Tak Benar-Benar Beribadah, Orang Yang Ingin Keistimewaannya Dikenal

Riya’ Bisa Masuk Dalam Kesunyian
Aug 12, 2020
Pedulikan Allah, Hilangkan Perhatian Manusia
Sep 5, 2020

اِسْتِشْرَافُكَ اَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِى عُبُوْدِيَّتِكَ

Keinginanmu supaya orang mengetahui keistimewaanmu adalah sebuah bukti tidak adanya kesungguhanmu dalam beribadah kepada Allah.

 

SEHARUSNYA, bila seseorang memiliki keistimewaan berupa ilmu yang bermanfaat atau amal saleh maka ia merasa puas dengan ilmu Allah. Ia ingin hanya dilihat oleh Allah walaupun tidak dilihat oleh orang lain. Merasa puas dengan hanya dilihat Allah adalah ubudiah yang sebenarnya. Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

“Bukankah cukup dengan Tuhanmu, Dia menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat : 53)

Akan tetapi, bila ia berkeinginan ilmunya atau amal ibadahnya dilihat orang, suka menonjolkannya kepada orang lain, maka hal tersebut menunjukkan bahwa ia tidak betul-betul beribadah kepada Allah. Ia tidak ikhlas dalam ibadahnya dan niatnya tidak murni mencari ridho Allah. Jelas sekali bahwa orang itu kemasukan riya’, sebagaimana dijelaskan dalam ucapan ahli tasawuf di bawah ini.

Syeikh Abu Abdillah Al-Qurosyi mengatakan: “Orang yang tidak merasa puas dalam perbuatan dan perkataannya dengan pendengaran dan penglihatan Allah maka sudah pasti ia kemasukan riya’.” Abul Khair Al-Aqtha’ berkata: “Orang yang senang amalnya dilihat orang, maka ia adalah orang yang riya’. Orang yang suka hal keistimewaannya diketahui orang lain, maka ia adalah pembohong.”

 

Rahasiakan Selagi Bisa

Oleh karena itu, seseorang itu harus berusaha sekuat tenaga untuk merahasiakan amalnya agar lebih aman dan selamat dari riya’. Sebab inilah, amal sir (amal yang dirahasiakan) lebih utama tujuh puluh kali lipat dari amal yang dilakukan di depan orang lain, seperti disebutkan dalam hadits.

Nabi Isa mengajarkan cara menyembunyikan amal. Nabi Isa pernah berkata : “Jika seseorang dari kalian berpuasa maka hendaknya rambutnya diminyaki, bibirnya dibasahi, agar jika ia keluar, orang yang melihatnya menyangkanya tidak puasa. Apabila seseorang dari kalian memberi, maka berilah dengan tangan kanannya dan sembunyikan dari tangan kirinya. Kalau seseorang shalat maka tutuplah tabir pintu rumahnya, sebab Allah membagi pujian sebagaimana membagi rizki.”

Seorang sufi berwasiat kepada orang yang meminta nasihat kepadanya, “Janganlah kamu suka dikenal. Dan jangan kamu suka orang mengetahui bahwa engkau tidak suka dikenal.”

Anjuran untuk menyimpan keistimewaan diri ini telah diutarakan dalam kata hikmah Ibnu Athaillah yang lain yang berbunyi:

اِدْفِنْ وُجُوْدَكَ فِى اَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نَتَاجُهُ

“Tanamlah dirimu di tanah kehinaan, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam tidak menghasilkan buah yang baik.”

Menyembunyikan amal dan merahasiakan keistimewaan diri telah dilakukan dengan sekuat tenaga oleh para salaf dahulu. Mengenai hal ini, Hasan Al-Basri berkata: “Aku mendapatkan orang-orang yang berusaha sedapat mungkin menyembunyikan amalnya. Aku mendapatkan seorang ahli fiqih, ia duduk di sebuah majlis, tapi tidak ada orang yang mengetahuinya sampai ia berdiri. Aku dapatkan seseorang didatangi tamu, lalu ia beribadah melakukan shalat, tapi tamunya tidak tahu. Aku dapatkan orang-orang yang membaca Al-Qur’an seluruhnya dan tetangganya tidak tahu. Ada pula orang-orang yang giat berdoa tapi tidak seorangpun mendengarnya.”

Muhammad bin Wasi’ juga menceritakan pengalamannya: “Aku pernah mendapatkan sekelompok orang yang kepalanya sebantal dengan istrinya, di bawah pipinya basah karena air matanya, tapi istrinya tidak merasakan hal itu. Aku pernah mendapatkan orang yang berdiri di shof, air matanya mengalir ke pipinya, tapi orang yang di sampingnya tidak mengetahuinya. Ada pula yang selama dua puluh tahun sering menangis -karena takut kepada Allah- tapi istrinya tak pernah tahu.”

 

Bila Terpaksa, Ini Caranya

Kalau memang terpaksa amal ibadah itu tampak kepada orang lain maka hendaklah ia selalu mengawasi dan menjaga hatinya. Berusahalah dengan sekuatnya untuk tidak merasa gembira amalnya dilihat orang. Sebab bila ia lalai dalam mengawasi hatinya, maka dikhawatirkan ia merasa bangga dengan amalnya sehingga jatuhlah ia ke dalam fitnah. Walaupun ia memiliki pendirian yang kuat dan menempuh jalan makrifat, janganlah merasa aman bahwa ia bisa selamat. Bisa jadi, dengan merasa aman itu, ia akan jatuh dari kesempurnaan dan tergeser dari kedudukannya.

 

Orang Yang Boleh Menampakkan Amal

Orang yang sudah makrifat kepada Allah dan hanya melihat keesaan Tuhan semata boleh menampakkan amal dan keistimewaannya sebagai rasa syukur kepada Allah, karena mereka tidak terpengaruh oleh selain Allah dan yang mereka lihat hanya Allah. Di mata mereka, semua selain Allah tidak ada, baik amal mereka ataupun diri mereka sendiri.

Pada suatu pagi hari, sebagian dari salaf menceritakan bahwa tadi malam ia telah melakukan shalat sekian rakaat dan membaca sekian surat Al-Qur’an. Ada seseorang yang berkata kepadanya, “Tidakkah kau takut riya’?” Ia menjawab, “Celaka kalian. Apakah ada orang yang riya’ dengan amal yang dilakukan oleh orang lain?”

Ada pula yang ditegur karena ia menceritakan amalnya dengan teguran, “Kenapa engkau tidak menyembunyikannya?” Ia menjawab, “Tidakkah Allah berfirman:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Adapun dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.” (QS. Adh-Dhuha : 11)

Akan tetapi kalian malah berkata, “Jangan ceritakan!”

Memang, mereka, para wali, pada permulaannya berusaha untuk menyembunyikan keistimewaan mereka dan menjauh dari manusia agar lebih selamat. Namun bila keyakinan mereka sudah mantap dan sudah fana kepada Allah, maka mereka pasrah kepada Allah. Mereka ridho terhadap pilihan Allah. Ada yang ditampakkan agar memberi petunjuk kepada manusia dan adapula yang disembunyikan.

Kalaupun ada wali yang masyhur, maka itu bukan karena ia ingin dikenal atau mencari kemasyhuran. Tapi Allah-lah yang menampakkannya kepada manusia. Allah menangani urusannya dan memberinya kekuatan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Samuroh:

لَا تَطْلُبِ الْإِمَارَةَ, فَإِنَّكَ اِنْ اُعْطِيْتَهَا عَلَى غَيْرِ مَسْئَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَاِنْ اُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْئَلَةٍ وُكِّلْتَ اِلَيْهَا

“Janganlah engkau mencari jabatan, sebab bila engkau diberi jabatan tanpa meminta, maka engkau ditolong oleh Allah. Tapi bila engkau diberi dengan meminta, maka engkau dibebani oleh Allah dengan jabatan itu.

Maka hamba Allah yang sebenarnya adalah orang yang kehendaknya terserah kepada pilihan Allah. Sebab, sebagaimana yang dikatakan oleh Abul Abbas Al-Mursi, orang yang ingin terkenal maka dia adalah budak dari ‘terkenal’ dan orang yang suka tersembunyi maka dia adalah budak dari “tersembunyi”, sedangkan hamba Allah ialah orang yang berserah diri kepada Allah, terkenal ataupun tersembunyi.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *