Sangat terhina, waktu kosong tapi tidak beribadah

Orang Yang Diberkati Umurnya
Oct 13, 2021
Pikirkan Makhluk-Nya
Oct 24, 2021

الْخِذْلَانُ كُلَّ الْخِذْلَانِ اَنْ تَتَفَرَّغَ مِنَ الشَّوَاغِلِ ثُمَّ لَا تَتَوَجَّهُ اِلَيْهِ وَتَقِلَّ عَوَائِقُكَ ثُمَّ لَا تَرْحَلَ اِلَيْهِ

Kehinaan yang sebenarnya ialah jika engkau diberi waktu yag kosong dari kesibukan tetapi engkau tidak menghadap kepada Allah, dan sedikit rintanganmu tetapi kemudian engkau tidak pergi kepada-Nya.

 

SIAPA yang mendapatkan kesempatan, punya banyak waktu lowong, tapi tidak ia gunakan untuk menghadap kepada Allah maka ia adalah seorang hamba yang makhdul (sangat terhina) yang ditelantarkan oleh Allah. Ia tidak dapat inayah bimbingan dari Allah dan dipalingkan dari jalan istiqamah.

Itulah sejelek-jelek kehinaan. Waktu yang kosong dari kesibukan, sedikit rintangan, tapi tidak digunakan untuk menghadap kepada Allah dan pergi kepada-Nya.

Termasuk dari kehinaan pula jika rintangan-rintangan dan kesibukan menghalangi dirimu untuk menghadap kepada Allah dan pergi menuju-Nya. Bahkan seharusnya engkau cepat-cepat gunakan kesempatan untuk beribadah, dan segala halangan, rintangan dan kesibukan kamu lemparkan di belakangmu dan tinggalkan. Janganlah kesibukan dan rintangan itu diikuti. Kalau diikuti, maka kesibukan itu tidak ada akhirnya dan mengakibatkan tidak bisa melakukan ibadah.

Sebagian ulama berkata,“Berjalanlah menuju Allah dalam keadaan suka atau duka. Jangan menunggu masa sehat. Karena menunggu masa sehat adalah suatu bentuk pengangguran. Allah Ta’ala berfirman:

اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَثِقَالًا

“Berjuanglah kalian dalam keadaan enteng dan berat. ” (QS. At-Taubah : 41)

Utamakan ibadah. Kalau tidak sempat maka harus disempat-sempatkan. Apa yang bisa dilakukan hari ini jangan ditunda sampai besok.

Orang Arab berkata:

لَا تُعَجِّلْ اِلَى الْغَدِ مَا يُمْكِنُكَ اَنْ تَعْمَلَهُ الْيَوْمَ

“Janganlah engkau tunda sampai besok apa yang bisa engkau lakukan hari ini.”

Penyair berkata:

مَا مَضَى فَاتَ وَالْمُؤَمِّلُ غَيْبٌ    وَلَكَ السَّاعَةُ الَّتِى اَنْتَ فِيْهَا

Apa yang berlalu telah hilang. Apa yang diharap masih gaib Bagimu saat engkau sekarang berada

 

Kata hikmah ini sesuai dengan kata hikmah yang telah lewat:

اِحَالَتُكَ الْاَعْمَالَ عَلَى وُجُوْدِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ

“Menunda-nunda suatu amal sedangkan ada waktu yang lowong itu termasuk kebodohan.”

Menunda amal kebaikan termasuk kebodohan disebabkan beberapa hal.

Pertama, ia mengutamakan dunia atas akhirat. Ini bukan kebiasaan orang mukmin yang berakal sehat. Ini menyalahi apa yang diminta oleh Allah. Allah Ta ‘ala berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا  وَالْأخِرَةُ خَيْرٌ وَاَبْقَى

“Bahkan kalian mengutamakan kehidupan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal. ” (QS. Al-A’la : 16-17)

Kedua, ia menunda amal ibadah sampai ada kesempatan. Sebab, terkadang ia tidak dapat kesempatan atau bahkan ia didahului oleh kematian. Atau kesibukannya semakin bertumpuk-tumpuk karena kesibukan dunia itu mengajak kepada kesibukan yang lain.

Al-Mutanabbi berkata:

وَمَا قَضَى اَحَدٌ مِنْهَا لُبَانَتَهُ    {    وَلَا انْتَهَى أَرَبٌ اِلَّا اِلَى أَرَبٍ

Tidak ada seorangpun dapat menyelesaikan keperluannya

Dan tidak selesai satu keperluan kecuali pindah ke keperluan yang lain

Ketiga, ia kemudian memiliki kesempatan untuk melakukan amal ibadah yang dulunya ia tunda itu. Tapi, bisa jadi tekad dan semangatnya berubah tidak seperti dulu. Niatnya sudah lemah sehingga ia tidak bersemangat lagi untuk melakukan amal ibadah itu.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *