Orang Yang Punya Izin, Ucapannya Bisa Dipahami

Kata-Kata Membawa Corak Hati
Nov 9, 2020

مَنْ أُذِنَ لَهُ فِى التَّعْبِيْرِ فُهِمَتْ فِى مَسَامِعِ الْخَلْقِ عِبَارَتُهُ, وَجُلِيَتْ اِلَيْهِمْ اِشَارَتُهُ

Barang siapa yang diberi izin dari Allah untuk memberi keterangan maka kata-katanya akan dapat dimengerti oleh pendengar, dan menjadi jelas petunjuk-petunjuknya bagi mereka.

 

MEREKA yang diberi izin untuk memberi keterangan atau nasihat adalah orang-orang yang berbicara karena Allah, dengan bantuan Allah dan di dalam tuntunan hukum Allah. Oleh karena itu, perkataan mereka pasti tepat dan benar.

Izin dari Allah untuk berbicara ini bisa langsung dari Allah atau lewat Rasulullah atau gurunya.

Imam Junaid berkata: “Kalimat yang benar hanya diucapkan setelah mendapat izin.” Hal ini seperti yang diisyaratkan oleh firman Allah Ta’ala:

لَا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

“Mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih; dan ia mengucapkan kata yang benar.” (QS. An-Naba’ : 38)

Jika orang yang diberi izin untuk berbicara itu mengucapkan perkataan, maka kata-katanya langsung dapat dimengerti oleh pendengar sehingga tidak membutuhkan pengulangan. Petunjuk-petunjuk yang ia berikan jelas dan terang di telinga pendengarnya sehingga ia tidak perlu banyak bicara. Ini berbeda dengan orang yang tidak diberi izin oleh Allah.

Dikatakan kepada Hamdun bin Ahmad bin Amarah Al-Qashshar: “Kenapa perkataan para salaf lebih berguna daripada perkataan kita?” Beliau menjawab: “Karena mereka berbicara dan bertujuan untuk kemuliaan Islam, menyelamatkan jiwa dan demi keridhaan Allah. Sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan demi keridhaan makhluk.”

Bahasa mereka, orang yang mendapat izin ini, tampak sederhana. Terkadang pula dalam kata-kata mereka ada kekeliruan dari segi tata bahasa. Sebab, mereka lebih memperhatikan makna bukan lafadhnya, dan isinya bukan wadahnya. Yang penting perkataan mereka dipahami oleh orang. Mereka tidak memaksa diri untuk memperhatikan gaya bahasa yang mereka gunakan karena mereka hanya memperhatikan Allah Al-alim Al-khabir.

Oleh karena itu, jika bergaul dengan mereka, maka haruslah selalu memasang husnuddhon kepada mereka. Walau timbul kekeliruan dalam ucapan mereka dari segi bahasa, tetaplah beriktikad baik kepada mereka. Sebab, seperti kata mereka, lahnuna mu’rob (kesalahan bahasa mereka sebenarnya betul).

Diceritakan ada seorang ahli nahwu datang ke majlis Syeikh Hasan bin Sam’un untuk mendengarkan pengajiannya. Ahli nahwu itu menemukan kesalahan bahasa yang diucapkan oleh Syeikh Hasan bin Sam’un. Ahli Nahwu itu bergegas pergi meninggalkan majlis Syeikh Hasan sambil mencelanya. Berita itu sampai kepada Syeikh Hasan. Lalu Syeikh Hasan menulis surat kepada ahli nahwu itu yang isinya,

“Engkau hanya memperhatikan pada ucapan, tetapi engkau tidak memperhatikan kesalahan perbuatanmu. Engkau hanya ribut antara khafd, rafa’, nashab , jazm, hingga engkau terputus dari tujuan. Kenapa tidak engkau rafa’-kan (angkat) segala hajatmu kepada Allah, engkau khafad-kan (patahkan) setiap kemungkaran, engkau jazam-kan (bertekad bulat meninggalkan) syahwat, engkau nashab-kan (letakkan) kematian di hadapan matamu. Demi Allah, wahai saudaraku, seorang hamba tidak ditanya kenapa engkau tidak memakai i’rab, tapi yang ditanya kenapa engkau berdosa? Yang dimaksud bukanlah kefasihan perkataan, namun yang dimaksud adalah kefasihan perbuatan. Andai keutaman itu terletak pada kefasihan lisan, maka Nabi Harun lebih berhak mendapat risalah daripada Nabi Musa ketika Musa berkata, “Saudaraku Harun lebih fasih lidahnya dariku.”

Dalam kitab Tadzkirunnas diceritakan bahwa ada seseorang berkunjung ke seorang wali Allah. Sesampainya di tempat sang wali, ia mendengar wali itu dalam pengajiannya mengucapkan bait syair,

يَظُنُّ النَّاسُ بِيْ خَيْرًا وَإِنِّيْ       لَشَرُّ النَّاسُ اِنْ لَمْ تَعْفُ عَنِّيْ

Wali itu keliru dalam membaca syair tersebut. Ia membaca dhammah sin dalam kata Lasyarrunnas yang seharusnya dibaca kasrah.

“Sia-sia perjalananku ke sini,” kata orang yang berkunjung itu dengan nada kecewa. Ia pulang ke tempat asalnya. Di tempat asalnya itu ia lantas mendengar banyak orang memuji orang yang ia kunjungi itu. Orang-orang mengatakan bahwa beliau adalah seorang wali besar yang bisa menuntun perjalanan murid menuju Allah.

Orang itu kembali mengunjungi sang wali dengan berbaik sangka kepada wali tersebut. Di tempat sang wali itu ia mendengar wali itu mengucapkan bait syair yang dulu ia dengar dalam kunjungannya yang pertama.

يَظُنُّ النَّاسُ بِيْ خَيْرًا وَإِنِّيْ       لَشَرُّ النَّاسِ اِنْ لَمْ تَعْفُ عَنِّيْ

Wali itu membacanya dengan benar, dengan membaca kasrah sin-nya.

Wali itu menoleh kepada orang yang berkunjung tersebut sembari berkata, “Hai orang ini, kau pergi gara-gara dhammah dan datang kembali gara-gara kasrah.”

Kesimpulannya, memang mereka lebih memperhatikan isi bukan kata-kata. Akan tetapi orang yang memiliki ilmu dhahir dan batin, yang mengumpulkan kefasihan hal (perbuatan) dan kefasihan maqal (ucapan) maka itulah orang yang sempurna. Kata-kata orang itu bermanfaat walaupun orangnya telah meninggal dunia. Orang-orang ini seperti Imam Ghazali, Tusturi, Syadzili, Al-Mursi dan Ibnu Athaillah As-Sakandari Radiyallahu Anhum.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *