Pindah dari alam ke alam bagai keledai penggilingan

Sangat Aneh, Ada Orang Lari Dari Panggilan Allah
Dec 3, 2018
Kejelekan Tampak Baik Karena Punya Teman Bejat
Dec 26, 2018

لَا تَرْحَلْ مِنْ كَوْنٍ إِلَى كَوْنٍ فَتَكُوْنَ كَحِمَارِ الرَّحَى يَسِيْرُ وَالَّذِيْ ارْتَـحَلَ إِلَيْهِ هُوَ الَّذِيْ ارْتَـحَلَ مِنْهُ وَلَكِنْ ارْحَلْ مِنْ الْأَكْوَانِ إِلَى الْمُكَوِّنِ وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى

Janganlah engkau pergi dari satu alam ke alam lain sehingga engkau seperti keledai yang berputar-putar di penggilingan, tempat tujuannya adalah tempat yang semula ia berangkat. Tetapi pergilah dari semua alam kepada pencipta alam. ”Dan sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan.”

 

SESEORANG yang melakukan amal ibadah atau mujahadah melawan nafsu janganlah bertujuan selain Allah. Misalnya, ia beribadah ingin mendapatkan karomah, kesaktian, agar dapat dunia karena ada hadits Nabi yang berbunyi:

مَنِ انْقَطَعَ إِلَى اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ كُلَّ مُؤْنَةٍ وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Siapa yang tujuannya hanya kepada Allah, maka dicukupi oleh Allah kebutuhannya dan diberi rizki tanpa diduga.”

وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ صَاغِرَةٌ

“Siapa yang akhirat adalah tujuannya, maka Allah mengumpulkan segala urusannya dan menjadikan kekayaannya dalam hatinya dan akan datang dunia kepadanya dengan tunduk.”

Begitu pula kalau ada orang beribadah dan bertujuan ingin mendapat surga atau bidadari. Orang yang beribadah dengan tujuan selain Allah inilah yang dimaksud oleh Ibnu Athaillah dengan pindah dari satu alam ke alam yang lain. Orang ini seperti keledai di penggilingan yang hanya berputar-putar menggiling tepung. Ia hanya berputar-putar di tempatnya itu. Ia menuju ke tempat ia berangkat semula. Orang yang semangatnya hanya mengikuti keinginan nafsunya maka orang itu seperti keledai ini. Jelek sekali.

Tetapi kalau beribadah atau berbuat sesuatu, maka bertujuanlah hanya Allah. Niatlah dengan perbuatan itu murni untuk mendapatkan ridho Allah. Inilah yang dimaksud dengan, ‘Pergilah dari semua alam ke Pencipta Alam’.

Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata, “Berhentilah engkau di satu pintu, bukan untuk dibukakan beberapa pintu, maka akan terbuka untukmu beberapa pintu. Tunduklah kamu kepada Tuhan Satu bukan untuk ditunduki oleh semua kepala, maka semua kepala akan tunduk kepadamu. Allah berfirman, Segala sesuatu ada pada Kami gudangnya.”

Kemudian Ibnu Athaillah berkata:

وَانْظُرْ إِلَى قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ فَافْهَمْ قَوْلَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ وَتَأَمَّلْ هَذَا الْأَمْرَ إِنْ كُنْتَ ذَا فَهْمٍ

”Perhatikan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ”Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrah untuk dapat dunia atau wanita untuk dikawini maka hijrahnya mendapat apa yang diniatinyu. ” Pahamilah sabda Rasul ini dan renungkanlah bila engkau punya pemahaman. ”

HIJRAH yang diterima dan diridhoi Allah adalah hijrah yang untuk Allah dan Rasul-Nya. Ia akan mendapatkan pahala hijrah. Sedangkan hijrah dengan tujuan lain seperti dunia atau istri, maka ia akan mendapatkan dunia dan istri itu. Tetapi ia tidak dapat keridhaan Allah dan Rasul. Ia meninggalkan pahala hijrah demi dunia atau perempuan, makhluk sepertinya yang berasal dari air mani yang menjijikkan dan kemana-mana selalu membawa jamban dan akan menjadi bangkai yang busuk. Sungguh sangat rugi. Ia mengutamakan dunia dari pada akhirat.

Dalam riwayat At-Thabrani dari sahabat Ibnu Mas’ud , dahulu ada orang hijrah bersama kami untuk mengawini perempuan yang bernama Ummu Qais. Kami menamakannya Muhajir Ummi Qais.

Maka niat itu penting. Sebelum melakukan sesuatu perlu dipasang niat yang benar. Yaitu niatlah murni untuk Allah dan Rasul. Baik itu urusan ibadah atau mubah. Dengan niat yang baik, maka pekerjaan mubah akan menjadi ibadah. Seperti seseorang yang makan, tetapi dengan niat untuk menjadi kekuatan dalam beribadah karena Allah. Maka makannya akan bernilai ibadah.

Orang-orang shaleh dalam segala gerak-geriknya selalu mengatur niatnya, hanya karena Allah. Senyumnya, karena Allah. Makannya karena Allah. Membuka pintu, karena Allah. Bekerja, karena Allah. Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad menyatakan, Walighairillahi Ma qasadu (Mereka tidak punya tujuan selain Allah).

Seseorang meminta wasiat kepada Abu Yazid Al-Busthami. “Berilah aku wasiat, Wahai Abu Yazid.”

“Apabila Allah memberimu semuanya dari Arsy sampai tanah, maka katakan pada-Nya. ‘Tidak. Hanya Engkau yang aku inginkan.’” Kata Abu Yazid.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Kalau aku disuruh memilih shalat dua rakaat dan masuk surga Firdaus, maka aku memilih shalat dua rakaat. Karena surga Firdaus itu keinginan nafsu, tetapi shalat dua rakaat untuk Tuhanku.”

Abu Sulaiman Ad-Darani mengutamakan Allah daripada surga Firdaus. Untuk apa masuk surga kalau tidak bertemu Allah. Begitu tinggi keikhlasan mereka kepada Allah.

Asyyibli mengatakan, “Awas tipuan Allah, walaupun dalam Firman-Nya:

كُـلُوْا وَاشْرَبُوْا

“Makanlah dan Minumlah.”

Maksud-Nya, janganlah engkau tenggelam dalam keinginan. Tetapi jadikanlah segala sesuatu karena Allah bukan karena nafsumu. Maka firman Allah, Makanlah dan minumlah, walau dhahirnya berupa kenikmatan, tetapi batinnya adalah cobaan sehingga Allah mengetahui siapa yang bersama Allah dan siapa yang bersama nafsunya.”

Intinya, jadikanlah segala tujuan hidup kita hanya untuk Allah, agar hidup ini tidak sia-sia dan semuanya terisi ibadah kepada Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *