Perbuatan Maksiat Yang Lebih Baik Daripada Amal Taat

Dosa Bisa Menjadi Penghantar Kepada Allah
Oct 25, 2019
Tidak Ada Makhluk Yang Lepas Dari Dua Kenikmatan
Nov 11, 2019

مَعْصِيَةٌ أَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ أَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا

Maksiat (dosa) yang menimbulkan rasa hina dan rasa butuh (pada rahmat Allah) lebih baik dari ketaatan yang menimbulkan kebanggaan diri dan kesombongan.

 

Bukan semua amal taat diterima oleh Allah. Sebab terkabulnya amal taat itu disebabkan ketakwaan, keikhlasan dan tidak tercampur dengan ujub. Seperti yang difirmankan Allah:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesunguhnya amal-amal yang diterima oleh Allah adalah amal-amal yang yang timbul dari hati yang bertaqwa.” (QS. Al-Maidah: 21)

Begitu pula tidak semua dosa dimurkai oleh Allah. Bahkan bila perbuatan dosa itu menimbulkan rasa hina dan butuh kepada Allah menjadi lebih baik daripada amal taat yang membangkitkan rasa besar diri dan kesombongan, karena yang dimaksud dengan amal taat itu adalah tunduk, khusyuk dan merasa rendah diri terhadap Allah. Oleh karena itu jika ada amal taat yang tidak disertai dengan tunduk, khusyuk dan rendah diri, maka itu bukanlah amal taat.

Dalam hadits disebutkan:

أَنَا عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوْبُهُمْ لِأَجْلِيْ

“Saya bersama orang-orang yang rendah diri (hatinya merasa sedih) karena Aku. ”

Yang dipandang dan dilihat oleh Allah adalah hati, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَعْمَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentukmu dan amal perbuatanmu, tetapi Allah melihat kepada hatimu (niat dan keikhlasan).”

Al-Imam al-Harits al-Muhasibi mengatakan: “Sesungguhnya Allah menghendaki kepada hamba-hamba-Nya adalah hati mereka. Maka jika orang yang alim atau ahli ibadah itu sombong, kemudian sebaliknya jika orang yang bodoh atau orang yang bermaksiat itu merasa rendah diri dan takut kepada Allah, maka orang yang bodoh atau orang yang bermaksiat itu lebih taat dengan hatinya kepada Allah daripada orang yang alim atau ahli ibadah itu.”

Orang yang bermaksiat kemudian menyesal, merasa rendah diri dan bertaubat lebih baik daripada orang yang beramal taat tetapi sombong, karena orang tersebut diampuni dosanya oleh Allah dan perbuatan jeleknya diganti menjadi perbuatan baik sehingga melebihi dari orang yang taat. Orang yang seperti ini tetap digolongkan sebagai orang yang muttaqin, meskipun jatuh ke dalam maksiat, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201)

Sayyidi Abu Madyan berkata:

إِنْكِسَارُ الْعَاصِيْ خَيْرٌ مِنْ صَوْلَةِ الْمُطِيْعِ

“Perasaan rendah diri dari orang yang bermaksiat Iebih baik daripada kesombongan orang yang taat.”

Abu Yazid al-Busthami berkata:

نُوْدِيْتُ فِيْ سِرِّيْ: خَزَائِنِيْ مَمْلُوْءَةٌ بِالْخِدْمَةِ, فَإِنْ أَرَدْتَنَا فَعَلَيْكَ بِالذِّلَّةِ وَالْإِفْتِقَارِ

“Aku mendapat panggilan di hatiku (terdengar suara di hatiku) mengatakan: Gudangku wahai Abu Yazid, penuh dengan hikmah. Jika engkau ingin Aku wahai Abu Yazid, maka hendaknya engkau merasa hina, rendah diri dan merasa butuh dengan rahmat-Ku.”

Artinya, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala banyak yang berkhidmat kepadanya, karena seluruh makhluk, baik manusia, malaikat, maupun makhluk yang lainnya semuanya berkhidmat kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang menginginkan Allah hendaknya ia merasa hina, rendah diri dan merasa selalu butuh kepada rahmat Allah.

Oleh karena itu sifat Ubudiyah (merasa hina, rendah diri dan merasa selalu butuh kepada rahmat Allah) sangat penting, baik dalam maksiat maupun dalam keadaan taat. Karena orang yang tanpa disertai sifat Ubudiyah, sekalipun ia melakukan amal taat, maka amalnya akan sia-sia dan tidak berguna, karena sifat sombong itu adalah sifat Rububiyah (ketuhanan) dan ini bertentangan dengan sifatnya sebagai hamba.

 

Disebutkan dalam hadits:

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَشَدُّ مِنْ ذَلِكَ، الْعُجْبُ

“Seandainya kamu tidak ada yang berdosa, niscaya saya lebih takut apa yang lebih berat dari itu, yaitu ujub.”

Memiliki sifat ujub lebih berdosa, karena orang yang bersifat ujub itu berarti menentang Allah, sebab Allah tidak suka orang yang bersifat ujub. Disebutkan dalam hadits bahwa Allah akan mematahkan punggung (menghancurkan) orang yang bersifat ujub dan sombong. Dalam hadits disebutkan:

مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ دَخَلَ النَّارَ

“Siapa yang di dalam hatinya terdapat rasa sombong seberat atom, ia akan masuk neraka.”

Sifat ujub juga termasuk dosa besar yang dapat mengakibatkan amal seseorang bisa dihapus, walaupun banyak amal ibadahnya, karena dari segi lain ia telah melakukan dosa yang besar, yaitu bersifat ujub dan orang seperti ini dibenci oleh Allah. Sebaliknya orang yang bemaksiat, tetapi hatinya tetap ubudiyah kepada Allah, maka orang seperti ini dicintai oleh Allah dan lebih baik daripada orang yang beramal taat tetapi hatinya sombong.

Orang yang dicintai oleh Allah akan gampang untuk bertaubat, karena taubat itu datangnya dari Allah dan Allah-lah sebenarnya yang menggiring dia untuk bertaubat kemudian ia bisa bertaubat, bukan kemauannya untuk bertaubat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا

“Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka bertaubat. ” (QS. At-Taubah: 118)

Allah menerima dia taubatnya sebelum dia bertaubat, sebab Allah tahu bahwa hatinya merasa miskin (butuh) terhadap rahmat Allah, merasa takut kepada-Nya dan masih ada terlintas dihatinya rasa cinta kepada Allah dan ingin melakukan amat taat, tetapi dia terlanjur dikalahkan oleh syetan dan nafsunya.

Orang-orang shalih mereka tidak takut terhadap dosa, tetapi yang paling mereka takuti adalah ujub. Adakalanya orang shalih punya ilimu dan amal ibadah yang banyak dan mempunyai keistimewaan-keistimewaan, tetapi ada kejelekan yang tidak bisa ia tinggalkan dan ini sengaja ditimpakan oleh Allah agar orang tersebut jangan sampai bersifat ujub.

Oleh karena itu al-Habib Ahmad bin Hasan al-Aththas mengatakan: “Setiap orang dari ahli tashawwuf yang bersuluk kepada Allah pasti ada memiliki suatu kesalahan yang sulit ia tinggalkan, kecuali jika dia mempunyai guru, maka di akhir umur akan dihilangkan.”

Guru dari guru-guru kami mengatakan:

مَعْصِيَةٌ بِاللهِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ طَاعَةٍ بِالنَّفْسِ

“Maksiat yang disertai Allah lebih baik dari seribu taat yang disertai hawa nafsu.”

Artinya orang yang bermaksiat yang di bawah Inayah (pengawasan) Allah dan ia dicintai oleh Allah karena hati orang itu baik, merasa takut dan malu kepada Allah lebih baik dari orang yang taat yang dicampuri sifat ujub dan sombong.

Dikatakan :

فَإِذَا الْعِنَايَةُ لَاحَظَتْكَ عُيُوْنُهَا

نَمْ فَالْمَخَاوِفُ كُلُّهُنَّ أَمَانُ

Apabila Inayah Allah itu sudah melirikmu, maka tidurlah, karena segala yang ditakuti itu akan aman.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *