Pemberian Yang Merugikan

Lipatan Yang Sebenarnya
Sep 13, 2019
Beramal Segera Dibalas
Sep 24, 2019

اَلْعَطَاءُ مِنَ الْـخَلْقِ حِرْمَانٌ وَالْمَنْعُ مِنَ اللهِ إِحْسَانٌ

Pemberian dari makhluk adalah kerugian, dan pencegahan dari Allah adalah keuntungan.

 

PEMBERIAN makhluk kepadamu hakekatnya merupakan suatu kerugian. Pemberian makhluk itu bisa menghijab (menghalangi) dirimu dari Allah. Sebab, di saat diberi oleh orang itu engkau melihat kepada selain Allah. Engkau melihat kepada orang yang memberimu dan lupa kepada Allah. Yang dipikirkan oleh dirimu ketika diberi seseorang adalah kesenanganmu sendiri dan keinginan nafsumu.

Tetapi pencegahan Allah adalah suatu keuntungan bagimu. Kalau Allah tidak memberimu itu sebuah kebaikan dan kenikmatan karena engkau bisa tetap berdiri di pintu-Nya dan selalu butuh kepada-Nya. Kalau dikasih belum tentu kamu begitu. Mungkin kamu lupa dari Allah dan mengikuti hawa nafsumu. Jadi hakikat dari pencegahan itu adalah kenikmatan, karena engkau tetap bersama Allah dan tidak terhijab dari melihat Allah.

Atau dengan kata lain, pemberian dari makhluk adalah suatu kerugian karena akibatnya engkau cinta kepada orang yang memberi itu dan kamu merasa berhutang budi kepadanya. Walaupun kemarin musuh, tetapi gara-gara diberi sesuatu bisa berubah dan timbul rasa cinta kepada orang yang memberi itu. Engkau tidak mencintai Allah, malah engkau mencintai orang yang memberi. Akan tetapi pencegahan dari Allah adalah keuntungan karena Allah menjadi kecintaanmu dan apa saja yang dilakukan kekasih adalah baik.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karromallahu wajhahu dalam wasiatnya berkata :

لَا تَجْعَلْ بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ مُنْعِمًا وَعُدَّ نِعْمَةَ غَيْرِهِ عَلَيْكَ مَغْرَمًا

“Janganlah engkau merasa ada yang memberi nikmat kepadamu selain Allah dan anggaplah segala nikmat yang engkau terima dari selain Allah adalah kerugian.”

Orang bijaksana berkata:

حَمْلُ الْمِنَنِ أَثْقَلُ مِنْ الصَّبْرِ عَلَى الْعَدَمِ

“Menanggung budi kebaikan manusia lebih berat daripada sabar dalam ketiadaan”

Lebih baik bersabar ketika tidak punya daripada menerima pemberian orang lain dan merasa punya hutang budi. Begitulah sifat para sufi.

Ada yang berkata:

عِزُّ النَّزَاهَةِ أَشْرَفُ مِنْ سُرُوْرِ الْفَائِدَةِ

“Kemuliaan bersih diri lebih mulia dari kegembiraan mendapat faedah dari orang.”

Bagi para sufi, lebih baik tidak diberi. Itu lebih mulia daripada menerima pemberian orang lain.

Banyak cara untuk mendapatkan rezeki. Seorang pedagang mendapatkan rezeki dengan merayu pembeli. Ada yang melalui meminta-minta. Tetapi orang sufi dapat rezeki dari jalan yang mulia. Rezeki datang kepadanya dengan tanpa mengharap. Allah langsung mengirim rezeki kepadanya dengan jalan yang tanpa diduga-duga. Rezeki datang kepadanya dengan hina. Bukan ia yang mengemis dan meminta-minta, tetapi orang yang memberi memohon untuk pemberiannya diterima. “Tolong pemberian saya yang sedikit ini diterima. Ini halal,” kata yang memberi memohon-mohon untuk diterima kepada sebagian mereka.

Jadi, pada hakikatnya pemberian dari makhluk adalah kerugian dan pencegahan dari Allah merupakan keuntungan. Sekali lagi ini pada hakikatnya. Ini bukan berarti kita jangan memberi atau jangan menerima pemberian dari orang lain.

Sikap yang benar jika mendapatkan kenikmatan dari Allah melalui manusia ialah langsung kita ingat bahwa yang memberi adalah Allah. terus kita ucapkan terima kasih, jazakumullah khoiron, kepada orang yang memberi itu karena ia pesuruh Allah. Allah-lah yang mengirim orang itu kepada kita. Kalau orang yang tampak di depan kita tidak kita syukuri apalagi Allah.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ

“Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”

Walhasil, jangan sampai kenikmatan yang kita dapat menjadi kenikmatan yang merugikan kita, yaitu ketika menerima kenikmatan kita lupa kepada Allah dan hanya ingat kepada orang yang memberi itu. Inilah yang dimaksud dengan kenikmatan yang menghijab dari Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *