Riang Gembira Dicocoki Nafsu

Lebih Kuatir Dalam Kelapangan
Jul 10, 2019
Diberi Tapi Tidak Diberi
Jul 17, 2019

اَلْبَسْطُ تَأْخُذُ النَّفْسَ مِنْهُ حَظَّهَا بِوُجُوْدِ الْفَرَحِ, وَالْقَبْضُ لَا حَظَّ لِلنَّفْسِ فِيْهِ

Dari Basth (masa kelapangan) itu hawa nafsu mengambil bagiannya karena adanya kegembiraan, dan di masa kesempitan (Qabdh) nafsu tidak mempunyai bagian.

 

MENJAGA kesopanan kepada Allah di masa lapang itu sulit. Sebab, di masa lapang itu ada bagian bagi hawa nafsu. Artinya, masa lapang itu sesuai dan sejalan dengan hawa nafsu. Orang yang berada dalam kesenangan dikuasai oleh hawa nafsunya sehingga ia lupa diri dan terjerumus dalam suul adab (tidak sopan) kepada Allah. Kebahagiaan itu membuatnya lupa dari Allah dan dari melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah.

Akan tetapi sebaliknya, di masa kesempitan hawa nafsu tidak dapat mengambil bagiannya sedikitpun. Oleh karena itu para shalihin lebih memilih qabdh karena lebih selamat dan lebih aman untuk diri mereka.

Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq berkata: “Qabdh adalah bagian Allah darimu dan basth adalah bagian hamba dari Allah. Maka engkau di masa sempit itu lebih baik daripada engkau di masa lapang.”

 

Adab Qabdh Dan Basth:

Mengenai adab qabdh dan basth Al-Imam Abul Qasim Al-Qusyairi mengatakan: “Kadang-kadang perasaan sedih itu datang sedangkan orangnya tidak mengerti apa sebabnya. Adabnya ialah orang itu harus pasrah diri kepada Allah sampai masa kesedihan itu lewat. Karena kalau ia memaksa diri untuk menghilangkan kesedihan itu atau mencari-cari sebelum datangnya. malu kesedihannya akan bertambah, dan hal itu termasuk suul adab. Apabila ia pasrah pada ketentuan Allah, maka qabdh itu akan segera hilang. Sebab, Allah berfirman: “Allah-lah yang memberi kesempitan dan memberi kelapangan.”

“Begitu pula basth (kelapangan) itu terkadang datang dengan tiba-tiba. Orangnya tidak tahu apa sebabnya. Kebahagiaan itu dapat menggerakkan dan menggoncangkan orang itu . Maka caranya, orang itu harus diam menahan diri dan tetap menjaga adab. Karena waktu seperti ini sangat berbahaya. Maka janganlah ia sampai tertipu dengan tipuan yang samar sebagaimana diucapkan oleh sebagian dari mereka, “Terbuka bagiku pintu basth, aku tergelincir dan aku terhijab dari maqamku”, usai sudah keterangan dari Al-Qusyairi.

Imam Abul Hasan As-Syadzili menerangkan adab qabdh dan basth dengan panjang lebar. Asy-Syadzili berkata:

“Qabdh dan basth, jarang sekali seorang hamba terlepas dari keduanya. Keduanya silih berganti sebagaimana silih bergantinya siang dan malam. Allah mengharuskan engkau berubudiah dalam keadaan sempit atau lapang.”

“Orang yang waktunya dalam qabdh maka adakalanya ia mengetahui sebabnya atau tidak mengetahui sebab itu. Sebab-sebab qabdh ada tiga. Pertama, dosa yang engkau perbuat. Kedua, dunia yang hilang atau berkurang darimu. Ketiga, orang dhalim yang menyakiti dirimu dan harga dirimu, dengan mengatakan bahwa engkau orang yang tidak beragama atau lainnya.”

“Bila qabdh menimpamu karena salah satu dari tiga sebab ini, maka ubudiah menuntut engkau untuk kembali ke ilmu, menggunakannya seperti apa yang diperintahkan oleh Allah. Kalau sebabnya dosa maka dengan bertaubat, kembali dan memohon ampun kepada Allah. Apabila disebabkan oleh dunia yang hilang atau berkurang, maka dengan pasrah dan ridho dan memohon pahala dari Allah. Sedangkan qabdh yang disebabkan oleh orang dholim yang menyakiti dirimu, maka hadapilah dengan sabar dan menahan diri. Awas jangan sampai engkau mendhalimi dirimu. Maka berkumpullah dua kedhaliman kepadamu. Kedhaliman orang lain terhadapmu dan kedhaliman dirimu kepada dirimu sendiri.

Apabila engkau melaksanakan apa yang harus engkau lakukan dari kesabaran dan menahan diri, maka Allah memberimu pahala berupa kelapangan dada, sehingga engkau memaafkan dan mengampuni orang yang mendhalimimu. Bisa pula Allah membalasmu dengan cahaya ridho sehingga engkau mengasihi orang yang mendhalimimu. Lalu engkau mendoakan baik orang itu. Dan doamu dikabulkan oleh Allah”. Alangkah baiknya hal tersebut bila Allah merahmati orang yang berbuat dhalim kepadamu dengan sebab engkau. Itu adalah derajat para shiddiqin yang penuh belas kasih. Dan bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.”

“Jikalau qabdh datang kepadamu dan engkau tidak tahu penyebabnya maka waktu itu ada dua macam, malam dan siang. Qabdh sangat mirip dengan malam. Basth seperti siang. Bila qabdh datang kepadamu tanpa sebab yang engkau mengerti, maka engkau wajib diam. Diam dari tiga perkara; dari bicara, bergerak dan berkehendak. Bila engkau laksanakan itu, maka dengan segera malam akan lenyap darimu dengan terbitnya matahari siangmu atau tampaknya bintang yang memberimu petunjuk atau rembulan yang engkau jadikan cahaya atau matahari yang engkau jadikan penerang sehingga engkau bisa melihat. Bintangnya adalah bintang ilmu. Rembulannya adalah rembulan tauhid. Mataharinya adalah matahari makrifat. Namun bila engkau bergerak di kegelapan malam, maka jarang sekali engkau selamat dari kebinasaan. Pelajarilah firman Allah:

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan dari rahmat-Nya Ia menjadikan malam dan siang agar kalian diam di waktu malam dan mencari anugerah Allah di waktu siang dan supaya kalian bersyukur.”(QS. Al-Qashash: 73)

Ini adalah kewajiban ubudiah dalam keadaan dua qabdh.

“Orang yang dalam keadaan basth, maka adakalanya ia mengetahui sebabnya atau tidak. Sebab basth ada tiga. Pertama, bertambahnya ketaatan atau pemberian dalam ketaatan seperti ilmu dan makrifat. Kedua, bertambahnya dunia. Ketiga, pujian dan sanjungan manusia, mereka datang kepadamu memohon doa dan menciumi tanganmu.”

“Apabila basth datang kepadamu dari salah satu dari sebab-sebab ini, maka ubudiah menuntut agar engkau merasa bahwa semua kenikmatan dan anugerah itu dari Allah kepadamu. Awas jangan sampai engkau merasa bahwa semua itu dari dirimu”. Jagalah jangan sampai kenikmatan itu dicabut oleh Allah, maka engkau menjadi orang yang dibenci. Ini dari segi ketaatan dan pemberian dari Allah.”

“Bertambahnya dunia juga termasuk kenikmatan seperti yang pertama. Takutlah kepada apa yang tersembunyi dari bahaya-bahaya dunia. Sedangkan pujian dan sanjungan manusia kepadamu, maka ubudiah menuntutmu untuk mensyukuri nikmat sebab Allah menutupi dirimu. Takutlah Allah menampakkan sedikit dari apa yang tersembunyi dari dirimu. Maka orang yang paling dekat denganmu akan membencimu. Ini semua adab qabdh dan basth dalam ubudiah.”

“Sedangkan basth yang tidak engkau ketahui sebabnya maka kewajiban ubudiahnya ialah meninggalkan bertanya-tanya, jangan kagum, dan jangan menguasai wanita dan pria. Ucapkanlah “Selamatkan, selamatkan, sampai mati.” Ini semua adab qabd dan basth dalam ubudiah bila kau berpikir. Wassalam.” selesai perkataan Abul Hasan As-Syadzili radhiyallahu anhu.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *