Nikmat Beribadah Tanda Amal Diterima

Dunia Bukan Tempat Balasan
Apr 28, 2019
Mengetahui Kedudukan Diri
May 13, 2019

مَنْ وَجَدَ ثَمْرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلًا فَهُوَ دَلِيْلٌ عَلَى وُجُوْدِ الْقَبُوْلِ آجِلًا

Siapa yang dapat merasakan buah amalnya di dunia ini, maka itu adalah tanda bahwa amalnya dikabulkan Allah di akhirat nanti.

 

SEMUA amal ibadah akan diberi balasan pahala oleh Allah di akhirat. Namun hanya amal yang diterima oleh Allah yang mendapatkan balasan pahala. Ada tanda-tanda untuk mengetahui bahwa amal itu diterima di sisi Allah dan layak mendapatkan balasan. Karena pada dasarnya, segala sesuatu itu ada tandanya. Likulli syai’in alamah.

Ibnu Athaillah menyatakan bahwa tanda dari diterimanya sebuah amal di akhirat adalah bila pelakunya merasakan buah amalnya di dunia ini.

Tsamratul amal (buah amal) adalah merasakan lezat dan manisnya amal tersebut. Ia merasakan kenikmatan yang tak tertandingi ketika melakukan ibadah. Hatinya merasa terhibur dengan amal kebaikan yang ia kerjakan.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa puncak kesenangannya ada dalam melakukan shalat. Nabi merasa terhibur dengan melaksanakan ibadah shalat. Bagi Nabi, shalat terasa sangat manis dan nikmat.

Apabila Nabi ditimpa kesulitan maka Nabi berkata kepada Bilal menyuruhnya menyerukan iqamah shalat:

أَرِحْنَا يَا بِلَال

“Senangkanlah kami wahai bilal.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

“Puncak kesenanganku terletak dalam shalat.” (HR. Al-Hakim, Ahmad dan An-Nasa’i)

Kenikmatan ibadah yang dirasakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga dirasakan oleh para pewarisnya, para salihin. Mereka mendapatkan seperti apa yang diperoleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Ada sebagian orang saleh bertamu kepada Al-Habib Abu Bakar bin Husein Assegaf. Setiap kali orang itu melakukan shalat ia selalu mempercepat shalatnya. Setelah ditanya oleh Habib Abu Bakar, ia mengungkapkan rahasia shalatnya yang dipercepat itu. Ia berkata: “Aku takut janabah. Karena, di waktu aku shalat seluruh tubuhku merasa nikmat sehingga aku kuatir mengeluarkan air mani.”

Al-Habib Ali bin Abdullah Assegaf tidak membaca Al-Qur’an di siang bulan Ramadhan. Ini disebabkan ia merasakan manisnya Al-Qur’an di bibirnya. Karena takut puasanya batal, maka ia membaca Al-Qur’an di malam hari saja.

Tanda bahwa orang yang beramal telah memperoleh buah amalnya ialah ia tampak bersemangat, rajin melakukan ibadahnya dan menambah ibadahnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

“Allah menambah hidayah orang yang telah mendapat hidayah.” (QS. Maryam: 76)

Termasuk tanda orang yang telah merasakan buah amal ialah ia lebih senang sepi dan menyendiri bersama Allah. Ia tidak suka pada keramaian manusia. Ia juga merasa cukup dengan ilmunya Allah.

As-Syeikh Zarruq menambahkan, “Termasuk dari buah ibadah adalah Al-Hayah at-thoyyibah (kehidupan yang tentram), Nufudzul kalimah (kata-katanya menembus dan didengar oleh orang lain) dan Intifaul hazan lil farah bil minnah (tidak ada kesusahan karena selalu bergembira dengan kenikmatan Allah).”

Dalil dari Al-Hayah at-thoyyibah ialah firman Allah Ta’ala:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

 

“Orang yang beramal shaleh dari lelaki atau perempuan dan dia orang yang beriman, akan Kami berikan kehidupan yang nyaman kepadanya.” (QS. An-Nahl: 97)

Dalil dari Nufudzul kalimah adalah firman Allah Ta’ala:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ

“Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari kalian dan beramal shaleh, Allah akan menjadikan mereka khalifah di bumi.” (QS. An-Nur: 55)

Allah juga berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا

“Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” (QS. As-Sajadah: 24)

Adapun Intifaul huzn, hilangnya kesusahan, disebabkan manisnya amal ibadah yang mereka lakukan itu bisa melupakan kesusahan yang menimpa. Karena, kelezatan ibadah itu mirip dengan kenikmatan surga.

Allah Ta’ala berfirman tentang ahli surga:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ

“Mereka berkata; ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesusahan dari kami.” (QS. Fathir: 34)

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Bagi orang yang takut kedudukan Tuhannya dua surga.” (QS. Ar-Rahman: 46)

Orang yang takut pada-Nya akan mendapat dua surga. Surga dunia dan surga akhirat. Surga dunia adalah surga yang dipercepat oleh Allah berupa manisnya ibadah dan lezatnya bermunajat. Ia merasakan hasil ibadahnya di dunia. Sebuah kenikmatan yang sulit diutarakan karena hal itu merupakan kenikmatan yang dicuri dari surga.

 

Cara Untuk Meraih Buah Amal

Lalu bagaimana caranya agar bisa merasakan buah amal yang berupa kelezatan amal ibadah tersebut? Untuk meraih kemanisan dan kenikmatan beribadah membutuhkan perjuangan.

“Tidak ada amal kebaikan, kecuali pasti ada rintangan-rintangan yang membutuhkan kesabaran untuk melaluinya. Orang yang menjalankan amal ibadah itu dengan kesabaran akan mendapatkan kesenangan dan kemudahan,” kata sebagian arifin.

Maksudnya, kenikmatan ibadah bisa didapat bila kita mengerjakan ibadah itu dengan penuh kesabaran, dengan niat yang sungguh-sungguh dan membiasakan melakukannya dengan terus menerus.

Misalnya, orang yang membiasakan diri shalat malam dengan memerangi nafsu dan melawan rintangan-rintangan yang ia hadapi, maka pada akhirnya ia akan merasakan manisnya bertahajud di malam hari. Pada mulanya, ia merasa berat melakukan shalat malam tersebut. Tetapi pada akhirnya, setelah perjuangan yang lama, ia merasa berat untuk meninggalkannya, karena ia telah merasakan manisnya ibadah tersebut. Utbah Al-Ghulam berkata: “Saya melatih diri bangun malam selama dua puluh tahun. Kemudian aku merasakan nikmatnya selama dua puluh tahun kemudian.” Begitulah setiap bentuk amal ibadah yang dilakukan dengan terus menerus akan menimbulkan kesenangan yang bisa dirasakan oleh pelakunya.

Orang yang mencari ilmu pun pada mulanya merasa berat. Ia harus dipaksa belajar oleh gurunya atau orang tuanya. Ia diberi tugas hafalan atau tugas berat lainnya. Lama-kelamaan, ia mulai menikmati manisnya ilmu. Tanpa disuruh ia akan belajar sendiri. Akhirnya, ilmu menjadi hobi dan kesenangan yang sulit ditinggalkan. Apabila ilmu sudah menjadi kesenangannya berarti ia telah mendapat fath (pembukaan) dari Allah.

Sebagian orang menganggap nikmat memecahkan sebuah masalah ilmu seperti kenikmatan memecahkan keperawanan seorang gadis.

Seorang penyair bersenandung:

وَمَهْمَا افْتَضَّ أَبْكَارَ الْغَوَانِي  فَكَمْ بِكْرٍ مِنَ الْـحِكَمِ افْتَضَضْتَا

Bila mereka (orang-orang kaya) memecahkan keperawanan gadis-gadis yang cantik

Maka banyak sekali hikmah-hikmah yang perawan yang kau pecahkan

Sayyid Alwi Al-Maliki merupakan salah satu orang yang merasakan lezatnya ilmu berkat perjuangannya. Sehingga apabila ia sedang membaca kitab, terik matahari yang menyengat tidak ia hiraukan. Sampai-sampai anak-anaknya yang memperingatkannya agar pindah ke tempat yang teduh. Manisnya ilmu melupakan segalanya.

Memang, kebiasaan dapat menimbulkan kesenangan yang sulit ditinggalkan. Tidak terbatas pada amal kebaikan saja, kemaksiatan pun bila dibiasakan akan menyenangkan dan berat untuk ditinggalkan. Seperti orang yang pertama kali merokok akan merasa rokoknya itu pahit. Setelah ia menghisapnya dengan terus menerus, maka ia mulai merasakan kenikmatan rokok itu. Rokok yang sebenarnya sangat membahayakan itu terasa manis di lidahnya. Ia telah kecanduan dan sulit meninggalkan kebiasaan buruknya tersebut. Ini ‘berkat’ kebiasaan.

Bila amal kejelekan yang dibiasakan akan menimbulkan kesenangan, maka lebih-lebih lagi amal kebaikan. Kenikmatan yang timbul dari amal ibadah itu sangat terasa. Itu adalah kenikmatan surga yang dipercepat di dunia. Kenikmatan tiada tara yang bersifat abadi.

Tsabit Al-Banani berkata: “Aku melatih diri membaca Al-Qur’an selama dua puluh tahun. Lalu aku menikmati Al-Qur’an itu selama dua puluh tahun kemudian.”

Sebagian ulama berkata: “Aku dulu mengaji Al-Qur’an tetapi tidak merasakan manisnya Al-Qur’an itu. Lalu aku terus membacanya sehingga seakan-akan aku mendengar Rasulullah membacanya di depan sahabatnya. Lalu aku dinaikkan lagi sehingga seakan-akan aku mendengar Jibril membacakannya kepada Rasulullah. Sekarang, seakan-akan aku mendengarnya langsung dari Allah Yang Maha Berfirman. Di saat itulah aku merasakan kelezatan dan kenikmatan yang tak ada bandingannya.”

Apa yang kami sebut dari kenikmatan beribadah itu adalah buah amal yang benar, yang istiqamah, ikhlas selamat dari riya’ dan pengakuan. Amal yang memenuhi syarat di atas yang akan menimbulkan buah.

Abu Turab berkata: “Orang yang sungguh-sungguh beramal ia akan mendapatkan manisnya amal itu sebelum melakukannya. Bila ia ikhlas, maka ia akan merasakan manisnya amal itu ketika sedang melakukannya. Amal yang seperti ini yang diterima dengan karunia Allah.” Dalam hadits disebutkan bahwa Allah tidak menerima dari orang yang karena sum’ah dan riya’ .

Imam Hasan berkata: “Carilah kemanisan ibadah dalam tiga perkara. Bila kau mendapatkannya, maka bergembiralah dan teruskan tujuanmu. Bila tidak, maka ketahuilah bahwa pintu masih tertutup. Yaitu ketika membaca Al-Qur’an, ketika berdzikir, dan ketika bersujud.” Ulama lain menambahkan dua hal, ketika bangun larut malam dan ketika bershadaqah.

 

Peringatan

Jangan sampai beribadah dengan tujuan mencari manisnya ibadah itu, bukan mencari ridho Allah. Memasang niat untuk mendapat kelezatan ibadah adalah sebuah kekeliruan. Niat beribadah yang benar adalah untuk mencari keridhoan Allah. Buah amal itu pasti akan datang dengan sendirinya bila ibadah yang dilakukan ikhlas karena Allah. Tidak usah bertujuan itu. Akan berbahaya dan menjadi racun. Al-Wasithi berkata, “Manisnya ibadah adalah racun yang membunuh.” Wallahu A’lam.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *