Saat Terbaik Dalam Hidupmu, Saat Engkau Butuh Allah

Sifat Asli Manusia: Selalu Membutuhkan Allah
Nov 22, 2019
Jemu Dengan Makhluk, ‘Pintu Kebahagiaan Dengan Allah’ Terbuka
Dec 2, 2019

خَيْرُ أَوْقَاتِكَ وَقْتٌ تَشْهَدُ فِيْهِ وُجُوْدَ فَاقَتِكَ وَتُرَدُّ فِيْهِ إِلَى وُجُوْدِ ذِلَّتِكَ

Saat terbaik dalam hidupmu adalah di saat engkau merasakan adanya kebutuhan dan ketika engkau kembali kepada adanya kerendahan diri.

 

WAKTU terbaik dalam kehidupan manusia ialah ketika ia bersama Allah dan putus hubungan dengan segala sesuatu selain Allah. Di saat itulah ia merasa hanya butuh kepada Allah dan tidak ada yang menolongnya selain Allah. Waktu seperti ini adalah hari raya bagi para Shalihin.

Diceritakan dari Atha’ As-Salami bahwa selama tujuh hari ia tidak merasakan sedikitpun makanan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi ia merasa senang dan berdoa: “Ya Allah bila Engkau tidak memberiku makan tiga hari lagi sungguh aku akan melakukan shalat seribu rakaat.”

Fatah Al-Mushili pada suatu malam pulang ke rumahny. Di rumahnya tidak ada makan malam, lampu dan kayu bakar. Dia malah bersyukur kepada Allah dan memuji-Nya. “Ya Allah dengan sebab amal apa aku mendapat keberuntungan ini? Sehingga Engkau perlakukan aku sebagaimana Engkau lakukan terhadap wali-wali-Mu,” katanya.

Bisyr Al-Hafi bercerita: Telah sampai kepadaku berita bahwa putri Fatah Al-Mushili tidak punya pakaian. Maka dikatakan kepada Fatah,”Tidakkah engkau mencari pakaian untuk putrimu?’ la menjawab, “Tidak, sehingga Allah melihat bahwa putriku tidak punya baju dan Allah tahu kesabaranku terhadap putriku.”

Pada suatu hari Fatah Al-Mushili mengumpulkan keluarganya. la berdoa kepada Allah, “Ya Allah, Engkau buat aku miskin dan Engkau buat miskin keluargaku. Engkau bikin aku lapar dan Engkau bikin lapar keluargaku. Engkau telanjangi aku dan Engkau telanjangi keluargaku. Maka tunjukkanlah kepadaku bagaimana cara bertawassul kepada-Mu. Karena ini hanya Engkau lakukan terhadap wali-wali-Mu. Apakah aku termasuk mereka sehingga aku gembira?”

Diceritakan bahwa Fudhail bin Iyadh pernah menangis di sebuah malam yang dingin. ‘Wahai Tuhanku, Engkau laparkan aku dan keluargaku. Engkau tidak memberi pakaian kepadaku dan keluargaku. Engkau dudukkan aku dan keluargaku di rumah yang tidak ada lampunya. Sudah lama Engkau berbuat demikian itu kepada wali-wali-Mu dan ahli taat-Mu. Tuhanku, amal apa yang aku lakukan sehingga aku mendapatkan hal itu? Tunjukkanlah sehingga aku bisa melakukannya seterusnya.

Semua cerita di atas menunjukan bahwa saat yang paling baik bagi manusia ialah di saat ia merasa butuh kepada Allah dan putus asa dari selain Allah. Ini saat yang sangat menggembirakan bagi orang-orang shaleh. Karena pada saat itulah tampak sekali ubudiahnya (kehambaannya) kepada Allah.

Allah tidak mengajak bicara para nabi kecuali dengan sifat ubudiah.

Allah berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا

“Maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya di malam hari.” (QS. Al-Isra’: 1)

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ

“Ingatlah hamba Kami Ayyub.” (QS. Shod: 41)

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ

“Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang memiliki kekuatan.” (QS. Shod: 17)

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami Ibrahim dan Ishaq dan Ya’qub. (QS. Shod: 45)

Nabi Muhammad memilih ubudiah ketika disuruh memilih apakah menjadi nabi juga raja ataukah nabi juga hamba. Maka yang dipilih Nabi adalah menjadi nabi yang hamba. itu semua menunjukkan bahwa ubudiah adalah keadaan yang paling mulia dari seorang manusia.

Nabi Muhammad memilih tidak makan tiga hari dan mengganjal perutnya dengan batu. Baju sobek dijahit sendiri. Membawa barangnya sendiri dari pasar. Rasulullah menampakkan kehambaan dan kerendahannya kepada Allah, walaupun beliau adalah manusia yang paling mulia dan memiliki mukjizat yang besar.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah ini ditiru oleh para sahabat, tabi’in dan orang-orang shaleh setelahnya. Salah satunya adalah Syeikh Abu Bakar bin Salim, seorang wali besar tokoh Ba Alawy yang punya keistimewaan yang luar biasa. Walau hatinya penuh dengan cahaya tetapi beliau senang menampakkan ubudiahnya.

Setiap malam beliau menimba dan memikul air mengisi kolam ratusan masjid. Sampai-sampai pundaknya bengkak melepuh dan meneteskan darah yang mengalir ke kakinya. Darah itu berceceran meninggalkan bekas sampai ke rumahnya. Para ulama berkomentar apa yang dilakukan Syeikh Abu Bakar bin Salim ini dalam rangka tahqiqul ubudiyah (menyatakan kehambaan).

Habib Hamid Al-Junaid kalau shalat lima waktu di Masjid Ba Alawy selalu naik himar (keledai), bukan kuda, karena menampakkan ubudiahnya. Padahal ia adalah tokoh besar yang dicintai, walaupun oleh anak kecil. Setiap kali ia datang ke masjid anak-anak berlomba menciumi tangan beliau. Mereka tinggalkan mainan mereka. Ketika ia mengimami shalat, maka seluruh makmumnya merasakan kekhusyu’an. Ada yang di waktu sujud, ada yang di saat rukuk dan ada pula yang di saat shalat yang lain. Luapan rahmat Allah yang ada di hati Habib Hamid mengalir ke seluruh makmumnya. Oleh karena itu ada yang berkata, “Yakinlah setiap orang yang masuk Masjid Ba Alawy ia dihiasi oleh Masjid, kecuali Habib Hamid, maka ia menghiasi Masjid.

Merasa butuh dan miskin kepada Allah dapat mendatangkan karunia Allah.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

“Shadaqah itu hanya diperuntukkan kepada orang-orang fakir dan orang-orang miskin.” (QS. At-Taubah: 60)

Allah juga memberi kemenangan kepada orang yang punya sifat butuh kepada Allah dan kehinaan.

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah.” (QS. Ali Imron: 123)

وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ

“Dan ingatlah di waktu dahulu ketika kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu.” (QS. Al-A’raf: 86)

Sebaliknya, kekalahan dan kehinaan akan menimpa orang yang merasa kuat dan tidak butuh kepada Allah.

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *