Tahu Nilai Kenikmatan Setelah Nikmat Lenyap

Gelap Datang Biar Tahu Nilai Terang
Feb 4, 2021
Nafsu Meresap Di Hati, Itu Penyakit Berat !
Feb 24, 2021

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَ النِّعَمِ بِوِجْدَانِهَا عَرَّفَهَا بِوُجُوْدِ فُقْدَانِهَا

Siapa yang tidak mengenal nilai kenikmatan ketika adanya kenikmatan itu maka ia akan mengetahuinya setelah tidak adanya kenikmatan tersebut.

 

KEBANYAKAN manusia tidak mengerti besarnya nilai sebuah kenikmatan kecuali setelah kenikmatan tersebut hilang darinya. Sebab, kebanyakan manusia lalai di saat mendapatkan kenikmatan.

Misalnya, ketika dalam keadaan sehat, orang banyak lalai tentang besarnya nilai kesehatan. Barulah ia menyadarinya setelah ia jatuh sakit. Ketika kaya, biasanya, orang tenggelam dalam kelalaian. Ia tidak mengerti dan mensyukuri nikmat kekayaan tersebut. Ia baru menyadarinya setelah Allah mencabut kekayaan itu darinya.

Dikatakan, “Kenikmatan-kenikmatan Allah itu tidak diketahui. Baru disadari setelah kenikmatan itu lenyap.”

“Sesungguhnya yang tahu nilai air adalah orang yang kehausan di tengah padang pasir, bukan orang yang tinggal di tepi sungai yang mengalir.”

“Seorang anak yang durhaka kepada ayahnya dan selalu menantangnya akan menyadari arti ayahnya di hari sang ayah meninggal dunia.”

Orang yang tidak menghargai dan mensyukuri sebuah kenikmatan, maka nikmat itu akan dicabut darinya.

Sariy As-Saqathi berkata: “Siapa yang tidak menghargai kenikmatan, maka kenikmatan itu akan dicabut darinya dalam keadaan ia tidak tahu.”

Fudhail bin Iyadh berkata: “Tetaplah kamu selalu mensyukuri kenikmatan. Sebab, jarang kenikmatan yang pergi dari sebuah golongan akan kembali lagi.”

Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu berkata:

اِذَا كُنْتَ فِى نِعْمَةٍ فَارْعَهَا        فَإِنَّ الْمَعَاصِيَ تُزِيْلُ النِّعَم

Bila engkau dalam kenikmatan, jagalah kenikmatan itu

Karena maksiat (tidak bersyukur) itu menghilangkan kenikmatan.

Mengenal kenikmatan itu sangat penting. Sebab, orang yang mengenal kenikmatan akan membesarkan dan menghormati kenikmatan itu. Lalu ia akan bergembira dengan nikmat itu. Orang yang bergembira dengan kenikmatan, maka ia akan mensyukuri kenikmatan itu. Dengan mensyukuri kenikmatan, maka Allah akan menambah kenikmatan itu dengan berbagai kenikmatan yang bertubi-tubi.

Seorang shalih berdoa:

اللّهُمَّ عَرِّفْنَا نِعْمَتَكَ بِدَوَامِهَا وَلَا تُعَرِّفْهَا بِزَوَالِهَا

“Ya Allah kenalkanlah kami dengan nikmat-Mu ketika nikmat itu masih ada. Janganlah Engkau kenalkan kepada kami nikmat-Mu setelah nikmat itu hilang.”

Seorang murid meminta kepada Syeikh Abul Abbas Al-Mursi agar ia mendoakannya. Abul Abbas Al-Mursi berkata:

اَسْأَلُ اللهَ اَنْ يُعَرِّفَكَ نِعَمَهُ

“Aku memohon kepada Allah agar Allah mengenalkanmu kepada nikmat-nikmat-Nya.”

Murid itu tidak paham maksud doa Abul Abbas Al-Mursi. Ia menginginkan untuk didoakan seperti mendapat sehat wal afiat dan keinginan manusia pada umumnya.

Abul Abbas Al-Mursi berkata: “Aku memohon kepada Allah agar Allah mengenalkanmu kepada nikmat-nikmat-Nya. Sebab bila seorang hamba mengetahui nikmat-nikmat Allah, baik yang kecil atau yang besar, maka ia akan membesarkannya. Bila ia membesarkan kenikmatan itu, maka ia akan menghormatinya. Jika ia menghormatinya, maka ia akan bergembira dengan kenikmatan tersebut. Apabila ia bergembira, maka ia akan mensyukurinya. Bila ia mensyukuri kenikmatan, maka Allah akan menambah kenikmatan tersebut dengan kenikmatan, kesehatan, afiat yang terus menerus dan bertubi-tubi. Sebab, Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka sungguh Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim : 7)

 

Cara Agar Bisa Bersyukur

Karena banyaknya orang yang tidak mengenal nilai kenikmatan kecuali setelah nikmat itu lenyap dan banyak orang yang menyia-nyiakan syukur, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk melihat kepada orang yang di bawah kita supaya kita tidak meremehkan nikmat Allah. Orang yang beruntung adalah orang yang dapat peringatan dari orang lain.

Dalam hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

انْظُرُوا اِلَى مَنْ اَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا اِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ اَجْدَرُ اَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang di bawah kalian, janganlah melihat kepada orang yang di atas kalian. Demikian itu lebih tepat agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Muslim)

Syeikh Abu Hamid bercerita bahwa ada seorang Sufi yang melatih dirinya bersyukur. Setiap hari si sufi ini keliling ke rumah sakit, ia melihat orang-orang sakit dan derita yang mereka rasakan. Ia juga berkunjung ke penjara melihat para tawanan yang menghadapi berbagai siksaan karena perbuatannya. Ia juga berziarah ke kuburan melihat orang-orang yang menangisi kematian orang yang dicintai, padahal yang mati sedang sibuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Lalu si Sufi itu mengambil pelajaran dan pulang ke rumahnya. Sepanjang hari ia bersyukur kepada Allah yang telah menyelamatkan dirinya dari berbagai musibah yang ia lihat.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *