Mengetahui Kedudukan Diri

Nikmat Beribadah Tanda Amal Diterima
May 4, 2019

إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِيْمَا ذَا يُقِيْمُكَ

Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikanlah di dalam bagian apa Allah menempatkan dirimu.

 

SESEORANG harus mengetahui kedudukan dirinya di sisi Allah. Apakah ia dalam tingkatan orang awam, orang ahli thariqah ataukah ahli hakikah. Apakah ia sedang dimurkai Allah ataukah diridhoi oleh-Nya. Ia harus selalu mengoreksi dirinya agar ia bisa meningkatkan martabatnya di sisi Allah.

Sebuah tolok ukur (mizan) yang benar untuk mengetahui kedudukan diri tersebut ialah dengan melihat pada keadaan diri pada saat itu. Bila ia dalam keadaan yang dimurkai Allah berarti Allah murka kepadanya. Namun bila ia dalam keadaan yang diridhoi oleh Allah, maka Allah ridho kepadanya. Misalnya, bila ia sedang berada di majlis ilmu berarti ia di ridhoi Allah. Jika ia berada pada tempat kemaksiatan, maka berarti Allah murka kepada orang tersebut.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang ingin tahu kedudukannya di sisi Allah, maka lihatlah kedudukan Allah di hatinya.” Hadits ini, walau disebut sebagai hadits dha’if, merupakan dasar dari kata hikmah Ibnu Athaillah di atas. Artinya benar dan bertepatan. Maksud dari hadits tersebut ialah bila orang itu memuliakan Allah di hatinya, maka orang itu mulia di sisi Allah. Sebaliknya, bila ia menganggap remeh Allah di hatinya berarti ia remeh di sisi Allah. Sebab Allah mendudukkan hamba di sisi-Nya sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah di dalam dirinya.

Fudhail bin Iyadh berkata: “Seseorang itu bisa taat kepada Allah hanya menurut kedudukan Allah di dalam dirinya.” Atau dalam ungkapan lain, menurut kekuatan keyakinan dan kadar imannya kepada Allah. Apabila ia mempunyai keyakinan yang kuat, maka amal ibadahnya menjadi kuat pula. Bila keyakinannya kendur, maka amal ketaatannya ikut melemah.

Abu Thalib Al-Makki berkata: “Jika seorang hamba memandang mulia kepada Tuhannya, membesarkan apa-apa yang dihormati Allah, cepat-cepat mencari keridhoan Allah Sang Kekasih, maka Allah pada hari kiamat nanti akan memuliakan wajahnya, mengagungkan urusannya, cepat-cepat menyenangkan orang itu dengan kenikmatan abadi. Sebaliknya, Apabila hamba itu meremehkan kewajiban-kewajiban Allah, mengentengkan perintah-perintah-Nya, dan mengecilkan syiar-syiar-Nya, maka pada hari kiamat nanti Allah akan menghinakan orang itu, menyia-nyiakannya, dan Allah mempercepat menyiksanya dengan azab yang pedih. Wal’ iyadzu billah min dzalika.”

Wahab bin Munabbih berkata: “Aku membaca pada sebagian kitab suci dahulu firman Allah yang berbunyi; Wahai anak Adam! Turutilah apa yang Aku perintahkan kepadamu dan jangan kau ajari Aku kebutuhan-kebutuhan yang baik bagimu. Sebab Aku Maha Mengetahui tentang makhluk-Ku. Aku memuliakan orang yang memuliakan Aku. Aku menghina orang yang meremehkan perintah-Ku. Aku tidak menghiraukan kepentingan hamba-Ku bila hamba-Ku itu tidak memperhatikan kewajiban-kewajibannya pada-Ku.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *