Salikun Mencari Cahaya, Washilun Bergelimang Cahaya

Belanjakan Ilmu Semampumu
Oct 10, 2018
Lebih Baik Tahu Diri Penuh Aib, Daripada Tersingkap Tirai Gaib
Oct 18, 2018

اِهْتَدَى الرَّاحِلُوْنَ إِلَيْهِ بِأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ وَالْوَاصِلُوْنَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ . فَالْأَوَّلُوْنَ لِلْأَنْوَارِ وَهَؤُلَاءِ الْأَنْوَارُ لَهُمْ لِأَنَّهُمْ للهِ لَا لِشَيْءٍ دُوْنَهُ قُلْ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

Orang-orang yang pergi menuju Allah mendapatkan petunjuk dengan cahaya tawajjuh (ibadah) dan orang-orang yang telah sampai kepada Allah mendapatkan cahaya muwajahah. Golongan pertama ialah orang yang mencari cahaya. Sedangkan yang kedua adalah orang yang berkecimpung dalam cahaya karena mereka itu hanya untuk Allah dan bersih dari selain Allah. Katakanlah, ”Allah,” kemudian biarkan mereka berkecimpung dalam permainan.

 

ADA perbedaan yang jauh antara dua kedudukan. Antara orang yang melakukan perjalanan kepada Allah dan orang yang sudah sampai kepada Allah.

Orang yang yang berjalan menuju Allah berusaha untuk mencari cahaya dengan melakukan ibadah dan mujahadah. Sedangkan orang yang sudah sampai kepada Allah adalah orang yang bergelimang cahaya dari Allah. Mereka adalah orang yang tenggelam kepada Allah dan lenyap dari segala selain Allah. Mereka murni hanya untuk Allah. Hakikat tauhid ialah dengan tidak memperhatikan selain Allah. Ini adalah derajat Haqqul Yaqin.

Katakan ‘Allah’ dengan hati dan ruhmu dan lenyaplah dari selain-Nya. Dan biarkan manusia memperhatikan selain Allah dan bermain-main dengan hawa nafsu mereka.

Melihat selain Allah dinamakan main-main. Kalau masih merasa ada sesuatu yang berpengaruh selain Allah maka itu disebut asyik dalam main-main. Ini adalah sifat orang-orang pembohong dan munafik.

Allah berfirman memberitakan tentang orang yang masuk neraka, mereka berkata:

وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ

“Dulu kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Muddatstsir: 45)

بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ يَلْعَبُونَ

“Bahkan mereka bermain-main dalam keraguan.” (QS. Ad-Dukhon: 9)

Bermain-main dalam keraguan. Apa keraguan itu? Dunia. Dunia adalah sesuatu yang meragukan. Atau bisa diartikan, mereka ragu dalam masalah rezeki sehingga mereka mabuk dengan dunia padahal rezeki itu sudah dijamin oleh Allah. Mereka tidak yakin dengan jaminan dan janji Allah. Ini adalah syirik yang samar.

Menyebut “Allah” disebut dzikir mufrod (tunggal) karena orang yang menyebutnya hanya melihat kebesaran Allah dan lenyap dari dirinya. Beda dengan berdzikir, Laa ilaha illallah. Orangnya masih sibuk dengan yang lain. Masih ada penolakan kepada yang lain, ada nafi baru itsbat. Artinya, Tidak ada tuhan selain Allah. Makanya dzikir untuk awam Laa ilaha illallah. Untuk orang yang tingkatan tinggi cukup “Allah”.

Mereka, orang-orang yang sudah sampai kepada Allah, tidak hanya berdzikir dengan hati tetapi berdzikir dengan ruh. Ini lebih mendalam lagi. Ruhnya terus berdzikir. Tidak berpengaruh oleh yang lain dalam keadaan apapun. Makanya walau orangnya tidur, ruhnya tetap berdzikir. Bahkan ada yang tasbihnya bergerak sendiri mengikuti ruhnya. Sebagian guru sering menjerit dengan tiba-tiba menyebut nama Allah. Sayyid Al-Maliki sering kita lihat di tengah-tengah muthalaah kaget menyebut asma Allah. Ini berarti hatinya panas, terus bergerak berdzikir kepada Allah.

Berlatihlah dengan menyebut ‘Allah’ dan melepas selain Allah. Misalnya, dengan membaca shalawat Masyisyiah. Renungkan arti yang ada dalam shalawat Masyisyiah,

وَحُلْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ غَيْرِكَ

“Lepaskanlah aku dari selain diri-Mu.”

Baru mengucapkan, Allah-Allah-Allah. Ketika itu berusahalah untuk melepas selain Allah. Dibaca ketika waktu dan keadaan tenang. Bisa dibaca seratus kali untuk melatih muraqabah.

Habib Sholeh bin Hasan Al-Bahr berkata, “Aku sampai pada Allah dengan dzikir

اللهُ مَعِيْ اللهُ نَاظِرٌ إِلَيَّ اللهُ شَاهِدِيْ

“Allah bersamaku, Allah melihat kepadaku, Allah menyaksikan aku.”

Ini dzikirnya Sahal bin Abdullah At-Tusturi. Dengan terus berlatih membaca dzikir ini maka ia akan selalu merasa diawasi Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *