Senang Jika Diberi, Sedih Jika Ditolak

Ahli Ibadah Takut Dipuji, Orang ‘Arif Senang Dipuji
Jun 9, 2020
Dosa Tidak Menjadi Halangan Untuk Ber-Istiqomah
Jun 17, 2020

مَتَى كُنْتَ اِذَا اُعْطِيْتَ بَسَطَكَ الْعَطَاءُ وَاِذَا مُنِعْتَ قَبَضَكَ الْمَنْعُ فَاسْتَدِلَّ بِذٰلِكَ عَلَى ثُبُوْتِ طُفُوْلِيَّتِكَ وَعَدَمِ صِدْقِكَ فِى عُبُوْدِيَّتِكَ

Apabila engkau jika diberi merasa senang dan jika ditolak merasa sedih, maka ketahuilah bahwa dirimu masih ada sifat kekanak-kanakan dan engkau belum bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah.

 

ORANG yang Arif (sempurna keimanannya), baginya pujian ataupun celaan, kenikmatan ataupun cobaan, semuanya adalah sama. Oleh karena itulah sedikitpun ia tidak terpengaruh dengan semua itu, sebab ia mengetahui bahwa yang memberikan itu semua adalah Allah azza wajalla.

Seseorang yang hatinya masih berubah-rubah dan tidak tetap, merasa senang bilamana diberi kenikmatan dan merasa sedih bilamana ditimpa musibah. Maka ketahuilah bahwa orang tersebut masih mempunyai sifat kekanak-kanakan dan ia pun belum termasuk dalam golongan orang-orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada Allah azza wa jalla (belum memiliki sifat ubudiyah yang sebenarnya) dan belum mengerti tentang kebijaksanaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Bahwa yang terbaik baginya adalah apa yang dipilihkan Allah untuknya.

Ibnu Athoillah mengumpamakan orang yang seperti itu dengan seseorang yang yang datang ke suatu jamuan makan tanpa diundang. Dalam bahasa Arab lazim disebut dengan ‘at-Thufailii’ (tamu yang datang tanpa diundang).

Artinya, ia mengaku-ngaku bahwa ia telah memiliki sifat ubudiyah yang sebenarnya dan termasuk dalam golongan orang-orang arif, padahal sebenarnya ia tidak memiliki sifat-sifat itu.

Hai murid! Bilamana engkau telah meraih cita-cita dan keinginanmu, berupa kekayaan, kemuliaan, pengaruh, kelapangan, kesehatan dan afiyat, lalu engkau merasa senang. Dan sebaliknya jika engkau tidak mendapatkan cita-cita dan keinginanmu, lalu engkau merasa sedih dan mengeluh. Maka ketahuilah bahwa dalam dirimu masih ada sifat kekanak-kanakan dan engkau belum mencapai tingkatan orang yang sempurna imannya (orang yang arif). Dan engkau belum pantas untuk menempati kedudukan itu.

Namun, jika engkau memaksa untuk menempati kedudukan itu berarti engkau adalah seorang ‘Thufailii’.

Dan sifat seperti ini yang terdapat dalam dirimu menunjukkan bahwa engkau belum sungguh-sungguh beribadah kepada Allah.

Sebab orang-orang yang sungguh-sungguh beribadah kepada Allah, bagi mereka kenikmatan dan cobaan, kelapangan dan kesempitan adalah sama. Orang-orang yang seperti inilah kekasih Allah yang sebenarnya.

Di antara mereka ada yang diberikan Allah kenikmatan berupa kekayaan. Dan di antara mereka ada yang ditimpakan kesusahan berupa kemiskinan. Namun mereka memandang itu semua sama, kerena mereka mengetahui bahwa semuanya itu datang dari Allah. Mereka mengerti bahwa semuanya itu mengandung banyak hikmah yang mereka tidak mengetahuinya. Apa yang diberikan Allah kepada mereka, itulah yang terbaik bagi mereka. Karena itulah mereka tidak membedakan kenikmatan dan cobaan.

Penyair mengatakan:

اَحِبَّائِـي اَنْتُمْ اَحْسَنَ الدَّهْرُ اَمْ اَسَا   ™     فَكُوْنُوْا كَـمَا شِئْتُمْ اَنَا ذٰلِكَ الْخِلُّ

Kalian adalah kekasihku baik ditimpa musibah ataupun mendapatkan kenikmatan

Lakukanlah apa yang kalian mau, Aku-Iah kekasih itu

Abu Utsman al-Hairi mengatakan :

لَا يَكْمُلُ الرَّجُلُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَلْبُهُ فِى اَرْبَعِ اَشْيَاءَ : فِى الْمَنْعِ وَالْعَطَاءِ وَالْعِزِّ وَالذُّلِّ

“Seseorang belum sempurna (imannya) sehingga sama dalam hatinya empat macam : Penolakan dan pemberian, kemuliaan dan kehinaan.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *