Pikiran Dangkal Tak Melihat Kelembutan Allah Dibalik Musibah

Cobaan Terasa Ringan, Bila Mengingat Yang Menimpakan Cobaan Itu
Jan 5, 2020
Tidak Takut Tidak Tahu Jalan, Tetapi Dikuatirkan Kalah Dengan Nafsu
Jan 16, 2020

مَنْ ظَنَّ إِنْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدْرِهِ فَذَلِكَ لِقُصُوْرِ نَظْرِهِ

Siapa yang mengira terlepasnya rahmat Allah dari cobaan yang telah di takdirkan Allah maka itu disebabkan karena dangkalnya pandangan imannya.

 

DANGKALNYA pandangan seseorang hingga ia tidak melihat adanya luthf (rahmat) Allah dalam cobaan yang ditakdirkan itu disebabkan lemahnya keyakinan dan tidak adanya sangkaan baik kepada Allah. Apabila ada orang yang mempunyai pemikiran bahwa dalam bala yang ditakdirkan oleh Allah itu tidak mengandung hikmah dan rahmat maka berarti iman orang tersebut lemah dan ia kurang yakin kepada Allah yang menakdirkan dan Maha Bijaksana.

Apabila seseorang itu pandangannya sempurna, kuat iman dan keyakinannya, dan penuh dengan sangkaan baik kepada Allah maka pasti ia mengerti dan mengetahui bahwa dibalik musibah itu ada faedah-faedah, keuntungan-keuntungan yang tidak terhitung banyaknya. Dan lebih banyak lagi faedah yang tidak ia ketahui.

Diceritakan bahwa sebagian orang shaleh berkata: “Aku pernah sakit sekali dan aku ingin penyakit itu tidak hilang.”

Orang shaleh ini tidak mengharap sembuh dari penyakitnya disebabkan ia mengerti dan memahami kebijaksanaan Allah, bahwa banyak sekali faedah dan maslahah dalam penyakit yang ia derita. Karena banyaknya keuntungan yang ia dapat dari penyakitnya itu, maka ia tidak ingin sembuh.

Juga seperti yang terjadi kepada sahabat Imran bin Hushain. Ia menderita penyakit bawasir. Selama tiga puluh tahun ia terlentang di atas tempat tidur. Tidak bisa duduk dan tidak bisa berdiri. Sampai-sampai tempat tidurnya diberi lubang untuk buang air besar dan kencing. Imran bin Hushain kencing dan berak di tempat tidur itu.

Seorang temannya bernama Mutharrif atau Al-Ala’ bin As-Sikhkhir mengunjunginya. Ketika ia melihat keadaan Imran bin Hushain yang mengenaskan itu ia menangis.

“Kenapa kamu menangis?” tanya Imran kepada temannya itu.

“Karena aku melihat keadaanmu yang seperti ini,” jawab sang teman.

“Jangan menangis karena aku suka apa yang disukai oleh Allah,” ucap Imran bin Hushain.

Kemudian Imran bin Hushain berkata kepada temannya itu, “Aku ingin menyampaikan kata-kata kepadamu. Mudah-mudahan kata-kataku itu bermanfaat bagimu. Aku minta tolong agar kata-kataku ini jangan disiarkan. Simpanlah hingga aku mati. Sesungguhya malaikat berziarah kepadaku dan mengucapkan salam kepadaku dan aku merasa terhibur mendengar suara malaikat itu.”

Selama tiga puluh tahun itu Imran bin Hushain menghadapi penderitaan itu dengan ridho kepada Allah. Berkat keridhaan dan kesabarannya atas takdir dari Allah ia mendapat keistimewaan dan karamah. Diriwayatkan bahwa setiap pagi dan sore hari malaikat berdatangan kepadanya mengucapkan salam dan berjabatan tangan.

Ada sebagian orang menceritakan; ‘Kami datang menjenguk Suwaid bin Syu’bah. Kami melihat ada kain. Kami tidak menyangka ada sesuatu di bawah kain itu. Baru ketika dibuka kami tahu bahwa itu adalah Suwaid bin Syu’bah. Ia diselimuti kain oleh istrinya. Ia lama sakit lumpuh dan terlentang di sana.

“Makanan dan minuman apa yang engkau inginkan wahai suamiku?” Tanya istrinya kepada Suwaid.

“Aku sudah lama berbaring. Kakiku sudah lumpuh dan menjadi kecil. Aku tidak merasakan makanan dan tidak meminum minuman dalam beberapa hari,” kata Suwaid.

Kemudian ia berkata, ”Tetapi aku tidak senang penyakitku ini dikurangi walaupun sepotong kuku.”

Begitulah mereka adalah orang yang melihat bahwa dalam cobaan ada pemberian-pemberian dari Allah. Di dalam cobaan ada anugerah-anugerah dan kelembutan dari Allah. Hal itulah yang membuat mereka senang dan tidak merasakan penderitaannya. Itulah yang menyebabkan mereka ridho kepada Allah dan merasakan musibah itu sebagai kenikmatan sehingga mereka tidak mau penderitaan atau penyakitnya dikurangi sedikitpun. ‘

 

Hikmah Dibalik Musibah

Macam-macam Iuthf, rahmat dan pemberian Allah yang terdapat dalam cobaan banyak sekali dan tak terhitung. Bisa jadi musibah yang menimpa itu hanya satu, tetapi manfaat di baliknya banyak sekali. Namun kami akan menyebutkan sebagian dari faedah-faedah yang terkandung dalam cobaan untuk menambah kekuatan keyakinannya dan sangkaan baiknya kepada Allah sehingga mendorong murid tersebut untuk melaksanakan kewajibannya.

Ketahuilah bahwa cobaan yang diujikan oleh Allah kepada hamba-Nya selalu berlawanan dengan keinginan mereka dan menyulitkan syahwat-syahwat mereka. Misalnya, manusia itu menginginkan kesehatan dan kekayaan. Allah mengujinya dengan kemiskinan dan penyakit.

Namun setiap sesuatu yang membuat kaget dan menyakitkan nafsu pasti berakibat baik dan terpuji. Pahit tetapi akibatnya manis. Ini disebabkan cobaan yang menyakitkan itu bisa membuat seseorang sadar dan kembali kepada Allah, bersandar dan merasa butuh kepada-Nya. Ini adalah faedah terbesar yang diturunkan Allah bersama bala tersebut.

Faedah yang lain ialah cobaan tersebut melemahkan nafsu, kekuatannya hilang, keserakahannya terhadap dunia menjadi berkurang, sifat-sifatnya menjadi batal. Bila tidak demikian maka manusia akan tetap melakukan dosa, gemar kepada dunia dan selalu mengikuti hawa nafsunya. Seperti seseorang yang selalu hidup dalan kekayaan dan kemewahan dunia. Ia rakus kepada dunia dan selalu mengikuti hawa nafsunya. Lalu Allah memberinya cobaan sebuah penyakit sehingga ia tidak lagi bernafsu kepada dunia dan tidak melakukan kemaksiatan lagi disebabkan ujian Allah yang berupa cobaan itu.

Ada yang mengatakan: “Orang mukmin tidak pernah terlepas dari penyakit atau kemiskinan atau kehinaan atau kebutuhan atau kekurangan.”

Dalam hadits Qudsi Allah berfirman: “Kemiskinan adalah penjara-Ku. Penyakit itu adalah ikatan-Ku yang Aku buat mengikat orang yang Aku cintai dari hamba-Ku.”

Faedah yang lain dari cobaan ialah orang yang ditimpa cobaan itu bisa mempunyai amal dan ketaatan hati. Sebiji sawi dari amal batin itu lebih baik dari bergunung-gunung amal badan. Amal batin yang dihasilkan dari sebab cobaan adalah sabar, ridho, zuhud, tawakkal dan cinta bertemu Allah. Agar seseorang itu mempunyai amal batin maka Allah memberinya bala. Maka ia tidak kalah dengan mereka yang taat beribadah dhahir. Sebab nilai amal batin sangat besar dibanding dengan amal dhahir. Bila ia tidak rajin melakukan amal ibadah maka kesabaran, ridho, tawakkal dalam menghadapi cobaan itu adalah ibadahnya. Maka ia tidak kalah dengan ahli ibadah yang lain.

Dikatakan kepada Abdul Wahid bin Zaid bahwa ada seseorang beribadah selama lima puluh tahun. Maka Abdul Wahid menuju orang itu.

“Beritahukan padaku tentang keadaanmu. Apakah kau puas dengannya (ibadah selama lima puluh tahun) ?” Abdul Wahid bertanya kepada orang itu.

“Tidak, ” jawabnya.

“Apakah Engkau merasa senang dengan ibadahmu itu?”

“Tidak.”

“Apakah Engkau ridho dengan ibadahmu itu?”

“Tidak.”

“Kalau begitu keistimewaanmu itu hanya (banyak) shalat dan puasa.”

“Ya.”

“Andai aku tidak malu kepadamu maka aku beritahukan padamu bahwa muamalah-mu dengan Allah selama lima puluh tahun itu masih kecampuran,” kata Abdul Wahid kepada orang tersebut. Maksud Abdul Wahid bahwa orang itu hanya memiliki amal dhahir Saja, bukan amal batin.

Abu Thalib Al-Makki mengatakan bahwa yang dimaksud dari perkataan Abdul Wahid adalah bahwa amalmu tidak bisa mengangkat derajatmu sampai ke maqam AI-Muqarrabin atau para Arifin.

Sedang untuk mencapai kedudukan Al-Muqarrabin atau Al-Arifin harus melalui amal-amal batin. Sebab orang-orang arif itu merasa puas dengan ibadahnya, merasa terhibur karena dia cinta, merasa ridho karena dia sungguh-sungguh tawakkal kepada Allah. Sedangkan orang yang beribadah selama lima puluh tahun itu masih dalam tingkatan ashabul yamin yang bisa masuk surga dengan amal dhahir.

Barangsiapa yang diberi taufiq oleh Allah untuk mendapatkan kedudukan-kedudukan yang tinggi dengan ditimpa bencana-bencana dan ia bisa memenuhi kewajiban-kewajibannya dalam musibah itu dengan sabar dan ridho, maka ia telah mendapatkan gudangnya kebaikan.

Disebutkan dalam kitab An-Nashaih karangan Abu Ibrahim Ishaq bin Ibrahim Al-Qurthubi bahwa Urwah bin Zubair pernah diberi ujian ada luka di kakinya yang tidak bisa sembuh. Kakinya itu harus dipotong. Para dokter menyarankan kepadanya bahwa agar ia tidak merasakan kesakitan ketika kakinya dioperasi maka ia akan diberi obat bius.

“Tidak usah pakai bius. Tetapi tetap lakukanlah operasi pemotongan kakiku itu,” ucap Urwah menolak saran para tabib itu.

Lalu dilakukanlah pemotongan kaki itu dengan digergaji sampai pada proses akhir dipanasi di api. Ketika dilakukan pemotongan Urwah tidak mengeluh sedikitpun. Anggota badannya tidak bergerak. Ia hanya berkata:

Hasbi (cukup bagiku rahmat Allah).”

Setelah selesai proses operasi ia melihat kakinya yang dipotong itu dipegang oleh salah satu anaknya.

“Demi Allah, kaki itu tidak pernah aku gunakan untuk maksiat,” kata Urwah ketika melihat potongan kaki itu.

“Cucilah kaki itu, kafani dan kuburkan di kuburan orang muslimin,” suruh Urwah kepada salah satu pesuruhnya.

“Bila Engkau ambil, maka masih banyak yang tersisa. Kalau Engkau memberi cobaan kepadaku, maka masih banyak yang selamat. Bila Engkau ambil maka masih banyak yang Engkau berikan,” ucap Urwah bermunajat kepada Allah.

Ibnu Qutaibah menyebutkan dalam Uyunul Akhbar dari al-Madaini bahwa ada seorang buta dan berwajah hancur dari Abas datang kepada Al-Walid. Maka Al-Walid bertanya kepadanya tentang sebab kebutaan orang Abas itu. Kemudian orang itu menceritakan riwayat hidupnya.

“Aku adalah orang paling kaya di suku Abas. Pada suatu malam ketika aku dan keluargaku tidur datanglah banjir yang besar. Banjir itu membawa seluruh hartaku dan keluargaku. Yang tersisa dan selamat hanyalah anakku yang masih menyusu dan seekor onta yang liar. Pada suatu hari, setelah kejadian itu, ontaku lepas dan lari. Ketika itu aku sedang menggendong anakku. Lalu anakku itu aku letakkan di tanah dan aku mengejar ontaku itu. Ternyata ketika aku menoleh ke belakang anakku sudah tewas dimakan serigala. Aku terus mengejar untaku itu. Tiba-tiba onta itu berbalik dan menendang wajahku sehingga wajahku berantakan dan kedua mataku menjadi buta. Maka jadilah diriku orang yang tidak punya keluarga, anak, harta dan badan.”

Setelah mendengar cerita orang malang itu Al-Walid berkata:

“Bawalah orang ini kepada Urwah biar dia tahu bahwa ada orang yang mendapat bencana lebih besar darinya.”

Memang bencana akan terasa ringan dengan mengingat bahwa ada orang lain yang lebih parah tertimpa bencana. Bila kita sakit maka ingatlah orang yang terkena penyakit yang lebih besar seperti kusta (judzam) yang mengerikan, belang atau penyakit gila yang membuat hidup sia-sia dan terhina. Dengan mengingat bencana orang lain yang lebih besar, maka kita bisa bersabar dan bersyukur.

 

Hadits-Hadits Mengenai Bencana

Dalam hadits disebutkan :

إِذَا أَحَبَّ الله ُعَبْدًا اِبْتَلَاهُ ؛ فَإِنْ صَبَرَ اِجْتَبَاهُ ، وَإنْ رَضِيَ اِصْطَفَاهُ

“Bila Allah mencintai seorang hamba maka Allah mengujinya dengan bala. Bila ia sabar maka ia dipilih oleh Allah. Bila ia ridho maka ia diistimewakan oleh Allah.”

Ada seseorang berkata kepada Rasululllah shallallahu alaihi wasallam:

أَوْصِنِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ

“Berilah aku wasiat wahai Rasululllah.”

Rasululllah shallallahu alaihi wasallam berkata:

لَا تَتَّهِمِ اللهَ فِيْ شَيْئٍ قَضَاهُ عَلَيْكَ

“Janganlah engkau menuduh Allah dalam sesuatu yang sudah ditentukan oleh Allah.”

Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمَرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إلَّا لِلْمُؤْمِنِ إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Aku heran kepada keadaan orang mukmin. Semua urusannya baik. Tidak ada yang mendapatkan hal itu kecuali orang yang beriman. Bila ia mendapat kebaikan, ia bersyukur. Maka syukurnya itu kebaikan baginya. Apabila ia tertimpa cobaan, ia sabar. Maka sabarnya itu kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari riwayat Suaib)

Bukhari dan Muslim menyebutkan dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri bahwa mereka berdua mendengar Rasulullah bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمّ يَهُمُّهُ إِلَّا كَفَّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah menimpa orang mukmin dari penderitaan, kelelahan, penyakit, kesusahan dan risau hati, kecuali Allah menghapus dosanya dengan sebabnya.

Tentang penyakit panas, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

حُمَّى سَاعَةٍ تُكَفِّرُ سَنَةً

“Sakit panas sesaat bisa menghapus dosa setahun.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ، فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tiada seorang muslim yang ditimpa satu gangguan, dari penyakit dan lainnya, kecuali Allah merontokkan dosanya bagaikan rontoknya daun pepohonan.” (HR. Bukhari – Muslim)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *