Mengakui Miliknya Allah

Selalu Bersandar Kepada-Nya, Selalu Merasa Sebagai Hamba
Apr 9, 2020
Anda Ingin Karómah?
Apr 19, 2020

مَنَعَكَ أَنْ تَدَّعِيَ مَا لَيْسَ لَكَ مِمَّا هُوَ لِلْمَخْلُوْقِيْنَ أَفَيُبِيْحُ لَكَ أَنْ تَدَّعِيَ وَصْفَهُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ ؟

Allah melarang engkau mengakui apa yang bukan milikmu sebagai makhluk.
Apakah engkau boleh mengaku memiliki sifat Allah sedangkan Allah adalah Dzat yang menguasai alam semesta?

ALLAH melarang dan mengharamkan seseorang untuk mengakui dan mengambil hak milik orang lain yang bukan miliknya. Allah sangat murka terhadap orang yang mengaku memiliki apa-apa yang hanya Allah saja yang memilikinya, yaitu mengaku memiliki sifat-sifat kebesaran Allah.
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا أَحَدَ أَغْيَرَ مِنَ اللهِ, فَلِذٰلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Tidak ada seorangpun yang lebih cemburu dari pada Allah. Oleh karena itulah Dia mengharamkan perbuatan keji, yang nampak maupun tersembunyi. ” (HR. Bukhari Muslim)
Seorang yang mukmin tidak dibenarkan untuk mengaku memilliki sifat dari sifat-sifat yang dimiliki Allah. Ia tidak berhak untuk memiliki sifat Allah.
Orang yang mengaku memilliki sifat dari sifat-sifat yang dimiliki Allah, ia telah melakukan suatu perbuatan dosa yang teramat besar. Ia telah merebut sifat-sifat kebesaran Allah. Perbuatan itu sangat dimurkai oleh Allah, sehingga Allah akan membinasakan orang ini dan akan melemparkannya ke dalam api neraka yang panas.
Dari Ibnu Abbas, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda : Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِيْ وَالْعَظَمَةُ إِزَارِيْ فَمَنْ نَازَعَنِيْ وَاحِدًا مِنْهُمَا أَلْقَيْتُهُ فِى النَّارِ

“Kesombongan itu adalah selendang-Ku. Kebesaran itu adalah sarung-Ku. Maka siapa yang merebut satu di antara kedua sifat itu dari-Ku, Aku akan melemparkannya ke dalam api neraka.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah. (Lihat: Takhrij al-Ihya’)
Dalam satu riwayat dikatakan:
قَصَمْتُهُ
“Aku akan mematahkannya (membinasakannya).” (Riwayat Hakim)
Kesombongan dan kebesaran adalah dua sifat di antara sifat-sifat yang hanya Allah yang memilikinya. Sifat yang layak untuk manusia adalah sifat kerendahan dan kehinaan.
Apabila Allah melarang dan mengharamkan engkau untuk mengaku apa-apa yang bukan milikmu dan merupakan milik orang lain dan Allah menamakan hal itu perbuatan dholim dan permusuhan. Maka bagaimana mungkin Allah akan memperbolehkan engkau ataupun selain engkau untuk mengaku memiliki sifat dari sifat-sifat-Nya, sedangkan Allah adalah Tuhan semesta alam. Maka hal ini adalah termasuk perbuatan dholim dan permusuhan yang paling besar.
Apabila engkau merendahkan diri sampai ke buminya bumi maka hatimu akan naik setinggi langitnya langit. Maksudnya ialah orang merendahkan dirinya dihadapan Allah, maka orang itu akan diangkat Allah derajatnya dengan menjadikannya sebagai orang yang mulia.
Apabila engkau merasa hina dan selalu merasa butuh kepada Allah dan selalu bersandar kepada kebesaran Allah, maka Allah akan memberikan kepada engkau sesuatu keistimewaan yang belum pernah Dia berikan kepada orang lain sebelum engkau.

Hamba-Hamba Allah Yang Mendapatkan Keistimewaan
Sifat-sifat kebesaran Allah tidak dimiliki oleh hamba dan hanya Allah-lah yang memilikinya. Akan tetapi ada di antara hamba-hamba Allah yang sudah membersihkan dirinya dari berbagai sifat-sifat yang tidak layak untuk dirinya sehingga Allah memberikan baginya keistimewaan-keistimewaan berupa sifat-sifat kebesaran-Nya. Yaitu sifat kemuliaan, kekayaan, keilmuan dan sifat-sifat kebesaran yang lain.
Tetapi sifat-sifat kebesaran yang diberikan Allah kepadanya tidak sampai membuat dirinya sombong, congkak, merasa besar diri. Bahkan ia tetap merasa bahwa dirinya adalah seorang hamba Allah yang selalu butuh kepada rahmat-Nya dan selalu bersandar kepada-Nya.
Seperti inilah yang dirasakan oleh para nabi dan para auliya Allah. Walaupun mereka sudah memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah dan memiliki sifat-sifat kebesaran Allah, namun Allah menutupi sifat-sifat kebesaran tersebut dengan menampakkan sifat-sifat kehambaan yang ada pada diri mereka. Agar yang nampak hanya kebesaran dan keagungan Allah. Dan hamba tetap mengakui sebagai seorang hamba.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri lebih banyak menampakkan sifat-sifat kehambaannya, walaupun beliau mempunyai derajat dan kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Sebagai contoh, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam melakukan pekerjaan rumah tangga dan melayani keluarganya, beliau melakukannya sendiri.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا اَنَا عَبْدٌ ا͂كُلُ كَمَا يَأْكُلُ الْعَبْدُ

“Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana seorang hamba makan.” (HR. Al-Bazzar dari hadits Ibnu Umar)
Oleh kerena itulah Allah banyak memberikan pemberian-pemberian-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang tidak Ia berikan kepada orang lain selain Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Sebab beliau selalu bersandar kepada sifat-sifat kebesaran Allah dan selalu memperhatikan sifat-sifat kehambaannya.
Dalam sebuah tafsir dikatakan mengenai ayat:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا

“Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat permberian Allah, niscaya kalian tidak akan dapat menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34) yaitu nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Contoh Orang Yang Hanya Selalu Bersandar Kepada Allah.
Diceritakan tatkala Nabi Musa datang ke kota Madyan dengan ditemani kelaparan yang sangat. Setibanya di kota itu beliau mendatangi sebuah sumber air (sumur) di kota itu. Nabi Musa menemukan orang-orang sedang memberikan minum ternak-ternak mereka.
Setelah orang-orang itu selesai memberi minum ternak mereka, lalu mereka menutupi kembali sumur itu dengan batu yang besar, batu tersebut tidak dapat diangkat kecuali oleh sepuluh orang laki-laki.
Di tempat itu Nabi Musa melihat dua orang perempuan yang sedang menambatkan ternaknya untuk diberi minum air. Nabi Musa berkata: “Apakah maksud kalian ( dengan berbuat begitu)?” kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternak mereka), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.”
Maka Nabi Musa menolong kedua perempuan itu dengan memberi minum ternak tersebut.
Kemudian Nabi Musa menuju ke tempat yang teduh seraya berdoa:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

“Wahai Tuhanku sesungguhnya aku membutuhkan semua kebaikan (baik berupa makanan ataupun harta) yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)
Kemudian Allah mengabulkan doa Nabi Musa, sehingga ayah kedua wanita tersebut, yaitu Nabi Syuaib alaihissalam memanggil Nabi Musa untuk datang ke rumahnya dan memberi jamuan kepada Nabi Musa. Kemudian Nabi Musa dikawinkan dengan salah seorang dari kedua wanita tersebut.
Dalam ayat di atas Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan keadaan Nabi Musa, yang mana beliau selalu merasa butuh kepada pemberian (rahmat) Allah, walaupun hanya berupa hal yang sangat kecil (berupa makanan). Beliau selalu mengembalikan segala urusannya hanya kepada Allah.
Juga diceritakan di suatu ketika bahwa Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu merasa susah dikarenakan tunjangan yang biasanya setiap tahun diberikan oleh Muawiyah kepada beliau mengalami keterlambatan. Tunjangan tersebut berjumlah seratus ribu dirham. Maka Sayyidina Hasan mengambil alat tulis dengan maksud menulis surat kepada Muawiyah untuk mengingatkan beliau tentang keterlambatan datangnya tunjangan tersebut. Namun sebelum Sayyidina Hasan sempat menulis surat, beliau tertidur. Di dalam tidur itu beliau didatangi oleh Rasululllah shallallahu alaihi wasallam seraya bertanya:

كَيْفَ أَنْتَ يَا حَسَنُ ؟

“Bagaimana keadaanmu, wahai Hasan ?”
Sayyidina Hasan menjawab:

بِـخَيْرٍ يَا أَبَتِ

“Baik, wahai Bapakku. ”
Kemudian Sayyidina Hasan mengutarakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam perihal keterlambatan datangnya tunjangan tersebut. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada beliau:

أَدَعَوْتَ بِدَوَاةٍ لِتَكْتُبَ اِلَى مَخْلُوْقٍ مِثْلِكَ تُذَكِّرُهُ ذٰلِكَ ؟

“Apakah engkau akan menulis sepucuk surat kepada seorang makhluk yang seperti engkau, agar engkau mengingatkannya mengenai keterlambatan tunjangan itu ?”
Sayyidina Hasan menjawab:

نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ, فَكَيْفَ أَصْنَعُ ؟

“Benar wahai Rasulullah. Lalu apa yang harus saya lakukan ?”
Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan: Bacalah doa ini:

اللّهُمَّ اقْذِفْ فِيْ قَلْبِيْ رَجَاءَكَ وَاقْطَعْ رَجَائِيْ عَمَّنْ سِوَاكَ حَتَّى لَا أَرْجُوَ أَحَدًا غَيْرَكَ، اَللّهُمَّ وَمَا ضَعُفَتْ عَنْهُ قُوَّتِيْ، وَقَصُرَ عَنْهُ عَمَلِيْ، وَلَمْ تَنْتَهِ إِلَيْهِ رَغْبَتِيْ، وَلَمْ تَبْلُغْهُ مَسْأَلَتِيْ، وَلَمْ يَجْرِ عَلَى لِسَانِيْ مِمَّا أَعْطَيْتَ أَحَدًا مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ مِنَ الْيَقِيْنِ, فَخُصَّنِيْ بِهِ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

“Ya Allah, masukkanlah dalam hatiku harapan kepada-Mu dan putuskan harapanku dari selain Engkau sehingga aku tidak mengharapkan seorang pun selain Engkau. Ya Allah, sesuatu yang aku tidak melakukannya, tidak cukup amalku untuk memenuhinya, tidak sampai keinginanku kepadanya, dan tidak sempat aku memintanya dan tidak nampak keyakinan pada lidah (ucapan)ku kepada apa yang Engkau berikan kepada seseorang dari orang-orang terdahulu dan yang berakhir. Maka khususkanlah aku dengannya, Ya Robbal ‘Aalamiin.”
Belum tiba satu minggu, kemudian Muawiyah mengirimkan tunjangan tersebut kepada Sayyidina Hasan sejumlah dua ratus ribu dirham. Kemudian Sayyidina Hasan mengucapkan syukur dengan mengatakan:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ لَا يَنْسَى مَنْ ذَكَرَهُ وَلَا يُخَيِّبُ مَنْ دَعَاهُ

“Segala puji bagi Allah yang tidak melupakan orang yang mengingat-Nya dan tidak mengecewakan orang yang berdoa kepada-Nya.”
Setelah itu Sayyidina Hasan bermimpi bertemu dengan Rasulullah yang kedua kali. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam mimpi itu mengatakan kepada beliau:

يَا حَسَنُ كَيْفَ أَنْتَ ؟

“Bagaimana keadaanmu, wahai Hasan ?”
Sayyidina Hasan menjawab:

بِخَيْرٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ

“Baik wahai Rasulullah.”
Kemudian Sayyidina Hasan menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Sayyidina Hasan:

يَا بُنَيَّ هٰكَذَا مَنْ رَجَا الْخَالِقَ وَلَمْ يَرْجُ الْمَخْلُوْقَ

“Wahai anakku. Demikianlah keadaan orang yang hanya berharap kepada al-Khaliq dan tidak berharap kepada makhluk.”
Dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan mengenai orang yang bertaqwa dan bertawakal kepada-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar (dari segala kesulitan). Dan akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah menjadikan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *