Nikmat Tetap Walau Maksiat, Jangan-Jangan Itu Istidraj

Kalau Tidak Mau Dengan Cara Lembut Maka Dengan Cara Kasar
Mar 11, 2019
Kebodohan Murid: Salah Masih Merasa Benar
Mar 22, 2019

خَفْ مِنْ وُجُوْدِ إِحْسَانِهِ إِلَيْكَ وَدَوَامِ إِسَاءَتِكَ مَعَهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ اِسْتِدْرَاجًا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ

Hendaknya engkau merasa takut jika engkau selalu mendapatkan kebaikan-kebaikan dari Allah sedangkan engkau tetap dalam perbuatan maksiat, jangan sampai kenikmatan itu menjadi istidraj dari Allah. Firman Allah, “Akan Kami tarik mereka secara berangsur-angsur dengan cara yang mereka tidak tahu.”

KADANG-KADANG kenikmatan yang diberikan Allah kepada seseorang itu berupa karomah (kemuliaan) dari Allah. Nabi Sulaiman, Nabi Yusuf, Nabi Muhammad diberi kekayaan sebagai kemuliaan dan mukjizat untuk mendukung dan memperkuat dakwahnya. Para auliya, ulama yang mengamalkan ilmunya juga seperti itu. mendapat ta’yid dan karomah berupa kekayaan sehingga tidak butuh kepada orang, tetapi orang butuh kepada ilmunya.

Kadang-kadang kenikmatan itu berupa imtihan (ujian) bagi orang tersebut. Kenikmatan yang diberikan itu berupa cobaan dan pancingan dari Allah kepada orang itu. Ini yang disebut dengan istidraj dari Allah.

Seseorang yang tetap dianugerahi berbagai kenikmatan oleh Allah tetapi ia tidak mensyukuri kenikmatan itu, ia tetap dalam maksiat kepada Allah, maka seharusnya ia kuatir bahwa itu istidraj dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Akan Kami tarik mereka secara berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang mereka tidak tahu.” (QS. Al-A’raf: 182)

Sahal bin Abdullah menafsiri Firman Allah ini. Ia berkata, “Kami beri mereka kenikmatan dan Kami lupakan untuk bersyukur. Apabila mereka sudah tenggelam dalam kenikmatan dan lupa kepada Allah pemberi nikmat maka mereka ditangkap oleh Allah.”

Istidraj adalah mengulur, dan memberi kenikmatan terus menerus supaya ia bertambah lupa kepada Allah. Ia dibiarkan bergelimang kenikmatan agar dosanya semakin bertumpuk-tumpuk dan tuntutan syukurnya lebih banyak. Ia memang dibiarkan merajalela menuruti hawa nafsunya, sehingga ketika ia tenggelam dalam kenikmatan itu tiba-tiba oleh Allah ditangkap, semua kenikmatannya dicabut seketika.

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka ketika mereka sudah lupa apa yang diperingatkan oleh Allah (lupa bersyukur) maka Kami bukakan kepada mereka pintu-pintu segala sesuatu, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan Allah, maka Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, akhirnya mereka terdiam putus asa (dari rahmat Allah).” (QS. Al-An’am: 44)

Istidraj termasuk makar (tipuan) dari Allah. “Mereka menipu Allah sedangkan Allah lebih pandai menipu.”

Contohnya, seseorang yang diberi harta dan hendak berzina, lalu dipermudah oleh Allah, uang disiapkan, hotel disediakan. Itu istidraj dari Allah. Walau dibuat bermaksiat, ia tetap diberi harta oleh Allah karena dunia ini tidak ada artinya di sisi Allah.

Orang-orang kaya yang diberi banyak kenikmatan harta merasa bahwa dirinya dimuliakan dan dicintai Allah. Mereka merasa bahwa banyak harta adalah karomah dari Allah. Mereka berperasaan, “Buat apa shalat jamaah, hadir pengajian, sedangkan saya sudah dicintai Allah? Hartaku sudah banyak. Yang salat jamaah dan hadir pengajian adalah orang yang miskin.” Ini seperti perasaan orang-orang kaya kafir Quraisy.

Padahal kekayaan itu adalah tipu daya dari Allah yang menyeretnya kepada kesombongan dan membuatnya merajalela menuruti hawa nafsunya dan lupa diri dari Allah. Ia diseret kepada kesengsaraan sedangkan ia tidak sadar.

Oleh karena itu, Wahai Murid, hendaklah engkau tetap kuatir kalau engkau mendapatkan kenikmatan, baik kesehatan, luasnya rezeki, tetapnya rezeki maknawi atau bendawi, padahal kamu dalam keadaan maksiat, lupa kepada Allah; Jangan-jangan itu semua istidraj, tipu daya dari Allah.

Kalau kamu mensyukuri nikmat dari Allah, dan dalam ketaatan maka jangan kuatir. Ini tanda kekayaan dan kenikmatan itu sebagai kemuliaan dari Allah untuk membuat kamu masuk surga.

Namun walau begitu, orang-orang besar tetap khawatir kenikmatan itu sebagai istidraj dari Allah. Mereka tidak sombong dengan hal itu. Maka wajib bagi manusia apabila mendapatkan kenikmatan, baik lahir atau batin, bendawi atau maknawi, untuk mengetahui kewajibannya dalam kenikmatan itu. Yaitu, ia harus segera bersyukur, baik dalam bentuk ucapan, keyakinan, dan amal perbuatan. Bersyukur dalam bentuk ucapan ialah dengan mengucapkan Alhamdulillah. Bersyukur dalam bentuk keyakinan ialah dengan bersaksi bahwa kenikmatan itu pemberian Allah. Sedangkan bersyukur dalam bentuk amal perbuatan ialah menggunakan kenikmatan itu dalam ketaatan kepada Allah.

Kalau tidak disyukuri, maka dikuatirkan kenikmatan itu akan dicabut (salb) oleh Allah dan menjadi Istidraj. Ini sangat menyakitkan dan lebih jelek.

Ini yang dikhawatirkan Ibnu Athaillah dalam doanya:

اَللّهُمَّ اِنِّـي اَعُوْذُ بِكَ مِنَ السَّلْبِ بَعْدَ الْعَطَاءِ

Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari dicabutnya kenikmatan setelah diberi.

Semoga kita dilindungi oleh Allah dari hal itu. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *