Pedulikan Allah, Hilangkan Perhatian Manusia

Tak Benar-Benar Beribadah, Orang Yang Ingin Keistimewaannya Dikenal
Sep 2, 2020
Antara Makrifat, Fana Dan Mahabbah
Sep 9, 2020

 غِبْ عَنْ نَظْرِ الْخَلْقِ اِلَيْكَ بِنَظْرِ اللهِ اِلَيْكَ وَغِبْ عَنْ شُهُوْدِ اِقْبَالِهِمْ عَلَيْكَ بِشُهُوْدِ اِقْبَالِهِ عَلَيْكَ

Hilangkanlah pandangan makhluk kepadamu karena puas dengan pandangan Allah kepadamu dan lupakanlah perhatian manusia kepadamu dengan melihat bahwa Allah menghadap kepadamu.

 

HILANGKAN pandangan makhluk kepadamu dengan hanya merasa cukup dipandang Allah. Sebab, pada hakikatnya semua makhluk selain Allah itu tidak ada dan tidak berguna. Mereka bagai bayangan semu. Yang ada hanyalah Allah Yang Maha Esa.

Lupakan perhatian makhluk darimu dengan melihat bahwa Allah yang menghadap kepadamu. Karena kalau seseorang menghadap kepada Allah berarti ia berpaling dari makhluk. Sebaliknya, kalau ia menghadap kepada makhluk berarti ia berpaling dari Allah. Ini dikarenakan dua tujuan, yaitu Allah dan makhluk, tidak bisa berkumpul di dalam satu hati. Oleh sebab itu, murnikan tujuanmu hanya kepada Allah.

Rasulullah mengajarkan kepada Ibnu Abbas sebuah prinsip agar dapat menjalani kehidupan ini dengan bahagia:

يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ.

“Wahai bocah kecil. Aku ajari kamu beberapa kalimat. Jagalah Allah maka Allah menjagamu. Jagalah Allah maka engkau temukan Allah di depanmu. Bila engkau meminta maka mintalah kepada Allah. Jika engkau minta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, andai seluruh manusia bersepakat untuk memberimu manfaat maka mereka tidak bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah. Andai mereka bersepakat untuk membahayakan dirimu maka mereka tidak bisa membahayakan dirimu kecuali dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah. Pena sudah terangkat dan lembaran sudah kering.” (HR. Turmudzi)

Prinsipnya, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits di atas, ialah selagi kita dalam kebenaran dan diridhoi Allah maka jangan pedulikan manusia. Yang penting adalah perhatian Allah bukan perhatian manusia. Sebab, manusia tidak bisa memberi manfaat ataupun bahaya sedikitpun. Jika prinsip ini kita pegang maka kehidupan ini terasa bahagia.

Akan tetapi, orang yang perhatiannya selalu tertuju kepada manusia, bukan kepada Allah, maka kehidupannya akan penuh dengan kesusahan. Penyair berkata:

مَنْ رَاقَبَ النَّاسَ مَاتَ غَمًّا         وَفَازَ بِاللَّذَّةِ الْجَسُوْرُ

Orang yang selalu memperhatikan manusia ia akan mati dalam kesedihan

Orang yang mendapat kebahagiaan hidup adalah orang yang berani

Pada suatu hari Luqman Al-Hakim mengajak anaknya ke pasar. Ia menunggang keledai dan anaknya berjalan menuntun keledai tersebut.

“Ini orang tua yang tidak kasihan dengan anaknya,” ucap orang-orang yang melihat kejadian itu.

Kemudian Luqman membonceng anaknya.

“Masak keledai satu dinaiki dua orang. Kenapa tidak tiga orang sekalian, (biar cepat mati),” kata orang-orang yang mereka temu di jalan.

Lalu Luqman turun dari keledai itu dan anaknya dibiarkan tetap berada di atas keledai.

“Orang tuanya berjalan kaki, anaknya naik keledai. (Ini anak kurang ajar),” komentar orang selanjutnya.

Akhirnya mereka berdua sama-sama berjalan kaki menuntun keledai.

“Punya keledai tidak dinaiki. Kenapa cuma dituntun,” komentar orang-orang berikutnya.

Luqman Al-Hakim ingin memberi pelajaran kepada anaknya bahwa tidak ada yang selamat dari celaan manusia dan orang yang selalu mengikuti selera manusia akan hidup dalam kesusahan.

Mencari kepuasan manusia adalah tujuan yang tidak bisa dicapai. Hanya orang yang paling dungu yang mencari sesuatu yang tidak bisa diraihnya. Sedangkan orang yang berakal sempurna ia akan selalu menghadap kepada Allah. Asalkan ia dalam kebenaran dan diridhoi Allah, ia tidak peduli dengan cacian dan celaan orang. Ia akan berkata dalam hatinya, “Apa yang tidak kalian suka dariku itulah yang disukai hatiku.” Ia juga akan berkata seperti apa yang dikatakan Muhammad bin Aslam, “Ada perlu apa diriku dengan manusia. Aku di sulbi ayahku sendiri, di perut ibuku sendiri, dilahirkan sendiri, ruhku dicabut sendiri, dimasukkan liang lahat sendiri, didatangi dan ditanyai Munkar-Nakir sendiri, memperoleh kebaikan sendiri, mendapat keburukan sendiri, menghadap Allah sendiri, amal dan dosaku diletakkan di mizan sendiri, masuk surga sendiri dan masuk neraka sendiri. Ada urusan apa aku dengan manusia?”

Rabiah Al-Adawiyah menyatakan dalam syair munajatnya kepada Allah:

 فَلَيْتَكَ تَحْلُوْ وَالْحَيَاةُ مَرِيْرَةٌ         وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالْأَنَامُ غِضَابٌ

وَلَيْتَ الَّذِيْ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ عَامِرٌ      وَبَيْنِيْ وَبَيْنَ الْعَالَمِيْنَ خَرَابٌ

اِذَا صَحَّ مِنْكَ الْوُدُّ فَالْكُلُّ هَيِّنٌ      وَكُلُّ الَّذِى فَوْقَ التُّرَابِ تُرَابُ

Aduhai sekiranya hubungan dengan-Mu manis dan kehidupan ini pahit

Aduhai sekiranya Engkau rela dan manusia marah

Aduhai sekiranya hubunganku denganmu makmur dan hubunganku dengan manusia runtuh

Kalau cintaku padamu sudah benar maka semuanya tak ada artinya

Apa yang di atas tanah adalah tanah

Harits bin Asad Al-Muhasibi berkata ketika ditanya tentang tanda orang yang Shadiq (jujur dalam beribadah) : “Orang yang jujur adalah orang yang tidak peduli dinilai apa saja oleh manusia demi kebaikan hatinya. Ia tidak senang sedikitpun amal kebaikannya diketahui manusia dan tidak benci manusia tahu kejelekan amalnya. Sebab, kalau ia benci hal tersebut berarti ia menuntut lebih dari manusia. Itu bukan akhlak orang-orang jujur.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *