Orang Yang Lalai Dan Orang Yang Ingat Kepada Allah

Madad Turun Tergantung Persiapan Hati
Feb 16, 2020
Kerisauan Hati Ahli Ibadah Dan Orang Yang Zuhud
Feb 27, 2020

الْغَافِلُ إِذَا أَصْبَحَ يَنْظُرُ مَاذَا يَفْعَلُ, وَالْعَاقِلُ يَنْظُرُ مَاذَا يَفْعَلُ اللهُ بِهِ

Orang yang lalai dalam keimanannya (ketauhidannya) jika datang waktu pagi, ia memikirkan apa yang akan dia lakukan pada hari itu. Tetapi orang yang berakal (imannya sempurna), dia akan memikirkan apa yang dilakukan Allah terhadap dirinya pada hari itu.

LINTASAN yang terlintas pertama kali pada diri manusia pada pagi hari adalah menurut timbangan tauhidnya. Masing-masing orang tidak sama tingkatan tauhidnya dikarenakan menurut timbangan tauhidnya.
Orang yang lalai, yang pertama terlintas dalam hatinya adalah memikirkan dirinya, memikirkan urusannya: Apa yang akan saya lakukan pada hari ini ? Orang seperti ini berarti lalai (lupa) dari Allah, hanya memikirkan dirinya. Orang ini berarti berpaling dari Allah (tidak memikirkan Allah).
Orang yang lalai ialah orang yang tidak bersandar kepada Allah, tidak menyerahkan dirinya semuanya kepada Allah, tetapi bersandar kepada akal pikirannya dan kepada daya upayanya sendiri. Dia tidak punya pikiran bahwa yang memberi dan mengatur rezeki adalah Allah yang Hidup Kekal dan Selalu mengurusi makhluk-Nya.

لَا تُدَبِّرْ لَكَ أَمْرًا وَأُولُوْ التَّدْبِيْرِ هَلْكَى
سَلِّمِ الْأَمْرَ إِلَيْنَا نَحْنُ أَوْلَى بِكَ مِنْكَ

Janganlah engkau mengatur rencanamu,

karena orang yang mengatur rencana itu akan binasa
Serahkan semua perkaramu kepada Kami,
Kami yang lebih mengerti tentang dirimu daripada kamu
Orang yang seperti ini, oleh Allah akan dilimpahkan dan diserahkan segala urusannya kepada orang itu sendiri. Sehingga orang itu akan mendapatkan kesulitan dalam segala urusannya dan hatinya akan bingung. Sebab, yang menciptakan, mengatur menentukan dan memilih adalah Allah subhanahu wa ta’ala.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

“Tuhanmu-lah yang menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia-lah yang memilih.”(QS.Al-Qoshosh: 68)
Seperti inilah yang paling ditakuti oleh orang yang imannya sempurna. Termasuk juga Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau takut jangan sampai hal tersebut menimpa beliau. Sehingga dalam doanya beliau mengatakan:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ, وَمِنْ عَذَابِكَ أَسْتَجِيْرُ, أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، ولاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Tuhan yang Hidup Kekal dan Selalu mengurusi makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku minta tolong, dan dari siksa-Mu aku berlindung, Ya Allah perbaikilah segala urusanku, jangan engkau serahkan padaku urusan walaupun sekejap mata.”
Dalam doa tersebut, Nabi shallallahu alaihi wasallam berlindung kepada Allah agar jangan melimpahkan segala urusannya kepada diri beliau sendiri, walaupun hanya dalam sekejap mata saja.
Seandainya urusan di dunia ini satu detik saja diserahkan kepada manusia tanpa diurus oleh Allah, niscaya dunia dan seisinya ini akan hancur. Karena Allah-lah yang mengurus segala urusan yang ada dalam dunia ini.
Manusia semua sangat lemah, tidak mampu untuk menguasai (memiliki) dirinya. Tidak bisa mendatangkan manfaat untuk dirinya. Tidak bisa menolak bahaya yang menimpa dirinya.

لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُوْرًا

“Manusia itu tidak bisa mendatangkan manfaat dan kemudharatan untuk dirinya, tidak bisa mendatangkan kematian, kehidupan dan kebangkitan.”
Kita boleh berencana, mengatur segala urusan dan memikirkan kehidupan, tetapi kita harus punya keyakinan bahwa yang menentukan segala-galanya adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Karena segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa izin dan takdir dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Orang yang berencana dengan mengatur kehidupannya tetapi tetap bersandar hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tanpa bersandar dengan akal pikirannya, orang seperti ini bukanlah termasuk orang yang lalai dari Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala lebih suka dalam memberikan rezeki-Nya kepada hamba-Nya dari arah yang tanpa diduga oleh si hamba itu. Agar si hamba itu selalu ingat dan tahu akan kebesaran-Nya dan Dialah yang memberi rezeki.
Dalam pepatah Arab disebutkan:

الْمَرْءُ فِيْ تَفْكِيْرٍ وَاللهُ فيْ تَدْبِيْرٍ

“Manusia berencana, tetapi Allah-lah yang menentukan.”

Orang Yang Berakal
Allah subhanahu wa ta ‘ala berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Apabila kamu sudah bersungguh-sungguh, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)
Orang yang berakal sehat (imannya sempurna) dia akan berpikir apa yang diperbuat Allah kepada dirinya. Apa yang akan diberikan Allah kepadanya dari rezeki-Nya dengan selalu menunggu-nunggu rahmat dari Allah.
Dia selalu meminta kebaikan dari Allah. Bersandar kepada Allah dengan tanpa bergantung pada akal pikirannya. Sebab dia merasa bahwa yang menentukan semua itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala.
Orang seperti ini akan selalu pasrah dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Jika dia mendapatkan suatu musibah, dia mengakui dan merasa bahwa semua itu adalah tindakan Allah kepada dirinya. Maka orang seperti itu akan bersabar, karena yang mencubit itu kekasihnya.
Tetapi sebaliknya jika dia mendapatkan kenikmatan, maka dia akan bersyukur kepada Allah. Jika dia melakukan maksiat, dia akan kembali kepada Allah, kemudian beristighfar. Jika dia melakukan ketaatan, dia mengerti bahwa ketaatan itu juga datang dari Allah. Maka dia selalu berpikir bahwa semua ini adalah tindakan dan takdir Allah.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu-lah kami meminta pertolongan.”

اللّٰهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan melaksanakan ibadah kepada-Mu dengan baik.”

وَهُوَ الشَّاكِرُ وَهُوَ الْمَشْكُوْرُ

“Dan Allah-lah yang bersyukur, dan Allah-lah pula yang disyukuri.”
Orang seperti ini akan selalu bersama Allah, tidak pernah lepas kebutuhannya dari Allah dan selalu butuh kepada Allah. Maka orang seperti ini akan mendapat taufiq dan inayah (bantuan) dari Allah subhanahu wa ta’ala. Karena segala urusannya ia pasrahkan kepada Allah. Hidupnya akan bahagia di dunia dan di akhirat. Dan segala urusannya akan diurus dan ditolong oleh Allah dan dilindungi dari bahaya dunia dan akhirat.
Ini yang dijanjikan oleh Allah dalam ayat yang di atas, rezekinya orang yang bertakwa akan dicukupi.
Allah Ta’ala berfirman :

وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ

“Dan Allah-lah yang mengurus hamba-hamba yang sholeh.” (QS. Al-A’raf: 196)
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda :

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Kalau kamu sungguh-sungguh bertawakkal kepada Allah, maka kamu akan diberi rezeki seperti burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan kosong perutnya, kembali sore harinya, perutnya sudah penuh. ” (HR. Tirmidzi)
Burung itu punya tawakkal yang kuat kepada Allah, berbeda dengan manusia yang selalu bergantung pada makhluk. Sehingga dia selalu mengalami kesulitan. Kebanyakan orang-orang lupa dengan ayat yang selalu mereka baca:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia memberinya jalan keluar (dari segala kesulitan) dan akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak terduga. Dan orang yang bertawakkal pada Allah akan dicukupi oleh-Nya, sesungguhnya Allah akan melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 2-3)
Maksud ayat ini adalah dicukupi bukan sebatas materi, tetapi kepuasan hati, karena orang yang bertakwa itu diberi ketenangan hati oleh Allah. Kiranya tidak disalahpahami dengan mengatakan: “Banyak orang yang bertaqwa tetapi kehidupan materialnya terbatas.”
Yang perlu diingat bahwa ayat tersebut tidak mengatakan bahwa Allah akan menjadikannya kaya raya. Di sisi lain rezeki itu tidak hanya berbentuk materi. Tetapi adakalanya berbentuk kepuasan hati.

الْقَنَاعَةُ كَنْزٌ لَا يَفْنَى

“Kepuasan hati adalah kekayaan yang tidak pernah habis.”
Ada juga rezeki yang sifatnya pasif. Sebuah contoh, si A yang setiap bulannya berpenghasilan lima juta rupiah, namun dia atau salah satu dari anggota keluarganya menderita sakit-sakitan, lebih sedikit dibanding dengan si B yang hanya berpenghasilan dua juta, tetapi ia selalu dalam keadaan sehat dan hatinya tenang.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ, مُعَافًى فِي جَسَدِهِ, وَعِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ, فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا

“Siapa yang bangun pagi aman dalam keluarganya, badannya sehat, yang dimakan untuk sehari ada, maka orang itu seakan-akan memiliki dunia dan seisinya.” (HR. Tirmidzi)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *