السُّوْءِ, إِنْ خَافَ عَمِلَ, وَلَا كَالْأَجِيْرِ السُّوْءِ إِنْ لَمْ يُعْطَ الْأَجْرَ لَمْ يَعْمَلْ

“Janganlah seorang dari kalian seperti hamba yang buruk. Bila takut ia bekerja. Dan jangan seperti buruh yang buruk. Bila tidak diberi upah tidak mau bekerja.”

Abu Thalib Al-Makki meriwayatkan tentang Rabi’ah Al-Adawiyah, seorang wali perempuan yang dikenal cintanya kepada Allah. Sufyan Ats-Tsauri duduk di hadapannya bagai seorang murid di hadapan gurunya. Sufyan berkata kepada Rabi’ah:

“Ajarilah aku dari apa yang diajarkan Allah kepadamu dari ilmu-ilmu hikmah yang indah.”

“Sebaik lelaki adalah engkau, andaikan engkau tidak suka dunia,” nasihat Rabi’ah kepadanya. Sufyan mengakui perkataan Rabi’ah. Sufyan adalah seorang alim yang zuhud. Hanya saja ia sibuk dengan mengajar hadits dan suka bergaul dengan manusia. Maksudnya, apa yang dilakukan Sufyan dari mengajar dan bertemu dengan manusia bisa membawa manusia tertarik kepada dunia. Dengan banyak dihormati manusia, hati bisa berubah”.

Lantas bagaimana dengan orang yang memohon surga dan berlindung dari api neraka? Rasululullah shallallahu alaihi wasallam juga berlindung dari api neraka dan memohon surga.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ: «كَيْفَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ»،

قَالَ: أَتَشَهَّدُ وَأَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ أَمَا إِنِّي لَا أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلَا دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ»

“Nabi bertanya kepada seorang sahabatnya: “Apa yang kau baca ketika shalat?”

“Aku baca tasyahhud dan berdoa ‘Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu surga dan berlindung kepada-Mu dari neraka’. Sungguh aku tidak bisa meniru ocehan doamu dan ocehan doa Muadz,” ucap sahabat itu kepada Nabi. “Kami juga mengoceh (berdoa) seperti itu,” kata Nabi.” (HR. Abu Dawud)

Akan tetapi memohon surga bukan berarti meminta balasan atas amal yang dilakukan. Tetapi karena surga adalah tempat pertemuan dengan Allah. Dialah (Allah) yang dituju, bukan surganya.

Walhasil, marilah kita tingkatkan keikhlasan ke tingkat yang lebih tinggi. Ini tidak sukar. Hanya dengan mengarahkan niat kita. Beribadah bukan karena takut kepada makhluk seperti neraka atau untuk mendapatkan makhluk seperti surga. Beribadah semata karena Allah, bersyukur kepada Allah dan cinta kepada-Nya. Beribadah karena memang Allah pantas untuk disembah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *