Sifat Asli Manusia: Selalu Membutuhkan Allah

Diciptakan Dan Dilengkapi Segala Kebutuhan
Nov 11, 2019
Saat Terbaik Dalam Hidupmu, Saat Engkau Butuh Allah
Nov 30, 2019

فَاقَتُكَ لَكَ ذَاتِيَةٌ وَوُرُوْدُ الْأَسْبَابِ مُذَكِّرَاتٌ لَكَ بِمَا خَفِيَ عَلَيْكَ مِنْهَا وَالْفَاقَةُ الذَّاتِيَةُ لَا تَرْفَعُهَا الْعَوَارِضُ

Kebutuhanmu adalah sifat asli dalam dzat kejadianmu, sedangkan kejadian-kejadian yang menimpa dirimu mengingatkan engkau apa yang samar darimu dari sifat aslimu itu, dan kebutuhanmu yang asli tidak bisa diangkat oleh hal-hal yang sifatnya sementara.

 

JIKALAU sudah nyata bahwa (nikmatul ijad) wujudmu itu adalah nikmat pemberian Allah dan (nikmatul imdad) kelangsungan hidupmu merupakan anugerah dari Allah, dan andaikata tidak ada itu engkau tidak pernah ada, maka dengan demikian menjadi jelaslah bahwa kebutuhan dan kemiskinan adalah sifat aslimu.

Tetapi kadang-kadang manusia lupa diri. Ia lupa dengan sifat aslinya disebabkan ia merasa cukup dengan apa yang ia miliki. Itu hal yang berlangsung sementara dan tidak akan menghilangkan sifat aslinya. Allah akan memberi peringatan kepada orang tersebut. Datangnya sebab-sebab dan kejadian-kejadian mengingatkannya terhadap apa yang samar dari sifat aslinya itu. Akhirnya ia mengingat kembali asal kejadiannya, yaitu selalu butuh kepada Allah.

Misalnya, seseorang yang merasa dirinya kaya dan bergelimang kenikmatan. Ia lupa dengan Allah. Namun Allah memberi peringatan kepadanya agar ia sadar kembali. Allah memberi orang itu penyakit. Kesempitan dalam masalah keuangan menimpanya. Maka Orang itu sadar dan mengingat sifat asli seorang manusia, tidak lepas dari kebutuhan kepada Allah dalam segala keadaan.

Sebenarnya, manusia selalu membutuhkan Allah dalam segala hal. Di kala sakit, sehat, miskin ataupun kaya ia tetap dalam kebutuhan kepada Allah.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai Manusia, kalian semua selalu butuh kepada Allah dan Allah Maha Kaya (tidak butuh sesuatu) dan Maha Terpuji. ” (QS. Fathir: 15)

Dalam keadaan afiat, kaya atau kehidupan yang nyaman pun manusia tetap butuh kepada Allah. Tetapi dalam keadaan seperti ini kebutuhannya kepada Allah menjadi samar. Hal seperti ini bisa membuat manusia lupa diri. Afiat yang sempurna dan kekayaan yang melimpah membuat Fir’aun mengaku menjadi Tuhan. Ia berkata:

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

“Aku adalah Tuhan kalian yang Maha Tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)

Fir’aun hidup selama empat ratus tahun tidak pernah merasakan sakit kepala, badan panas ataupun berkeringat. Keadaannya yang sempurna inilah yang mendorongnya mengaku menjadi Tuhan. Andai Fir’aun pernah merasa sakit sedikit saja seperti sakit kepala separuh atau panas badan, maka ia akan kembali kepada Allah dan tidak akan mengaku sebagai Tuhan. Barulah pada saat ia tenggelam di lautan ia kembali kepada Allah. Ia berkata, “Aku beriman dengan Tuhan Musa dan Harun.” Tetapi itu sudah terlambat. Iman Fir’aun tidak bermanfaat.

Oleh karena itu, para Shalihin lebih memilih keadaan yang sulit. Karena pada saat itu kebutuhannya kepada Allah sangat nyata.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *