Sinar Mata Hati, Mata Hati, Dan Hakikat Mata Hati

Lebih Baik Berteman Si Bodoh Pelawan Nafsu Daripada Si Alim Pengumbar Nafsu
Nov 6, 2018
Jangan pernah berniat meminta kepada selain Allah
Nov 21, 2018

شُعَاعُ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ وَعَيْنُ الْبَصِيْرَةِ تُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُوْدِهِ وَحَقُّ الْبَصِيْرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُوْدَهُ لَا عَدَمَكَ وَلَا وُجُوْدَكَ

Sinar mata hati memperlihatkan betapa dekatnya Allah denganmu. Mata hati memperlihatkan ketiadaan dirimu karena wujudnya Allah. Kebenaran mata hati dapat menunjukkan kepadamu adanya Allah, bukan ketiadaanmu dan bukan wujudmu.

 

IBNU Athaillah menyebutkan bahwa ada tiga kedudukan.

Pertama, Syua’ul Bashirah (Sinar Mata Hati). Sinar mata hati ini adalah cahaya akal. Orang yang memiliki sinar mata hati merasakan betapa dekatnya Allah dengan dirinya, Seperti firman Allah:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Allah selalu bersama kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadi lehernya.” (QS. Qaf: 16)

Maka orang-orang yang berakal melihat dengan cahaya akalnya bahwa dirinya ada, tetapi mereka merasa bahwa Allah sangat dekat dengan mereka dengan ilmu-Nya dan pengawasan-Nya. Ia merasa, “Saya ada, Allah ada.” Ia masih belum bisa melupakan dirinya. Ini tingkatan kebanyakan manusia.

Otak orang ini bercahaya. Hatinya bercahaya. Kalau ia tidak punya sinar mati hati, maka ia tidak punya perasaan seperti itu.

Kedua, Ainul Bashiroh (Mata Hati). Ini adalah cahaya ilmu. Ulama dengan cahaya ilmunya melihat bahwa dirinya tidak ada karena melihat wujudnya Allah. Tentu yang dimaksud adalah ulama yang mengamalkan ilmunya, bukan ulama yang jahat. Ulama yang tidak mengamalkan ilmunya tidak memiliki cahaya ilmu.

Ketiga, Haqqul Bashiroh (Hakikat Mata Hati) adalah Nurul Haq (cahaya ilahi). Ahli Hakikat dengan cahaya Allah menyaksikan adanya Allah dan tidak melihat apapun disamping Allah. Ia hanya melihat Allah. Tidak melihat dirinya ada atau tidak ada, karena yang ia lihat hanya Allah.

“Tidak melihat selain Allah” artinya kurang memperhatikan alam sekitarnya dan dirinya. Mereka tidak melihat dirinya dan alam sekitarnya, karena alam ini tidak berdiri sendiri. Semuanya butuh kepada Allah. Semuanya adalah makhluk yang lemah. Lalu mereka kembali kepada Allah. Akhirnya, mereka malas dan lesu melihat alam dan dirinya. Karena semuanya tidak berguna apa-apa. Makanya, mereka kurang perhatian terhadap alam sekitarnya dan kepada dirinya. Akhirnya segala perhatiannya hanya kepada Allah.

Dalam salah satu syarah Hikam disebutkan bahwa:

Syuaul Bashiroh adalah cahaya Ilmul Yaqin.

Ainul Bashiroh adalah cahaya Ainul Yaqin.

Haqqul Bashiroh adalah cahaya Haqqul Yaqin.

Ketiga kedudukan ini dimisalkan dengan orang yang percaya bahwa di dunia ini ada kota yang bernama Mekkah padahal belum pernah melihatnya. Ini Ilmul Yaqin. Apabila sudah pernah melihat Mekkah tetapi belum masuk maka disebut Ainul Yaqin. Apabila ia masuk ke kota Mekkah, menginjakkan kakinya di sana sampai melihat Ka’bah maka disebut Haqqul yaqin.

Haqqul Yaqin merupakan keadaan paling tinggi di mana seluruh hati menjadi mata hati. Keadaan ini diminta oleh Nabi dalam doanya dalam riwayat Imam Bukhori:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ يَسَارِي نُورًا، وَفَوْقِي نُورًا، وَتَحْتِي نُورًا، وَأَمَامِي نُورًا، وَخَلْفِي نُورًا، وَاجْعَلْ لِي نُورًا

“Ya Allah, jadikan di hatiku cahaya, di mataku cahaya, di pendengaranku cahaya, di kananku cahaya, di kiriku cahaya, di atasku cahaya, di bawahku cahaya, di depanku cahaya, di belakangku cahaya, dan jadikan untukku cahaya.”

Ada riwayat yang berbunyi:

وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا

“jadikan aku cahaya”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *