Mengetahui Kedudukan Diri
May 13, 2019
Kesedihan Yang Menipu
Jun 8, 2019

خَيْرُ مَا تَطْلُبُهُ مِنْهُ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ

Sebaik-baik yang harus engkau minta dari Allah ialah apa yang engkau disuruh oleh Allah.

 

BERDOA memohon kepada Allah adalah ibadah. Berdoa adalah puncak ibadah. Dalam sebuah hadits disebutkan:

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

“Doa merupakan intisari ibadah.” (HR. Turmudzi)

Ini disebabkan karena dalam doa terkandung ubudiah (sifat kehambaan) dan iftiqar (merasa butuh kepada Allah). Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad berkata dalam syairnya menjelaskan tujuannya dalam berdoa:

قَدْ كَفَانِـيْ عِلمُ رَبِّـيْ         مِنْ سُؤَالِـيْ وَاخْتِيَارِيْ

فَـدُعَـائِـيْ وَابْـــتِــهَـالِــيْ          شَــاهِــدٌ لِــيْ بِافْـتِـقَـارِيْ

فَلِــهَــذَا السِّــرِّ أَدْعُـوْ          فِـيْ يَسَارِيْ وَعَسَارِيْ

Cukup bagiku ilmu Tuhanku

Dari permohonanku dan ikhtiarku

Maka doaku dan permintaanku

Membuktikan bahwa aku butuh pada-Nya

Karena rahasia inilah aku tetap berdoa

Di saat aku senang dan susah

 

Allah adalah Al-Karim (Maha Pemurah). Berbeda dengan manusia yang marah bila selalu dimintai, Allah malah marah kalau tidak diminta. Penyair mengatakan:

لَا تَـسْأَلَـنَّ بُـنَيَّ آدَمَ حَـاجَــةً            وَسَلِ الَّـذِيْ أَبْـوَابُـهُ لَا تُـحْجَبُ

اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ            وَبُـنَيَّ آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Janganlah meminta hajat kepada manusia

Mintalah kepada Tuhan yang pintunya tidak pernah tertutup

Allah marah bila engkau tidak minta kepada-Nya

Manusia apabila diminta ia marah

Doa itu sangat penting, apalagi di zaman sekarang, sebagai perisai dari bencana yang banyak turun dan manusia menjadi sasarannya. Seseorang yang kurang berdoa akan mudah terkena bencana dan hidupnya selalu sial, karena ia tidak punya senjata dan perisai untuk menangkis bencana yang mengarah kepadanya.

Segala permintaan kepada Allah adalah baik. Baik itu permintaan ukhrawi ataupun duniawi. Mintalah apa saja kepada Allah, walaupun itu remeh

Di dalam kitab Al-Jami’ As-shagir disebutkan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ

Hendaklah seseorang dari kalian meminta kepada Tuhannya segala hajatnya, bahkan ia boleh meminta kepada Allah tali sandalnya yang putus. (HR. Turmudzi)

Nabi Musa juga pernah membutuhkan sesuatu yang kecil, yaitu sekeping roti, ketika dalam keadaan lapar di bawah sebuah pohon di kota Madyan di saat tidak ada orang yang dikenal yang mau mengajaknya makan.

Nabi Musa memohon hajatnya kepada Allah berdoa:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Ya Tuhanku, Apa saja yang Engkau turunkan dari kebaikan, aku sangat membutuhkan itu. ” (QS. Al-Qashash: 24)

Atau mintalah sesuatu yang besar sekali, karena bagi Allah tidak ada sesuatu yang besar. Semuanya menjadi remeh bagi Allah, Contoh permintaan besar atau bahkan terbesar seperti yang diminta oleh Rabi’ah bin Ka’ab Al-aslami.

Pada suatu hari, ketika Rabi’ah duduk bersama Rasulullah, Rabi’ah bin Malik ditawari oleh Rasulullah untuk meminta kepadanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Mintalah kepadaku!”

Sahabat Rabi’ah menjawab,

أَسْئَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْـجَنَّة

“Aku minta kepadamu bisa berkawan bersama engkau di surga.”

Rabi’ah tidak meminta barang-barang yang remeh. Ia meminta hal yang sangat mulia yaitu bersama Nabi di Firdaus Al-A’la.

“Apa ada yang lain?” tanya Rasulullah. “Hanya itu saja,” jawab Rabi’ah. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

فَأَعِنِّيْ عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ

“Maka bantulah aku untuk meraih cita-citamu itu dengan banyak sujud.” (HR. Muslim)

Namun dari sekian banyak permintaan, apakah permintaan yang paling baik?

Permintaan terbaik yang harus engkau minta kepada Allah adalah mengenai apa yang disuruh oleh Allah kepadamu, bukan kepentingan-kepentingan dirimu dari kepentingan dunia. Sebab semua kepentinganmu sudah dijamin oleh Allah. Kenapa harus meminta sesuatu yang akan membuat dirimu semakin jauh dari Allah? Atau sesuatu yang bisa menyibukkan dirimu dari Allah? Yang harus engkau minta adalah apa yang dituntut Allah dari dirimu, yaitu permintaan ukhrawi seperti minta ketetapan iman dan meminta istiqamah.

Istiqamah adalah suatu hal yang tidak mudah dicapai. Istiqamah dalam melaksanakan ketaatan lebih baik dari seribu karamah. Apabila seseorang bisa beristiqamah berarti ia telah mendapat seribu keramat atau kesaktian dari Allah. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah untuk beristiqamah dalam firman-Nya Surat Hud: 112:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Beristiqamahlah engkau sebagaimana engkau diperintahkan, bersama orang yang bertaubat bersamamu dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah terhadap apa yang kalian lakukan Maha Melihat.” (QS. Hud: 112)

Ayat ini membuat rambut Nabi beruban. Nabi susah bukan memikirkan dirinya. Yang ia pikirkan hanyalah umatnya. Karena ayat ini juga ditujukan kepada umatnya. Kalau Nabi sudah pasti istiqamah, tetapi bagaimana dengan umatnya? Inilah yang membikin Nabi gundah sehingga rambut Nabi beruban.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ وَأَخَوَاتُـهَا

“Aku menjadi beruban gara-gara ayat dalam surat Hud dan saudara-saudaranya.”

Imam Ghazali dalam Kitab Ihya menyatakan bahwa Istiqamah itu berat dan sulit didapat. Oleh sebab itu, istiqamah itu wajib dimohon dalam salat sehari sebanyak tujuh belas kali. Bukankah setiap orang shalat diwajibkan membaca Al-Fatihah yang di dalamnya terdapat permintaan istiqamah dalam ayat,

إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Maka mintalah istiqamah sebagai permintaan terbaikmu.

Contoh permintaan terbaik yang lain adalah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi dalam doa-doa yang ia ajarkan dan selalu mengarah ke permintaan ukhrawi yang abadi, seperti meminta dibantu untuk berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik.

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu dan bersyukur pada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Juga seperti memohon ridho dan surga Allah dalam doa Nabawi;

أَسْئَلُكَ رِضَاكَ وَالْـجَنَّةَ

“Aku meminta ridho-Mu dan surga.”

Begitulah, permintaan terbaik adalah yang berhubungan dengan hak Allah bukan kepentingan dirimu. Apabila meminta kepentingan diri sendiri, maka terkadang permintaan itu ditolak atau diterima tetapi diundur, disamping menimbulkan kerugian yang berupa kurang sopan dalam meminta kepada Allah. Orang yang dekat kepada Allah merasa bahwa meminta urusan duniawi kepada Allah adalah sebuah bentuk ketidaksopanan.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *