Selalu Bersandar Kepada-Nya, Selalu Merasa Sebagai Hamba

Kehinaan yang Tidak Berujung Kemuliaan yang Tidak Ada Batas
Apr 6, 2020
Mengakui Miliknya Allah
Apr 13, 2020

كُنْ بِأَوْصَافِ رُبُوْبِيِّتِهِ مُتَعَلِّقًا, وَبِأَوْصَافِ عُبُوْدِيَّتِكَ مُتَحَقِّقًا

Jadilah engkau selalu bersandar kepada sifat-sifat ketuhanan Allah dan perhatikanlah dengan sungguh-sungguh sifat-sifat kehambaanmu.

ENGKAU harus selalu ingat dengan sifat-sifat ketuhanan Allah, seperti sifat Maha Mulia, Maha Perkasa, Maha Agung, Maha Mengetahui, Maha Kaya dan sifat-sifat kemuliaan dan kesempurnaan yang lain yang tidak terbatas.
Sebaliknya engkau juga harus selalu memperhatikan sifat-sifat kehambaanmu, seperti kehinaan, kefaqiran, kelemahan, kebodohan dan sifat-sifat kekurangan yang lain.
Maka jika engkau sudah mengetahui dan memahami sifat-sifat ketuhanan Allah dan sifat-sifat kehambaanmu, hendaknya engkau selalu bersandar kepada sifat-sifat ketuhanan Allah dengan selalu mengembalikan segala urusan dan segala kebutuhanmu hanya kepada-Nya. Tinggalkanlah apa yang selain Allah dan jangan engkau bergantung kepada selain-Nya. Karena makhluk tidak bisa berbuat apa-apa kecuali dengan izin-Nya.
Jika engkau melihat kepada sifat Maha Kaya Allah, maka hendaknya engkau bersandar kepada kekayaan Allah. Dan engkau tidak butuh kepada selain-Nya. Karena hanya Allah-lah yang memiliki gudang kekayaan.

وَللهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Dan hanya milik AIIah-lah segala perbendaharaan kekayaan yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Al-Munafiqun: 7)
Jika engkau bersandar kepada sifat kemuliaan, kebesaran dan keagungan Allah, maka engkau akan menjadi mulia dengan Allah bukan dengan yang selain-Nya. Orang yang merasa mulia dengan Allah, ia akan menjadi orang yang mulia. Sebab kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.

وَللهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Kemuliaan itu hanya milik AIlah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Munafiqun: 8)
Jika engkau memandang keluasan ilmu Allah dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu, maka engkau akan merasa cukup dengan ilmu Allah terhadap dirimu sehingga engkau tidak perlu memohon kepada-Nya dan akan terucap melalui lisan halmu:

عِلْمُكَ بِحَالِيْ يُغْنِيْ عَنْ سُؤَالِيْ

“Pengetahuan Engkau tentang keadaan diriku membuat aku tidak perlu memohon kepada-Mu.”
Diceritakan tatkala Nabi Ibrahim alaihissalam akan dilempar ke arah api dengan manjaniq beliau mengucapkan: حَسْبِيَ الله kemudian datang malaikat Jibril menawarkan bantuannya seraya mengatakan: “Apakah engkau butuh bantuan?” Maka Nabi Ibrahim mengatakan: “Aku tidak butuh bantuan kepada engkau namun aku hanya butuh bantuan Allah.” Inilah contoh seseorang yang hanya memandang kepada keluasan ilmu Allah dan kekuatan tawakkalnya.
Jika engkau bersandar kepada kekuatan Allah, maka engkau menjadi orang kuat. Sebagaimana hal ini pernah terjadi terhadap Sayyidina Ali radhiyallahu anhu dalam peperangan Khaibar. Di saat itu para pasukan Islam tidak mampu untuk memasuki benteng pertahanan Khaibar sehingga banyak dari para sahabat yang tewas akibat serangan hujan anak panah yang menghantam mereka.
Anak-anak panah tersebut dihujankan berasal dari atas benteng Khaibar. Melihat hal itu Sayyidina Ali menjadi marah sehingga, tanpa beliau sadari beliau melepas pintu benteng Khaibar yang terbuat dari baja dengan tangan beliau dan hanya dengan satu tangan dan dengan tangan kiri. Pintu benteng tersebut dijadikan perisai dan kemudian dilempar oleh Sayyidina Ali ke arah pasukan musuh sehingga pasukan Islam dapat menguasai benteng Khaibar.
Setelah selesai peperangan Sayyidina Ali menyuruh para sahabat untuk mengembalikan pintu tersebut ke tempat asalnya. Dikatakan bahwa para sahabat yang mengangkat pintu tersebut berjumlah 70 orang. Dalam riwayat lain dikatakan berjumlah 250 orang. Kemudian Sayyidina Ali ditanya: “Bagaimana engkau bisa mengangkat pintu tersebut ?” Sayyidina Ali menjawab: “Aku mengangkatnya dengan kekuatan langit (yang berasal dari Allah), bukan dengan kekuatan manusia.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *