Rela kepada Nafsu Pokok Segala Kemaksiatan

Keluarlah dari Sifat Basyariyah (Manusiawi) agar Bisa Sambut Panggilan-Nya
Oct 28, 2018
Lebih Baik Berteman Si Bodoh Pelawan Nafsu Daripada Si Alim Pengumbar Nafsu
Nov 6, 2018

أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ اَلرِّضَا عَنِ النَّفْسِ وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقْظَةٍ وَعِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا

Pokok dari semua maksiat, kelalaian dan syahwat adalah suka terhadap hawa nafsu. Dan pokok setiap ketaatan, kesadaran dan kebaikan akhlak ialah pengekangan terhadap hawa nafsu.

 

SUKA atau ridho terhadap hawa nafsu adalah pokok dari sifat-sifat tercela, dan tidak suka terhadap hawa nafsu adalah pokok dari segala sifat terpuji. Para Arifin telah bersepakat mengenai ini.

Karena, suka dengan hawa nafsu akan menutup aib dan kejelekannya. Maka kejelekannya dianggap baik. Maka dapat kita lihat ada orang yang berbuat maksiat, tetapi berbangga dengan kemaksiatannya dan menganggap sebagai kebaikan. Sebaliknya, orang yang tidak suka dengan hawa nafsu maka dia selalu mengoreksi, mencari-cari kesalahannya. Yang akan tampak kepadanya kejelekan dirinya.

Ini seperti yang dikatakan penyair:

وَعَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيلَةٌ   كَمَا أَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَ

Mata yang suka akan tertutup dari segala kejelekan

Sebagaimana mata kebencian akan menampakkan segala kejelekan

Oleh karena itu, wahai murid, selalulah mencari kejelekan nafsumu dan curigalah kepadanya. Jangan engkau anggap keadaanmu baik. Sebab, bila engkau merasa senang dan menganggap baik keadaanmu maka engkau akan digigit olehnya sedangkan engkau tidak sadar dan engkau akan terhijab dari Allah, sedangkan engkau melihat.

Abu Hafsh Al-Haddad berkata: “Siapa yang tidak curiga pada dirinya sepanjang masa dan tidak menentangnya dalam segala hal dan tidak menariknya kepada yang tidak ia sukai sepanjang harinya, maka ia tertipu. Siapa yang melihat dirinya dengan merasa baik, maka dia telah membinasakannya. Bagaimana bisa seorang yang berakal setuju dengan hawa nafsunya. Sedangkan Al-Karim ibn al-Karim ibn al-Karim (Nabi Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim) berkata, ‘Aku tidak akan membiarkan diriku bebas. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh berbuat kejahatan, kecuali siapa yang dirahmati oleh Tuhanku.’

Mengenai kejahatan nafsu ini, mereka mengatakan:

تَوَقَّ نَفْسَكَ لَا تَأْمَنْ غَوَائِلَهَا   فَالنَّفْسُ أَخْبَثُ مِنْ سَبْعِينَ شَيْطَانَا

Waspadalah pada dirimu. Jangan engkau merasa aman dengan tipu dayanya.

Nafsu itu lebih buruk dari tujuh puluh syaitan

Mintalah perlindungan kepada Allah dan teruslah bermujahadah sampai mati berperang dengan nafsu. Hati-hati dengan rayuan syaitan dan nafsu yang penuh dengan tipu daya dan langkah-langkah yang halus. Ia pura-pura menjadi penasehat yang baik tetapi menjerumuskan.

Al-Bushiri berpesan:

كَـــمْ حَـــسَّـــنَـــتْ لَـــذَّةً لِـــلْـــمَـــرْءِ قَاتِـــلَـــةً            مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنَّ السُّمَّ فِي الدَّسَمِ

Seringkali nafsu menganggap baik kepada seseorang kenikmatan yang mematikan

Ia tidak tahu ada racun di dalam gajih

وَخَالِفِ النَّفْسَ وَالشَّيْطَانَ وَاعْصِهِمَا           وَإِنْ هُـــمَا مَـــحَــضَــاكَ النُّــصْــحَ فَاتَّــهِــمِ

Selalulah melawan nafsu dan syaitan dan tentanglah

Walau mereka menasehatimu dengan tulus maka tetaplah curiga

Imam Junaid berkata, “Jangan merasa tentram dengan nafsumu walaupun telah lama taat kepadamu untuk berbuat ibadah kepada Tuhanmu.”

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, “Aku tidak pernah ridho dengan nafsuku, walaupun sekejap mata.”

Para ahli tarekat semua bersepakat bahwa jalan menuju Allah hanya dengan mengikuti Nabi Muhammad dan tidak ridho kepada hawa nafsu yang selalu menyuruh pada kejahatan. Para Aulia selalu mencari ridha Allah dengan melawan hawa nafsu.

Syeikh Abu Bakar bin Salim mengatakan, “Siapa yang melihat nafsunya dengan pandangan kebencian, maka Allah memandangnya dengan pandangan keridhaan. Barangsiapa menatap nafsunya dengan pandangan keridhaan, maka Allah melihatnya dengan pandangan kebencian.”

Perkataan Syeikh Abu Bakar bin Salim ini menyatakan bahwa Allah ridha kepada seseorang apabila hamba itu melawan nafsunya. Tetapi mereka yang menuruti hawa nafsunya maka ia dalam murka Allah.

Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf, tokoh besar Ba Alawi, berkata:

مَا أَدْرَكْنَا شَيْئًا اِلَّا لَمَّا رَجَعْنَا لِمَعْرِفَةِ النَّفْسِ

Kami tidak mendapat sesuatu, kecuali ketika kami kembali mengenal nafsu.

Artinya, hanya dengan mujahadah melawan nafsu seseorang bisa mendapatkan keistimewaan dari Allah.

Mudah-mudahan kita diikutkan dengan orang-orang yang melawan hawa nafsunya dengan mahabbah (cinta) kepada mereka. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *