Obral Rahasia Hati, Bisa Tak Dapat Lagi

Baru Mendekati Bisa Bicara Kewalian
Dec 10, 2020
Dua Syarat Menerima Pemberian
Dec 16, 2020

لَا يَنْبَغِى لِلسَّالِكِ اَنْ يُعَبِّرَ عَنْ وَارِدَاتِهِ فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا يُقِلُّ عَمَلَهَا فِى قَلْبِهِ وَيَمْنَعُهُ وُجُوْدَ الصِّدْقِ فِيْهَا مَعَ رَبِّهِ

Tidak layak bagi Salik (seorang yang baru menempuh jalan Allah) menerangkan apa yang telah didapat dari karunia Allah, karena demikian itu dapat mengurangi pengaruhnya di dalam hatinya dan menghalangi kesungguhannya terhadap Tuhannya.

 

WARIDAT (rahasia karunia Allah yang datang di hati) yang diberikan kepada seorang murid yang sedang berjalan menuju Allah harus dijaga dan disimpan dengan baik. Janganlah rahasia karunia Allah itu diobral murah kepada sesama manusia.

Bila diobral, maka hal itu dapat mengurangi keikhlasannya dan merupakan suatu bukti bahwa orang tersebut kurang sungguh-sungguh terhadap Allah. Sebab, orang yang menceritakan keistimewaannya merasa bangga atau ujub dengan apa yang telah ia dapat dari Allah.

Ibn Athaillah menyatakan dalam kata hikmah sebelumya;

 اِسْتِشْرَافُكَ اَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِى عُبُوْدِيَّتِكَ

“Keinginanmu supaya orang mengetahui keistimewaanmu adalah sebuah bukti tidak adanya kesungguhanmu dalam beribadah kepada Allah. ”

Syeikh Abu Abdillah Al-Qurosyi mengatakan: “Orang yang tidak merasa puas dalam perbuatan dan perkataannya dengan pendengaran dan penglihatan Allah, maka sudah pasti ia kemasukan riya’. “

Menceritakan rahasia keistimewaan diri sendiri kepada orang lain menyebabkan keistimewaan itu menjadi berkurang dari dalam hati. Bahkan pada akhirnya, bila terus diobral, keistimewaan itu menjadi hilang sama sekali. Allah mencabut keistimewaan itu dari orang tersebut, karena dia dianggap tidak bisa memegang rahasia langit. Butuh waktu lama untuk mengembalikannya seperti semula.

Ini diibaratkan seperti seseorang yang memasak air, untuk bikin kopi misalnya. Airnya mulai mendidih. Tapi malah ia menuangkan air dingin ke air yang mulai memanas itu. Maka butuh waktu lama untuk mendidih kembali.

Begitupula hati yang mulai memanas dan mulai mendapat rahasia Allah. Menyebarkan rahasia itu berarti mendinginkan hati itu kembali. Maka butuh waktu lama untuk memanaskannya kembali dengan dzikir. Bisa jadi itu memakan waktu bertahun-tahun.

Sebaliknya, apabila rahasia itu disimpan rapat-rapat dalam hati, maka karunia Allah itu semakin bertambah besar. Bagai buah yang disimpan, ia akan cepat masak. Karena orang itu bisa menyimpan rahasia Allah, tentu Allah lebih percaya kepada orang tersebut. Maka Allah akan menitipkan kepadanya rahasia-rahasia yang lebih hebat, sehingga ia bisa mencapai tingkatan seorang arif.

Bila sudah berada pada tingkatan sebagai seorang arif maka ia aman untuk menampakkan rahasia itu dengan izin Allah. Namun bagi seorang salik tidak boleh menceritakan rahasia karunia Allah itu, kecuali kepada guru mursyid-nya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *