Penampakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Terhijab Oleh Dugaan
May 25, 2020
Allah Bersifat Dhohir Dan Batin
May 26, 2020

لَوْلَا ظُهُوْرُهُ فِى الْمُكَوَّنَاتِ مَا وَقَعَ عَلَيْهَا وُجُوْدُ أَبْصَارٍ لَوْ ظَهَرَتْ صِفَاتُهُ اِضْمَحَلَّتْ مُكَوَّنَاتُهُ

Andaikan Allah tidak tampak pada alam benda-benda ini, maka tidak mungkin adanya penglihatan kepadanya. Seandainya Allah menampakkan sifat-sifat-Nya, maka akan lenyap segala alam benda-benda-Nya.

TIDAK ada seorang manusia pun yang mampu untuk melihat Allah subhanahu wa ta’ala secara langsung di dunia ini, walaupun ia seorang Nabi. Sebab kemampuan manusia di dunia ini sangat terbatas. Berbeda ketika di akhirat, kelak semua orang mukmin yang masuk surga akan melihat Allah dengan mata kepala mereka. Tetapi tingkatan mereka dalam melihat Allah berbeda-beda. Ada yang setiap saat melihat Allah. Ada orang yang hanya sekali dalam sehari semalam. Ada yang hanya sekali seminggu. Ada yang hanya setahun sekali. Semua itu tergantung menurut banyak ingatnya kepada Allah sewaktu ia dunia.
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ اِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri seri. Mereka melihat Tuhan mereka.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)
Dalam sebuah hadits diceritakan, suatu ketika di malam hari, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah duduk bersama para sahabatnya memandang rembulan. Ketika itu beliau teringat dengan kekasihnya Allah dan merasa rindu kepada Dzat Allah yang sempurna. Kemudian beliau berkata kepada para sahabat yang berada di belakang beliau:

اِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا كَمَا تَرَوْنَ هٰذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُوْنَ فِى رُؤْيَتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Allah dengan jelas, sebagaimana kalian melihat rembulan ini. Dan kalian tidak akan berdesakan untuk memandang Dzat Allah.” (HR. Bukhari Muslim)
Memandang Dzat Allah yang sempurna merupakan puncak kebaikan dan kenikmatan di dalam surga.
Al-Imam Ghazali mengatakan:

وَهٰذِهِ هِيَ غَايَةُ الْحُسْنَى وَنِهَايَةُ النُّعْمَى

“Bertemu dan melihat Allah itu adalah puncak kebaikan dan puncak kenikmatan surga dan puncak segala kenikmatan.”
Adapun yang hanya dapat dilihat di dunia ini hanyalah tanda-tanda kekuasaan Allah, seperti langit, bumi dan segala yang ada di alam, bukan sifat-sifat-Nya. Namun jika tanda-tanda kekuasaan Allah itu direnungkan dan dipikirkan, semuanya akan kembali kepada Allah. Sebab semua yang ada di alam ini menunjukkan akan adanya penciptanya, yaitu Allah subhanahu wa ta ‘ala sehingga kita akan dapat mengenal Penciptanya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.
Jangankan untuk bisa melihat Allah, Pencipta alam ini. Melihat alam-alam ciptaan Allah ini pun terkadang manusia tidak mampu walaupun itu adalah makhluk yang paling kecil dan paling lembut. Begitu pula halnya makhluk yang paling besar terkadang manusia tidak mampu untuk memandanganya, seperti menatap matahari di siang hari. Padahal ini semua adalah ciptaan Allah. Karena kemampuan manusia terbatas apalagi untuk bisa melihat Pencipta semua apa yang ada alam ini, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.
Jika Allah menampakkan sifat-sifat-Nya ke alam ini, maka niscaya alam ini akan hancur semua, bahkan tidak akan ada penglihatan, mata yang melihat dan orang yang melihat. Semuanya akan lenyap.
Di dalam hadits disebutkan :

حِجَابُهُ النَّارُ

“Allah itu dihijab oleh api.”
Dalam riwayat lain :

النُّوْرُ, لَوْ كَشَفَهَا لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ كُلَّ شَيْءٍ اَدْرَكَهُ بَصَرُهُ

“(Allah itu di hijab oleh) cahaya. Andaikan cahaya itu dibuka dan dinampakkan Allah, maka akan terbakar semua yang ada di depannya. ”
Di dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan bahwa Nabiyullah Musa alaihissalam pernah meminta untuk bisa melihat-Nya:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. Berkatalah Musa: “Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke bukit itu. Maka jika ia tetap di tempatnya (tetap seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, maka dijadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’raf: 143)
Sebagian mufassirin mengatakan bahwa pingsannya Nabi Musa alaihissalam bukan dikarenakan penampakan Allah subhanahu wa ta’ala, namun dikarenakan Nabi Musa alaihissalam merasa terkejut akibat pecahnya gunung itu yang dikarenakan tajalli Allah pada gunung itu. Seandainya Nabi Musa menerima tajalli Allah, niscaya Nabi Musa tidak akan sanggup menerimanya sebagaimana halnya gunung itu. Sebab, manusia tidak akan mampu untuk melihat Allah, walaupun ia seorang Nabi.
Sebagian mufassirin juga mengatakan: Dalam ayat tersebut Nabi Musa mengatakan: “Tuhanku.” dan tidak mengatakan: “Wahai Tuhanku.” karena di saat itu Nabi Musa merasa bahwa dirinya sangat dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala.
Dalam ketidakmampuan itu Nabi Musa pun minta ampun kepada Allah seraya mengatakan: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *