Sekeras Apapun Semangatmu, Tidak Akan Dapat Menembus Takdir

Terserah pilihan Allah, Bekerja atau Melulu Ibadah
Aug 16, 2018
Jangan Risau, Sudah Ada Yang Mengatur
Aug 19, 2018

سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تُخْرِقُ أَسْوَارَ الْأَقْدَارِ

Kerasnya semangat tidak dapat menembus tirai takdir.

DALAM kata hikmah sebelumnya disebutkan tentang Ahli tajrid. Mereka tidak berusaha mencari dunia. Karena waktu-waktunya dibuat khidmah kepada Allah, maka mereka diberi keistimewaan. Timbul dari mereka sesuatu yang luar biasa, keistimewaan, atau karomah.

Maka dalam kata hikmah ini, Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa karomah yang timbul dari seorang wali itu tidak menembus keluar dari takdir. Tetapi semuanya didahului oleh takdir Allah. Semua terjadi dengan izin Allah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali dengan kehendak Allah.

Allah berfirman:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan kalian tidak berkehendak kecuali Allah tuhan seluruh alam berkehendak (QS. Attakwir:29)

Begitu pula keajaiban yang keluar dari tukang sihir. Itu juga dengan izin Allah dan tidak bisa menembus tirai takdir. Kalau bersamaan dengan kehendak Allah, maka sihirnya akan mengenai orang yang dituju. Kalau tanpa izin Allah maka tidak akan berpengaruh. Semuanya bisa terjadi dengan qadha’ dan qadar Allah.

Tentang sihir, Allah menyebut dalam Al-Quran:

وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Mereka tidak membahayakan seseorang dengan sihir kecuali dengan izin Allah.“ (QS. Al-Baqarah: 102)

Ada seorang ahli asma’ yang tinggal di Mekkah. Orang menyebutnya Syeikh Badriah karena ia seorang pemimpin kumpulan bacaan asma’ Ahli Badar di Mekkah. la difitnah oleh salah satu muridnya sehingga ia marah kepada Sayyid Maliki. Dia aslinya orang Maroko yang gampang marah. Di malam hari ia menulis bacaan untuk mengganggu Sayyid Maliki. Di tengah ia menulis bacaan-bacaan itu ia mengantuk. Ia berhenti dan tidur. Kertas yang ia tulis ditaruhnya di bawah bantal.

“Apa yang ada di bawah bantalmu itu? Kalau engkau mengganggu waladi Muhammad, aku akan merobek-robek wajahmu. Ayo robek kertas itu,” kata Rasulullah kepada orang itu dalam mimpinya. Ia bangun dan kertas itu langsung dirobek.

Sebelum subuh ia sudah datang ke kediaman Sayyid Maliki. Saya yang membukakan pintu. Ia datang bersama murid-muridnya. Ia menunggu keluarnya Sayyid Maliki di Musholla. Ketika Sayyid Maliki datang, ia langsung merangkul dan menciumi Sayyid Maliki sembari menangis dan meminta maaf.

“Kita shalat Subuh dulu, habis shalat Subuh kita bicara,” kata Maliki.

“Kamu beruntung punya guru seperti ini. Gurumu ini dicintai Rasulullah. Saya ke sini bertujuan minta maaf. Terus terang saya ada tujuan jelek terhadap Al-Maliki. Saya ingin melumpuhkan dia, biar ia tidak bisa pergi kemana-mana. Tetapi saya bermimpi Rasulullah: “Kamu sobek bacaanmu itu. Kalau tidak, maka aku robek wajahmu,” ujar Syeikh Badriah bercerita kepada murid-murid Al-Maliki.

Sayyid Maliki memaafkan orang itu. Ia meminta kepada Sayyid Maliki menemaninya ke Madinah untuk memintakan maaf kepada Rasulullah. Berangkatlah mereka berdua satu mobil ke Madinah.

Begitulah, sihir, asma’ atau apapun tidak akan berpengaruh kalau tidak ada izin dari Allah. Apalagi kalau yang diganggu dibela oleh Rasulullah seperti Sayyid Maliki ini.

Demikian halnya dengan “mata jahat” atau disebut dengan Ain.

Seseorang tidak akan terkena pandangan mata jahat kecuali dengan izin dan takdlr dari Allah. Walau sehebat apapun mata jahat seseorang, namun ia tetap tidak akan menembus tirai takdir.

Nabi bersabda:

الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَيْئٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ

Mata jahat itu benar adanya. Andai ada sesuatu yang mendahulul takdir maka tentu Ain (mata jahat) yang mendahuluinya. (HR. Muslim)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *