Meminta Bukan Untuk Diberi

Sangat Terang, Sampai Tak Bisa Dipandang
Sep 14, 2020

لَا يَكُنْ طَلَبُكَ تَسَبُّبًا اِلَى الْعَطَاءِ مِنْهُ فَيَقِلُّ فَهْمُكَ عَنْهُ وَلْيَكُنْ طَلَبُكَ لِإِظْهَارِ الْعُبُوْدِيَّةِ وَقِيَامًا بِحُقُوْقِ الرُّبُوْبِيَّةِ

Jangan sampai doa permintaanmu engkau jadikan sebab untuk mendapatkan pemberian Allah, niscaya pemahamanmu tentang Allah berkurang. Tapi hendaknya permintaanmu itu untuk memperlihatkan kerendahan kehambaanmu kepada Allah dan untuk menunaikan kewajibanmu terhadap (kebesaran) Allah

 

ALLAH Maha tahu dengan kebutuhan hamba-Nya. Allah sudah menentukan segalanya. Berdoa ataupun tidak, apapun yang telah ditakdirkan oleh Allah akan terlaksana. Pemberian Allah pasti akan sampai kepada orang yang telah ditentukan untuk mendapatkannya.

Oleh sebab itu, jika seseorang berdoa dan menjadikannya sebagai sebab untuk mendapatkan keinginan dan hajatnya maka orang itu kurang paham dan kurang mengerti (makrifat) terhadap Allah. Karena, orang yang (makrifat) mengerti Allah pasti merasa puas dengan ilmu Allah. Orang itu tidak butuh dan bergantung kepada apapun. Ia akan pasrah dan rela dengan apa yang ditentukan oleh Allah.

Seorang sufi ditanya, ’Apa yang kau suka?’ Ia menjawab, ‘Aku suka yang ditentukan oleh Allah.’

Lalu apa tujuan berdoa?

Dalam pemahaman Arifin (orang-orang yang mengerti Allah) meminta itu kurang sopan. Kalau memang terpaksa berdoa maka tujuan berdoa bukanlah untuk mendapatkan permohonan, tetapi semata-mata; menampakkan ubudiah (kerendahan kehambaan) kepada Allah. dan melaksanakan kewajiban terhadap Allah Yang Maha Besar.

Ia berdoa untuk menunaikan perintah Allah agar memohon kepada-Nya. Dengan berdoa ia menampakkan bahwa sebagai seorang hamba ia selalu membutuhkan Allah. Ia tidak bisa lepas sedikitpun dari hajatnya kepada Allah As-Shamad (tempat mengadukan segala hajat).

Abul Hasan Asy-Syadzili berkata: “Janganlah tujuanmu berdoa itu untuk mendapatkan kebutuhanmu, tetapi hendaknya tujuanmu berdoa itu untuk munajat kepada Allah.”

Abu Nashr As-Sarraj bertanya kepada sebagian masyayikh tentang apa gunanya doa bagi Ahl at-taslim wa at-tafwidh (orang-orang yang pasrah penuh kepada Allah). Syaikh itu menjawab: “Engkau berdoa dengan dua alasan. Engkau menghiasi anggota badan dhahirmu dengan doa, karena doa adalah bentuk khidmah. Engkau berdoa karena melaksanakan perintah Allah yang menyuruh untuk berdoa.”

Seorang Ulama berkata: “Faedah doa ialah untuk menampakkan kebutuhan di hadapan Allah. Bila bukan itu, maka Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya.”

Habib Abdullah Al-Haddad berkata dalam syairnya menjelaskan tujuannya dalam berdoa, sebuah syair yang menunjukkan bahwa beliau betul-betul makrifat kepada Allah:

قَدْ كَفَانِيْ عِلْمُ رَبِّيْ      مِنْ سُؤَالِيْ وَاخْتِيَارِيْ

فَدُعَائِيْ وَابْتِهَالِيْ      شَاهِدٌ لِيْ بِافْتِقَارِيْ

فَلِهٰذَا السِّرِّ اَدْعُوْ    فِى يَسَارِيْ وَعَسَارِيْ

Cukup bagiku ilmu Tuhanku

Dari permohonanku dan ikhtiarku

Maka doaku dan permintaanku

Membuktikan bahwa aku butuh pada-Nya

Karena rahasia inilah aku tetap berdoa

Di saat aku senang dan susah

 

Diceritakan dalam manaqib Habib Abdullah Al-Haddad, bahwa setibanya beliau di Mekkah dalam perjalanannya melaksanakan ibadah haji, pada mulanya beliau hendak tinggal di Ribath (penginapan). Tetapi, Syeikh Husein bin Muhammad Bafadhal memintanya untuk tinggal di rumahnya. Ternyata, rumah yang disediakan oleh Syeikh Husein Bafadhal itu besar dan luas, segala peralatan, seperti tempat tidur yang nyaman dan kebutuhan lainnya telah disiapkan.

Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad menerima tawaran dikarenakan itu semua terjadi langsung dari Allah tanpa ia meminta terlebih dahulu.

“Inilah thariqah kami. Kami pasrahkan segala hajat dan urusan kepada Allah. Apa yang diberikan oleh Allah kepada kami lewat tangan hamba-Nya, kami terima,” ungkap Habib Abdullah Al-Haddad.

Sedangkan Syeikh Husein Bafadhal menawarkan kepada Habib Abdullah Al-Haddad dan menjamunya dengan jamuan yang sempurna disebabkan ia mendengar qasidah Habib Abdullah AlHaddad ‘Qad kafani ilmu rabbi….’ Syeikh Husein Bafadhal mengerti bahwa Habib Abdullah Al-Haddad adalah orang yang Ahl At-Tawakkul Wa At-Taslim (orang yang pasrah penuh kepada Allah) yang tidak mungkin meminta kepada dirinya. Oleh karena itu, dialah yang menawarkan terlebih dahulu.

Kalau memang tujuan orang yang berdoa itu bukan untuk mendapatkan keinginannya, tapi untuk menampakkan kehambaannya dan menunaikan kewajibannya kepada Tuhannya, maka dia akan tetap berdoa walau seluruh keinginan dan hajatnya telah dicapainya. Dalam keadaan senang dan susah pun ia tetap berdoa, seperti apa yang dilantunkan dalam syair Habib Abdullah Al-Haddad di atas.

Itu semua, yakni tidak berdoa karena merasa cukup dengan ilmu Allah atau pun berdoa tapi bukan dengan tujuan mendapatkan hajatnya, adalah kedudukan para Ahl an-Nihayah (orang-orang yang sudah sampai kepada Allah). Namun, bagi Ahl al-Bidayah (Orang awam yang baru memulai perjalanan menuju Allah), maka dibolehkan bagi mereka untuk memohon hajat keinginannya kepada Allah dan banyak berdoa kepada-Nya. Bahkan untuk mereka, berdoa itu hukumnya wajib atau sunnah.

Agama menganjurkan untuk berdoa dan berlagak memaksa dalam mengutarakan keinginan kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُوْنِيْ اَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah pada-Ku Niscaya Aku kabulkan permintaan kalian.”(QS. Ghafir : 60)

اَمَّنْ يُجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ

“Atau siapakah yang mengabulkan orang yang terpaksa bila berdoa kepada-Nya.” (QS. An-Naml : 62)

Anjuran untuk meminta kepada Allah tidak hanya terbatas pada sesuatu yang besar atau berharga. Allah juga memerintahkan hamba-Nya untuk memohon apa saja kepadanya, sampai barang yang remeh sekalipun, seperti tali sandal atau garam.

Diceritakan dalam suatu khabar bahwa Allah bersabda kepada Nabi Musa: “Mintalah kepada-Ku, sampai garam adonanmu.”

Nabi Musa pemah memohon kepada Allah sesuatu yang paling besar, yaitu melihat Allah, dan sesuatu yang remeh, yaitu sekeping roti. Apa yang dilakukan Nabi Musa itu untuk memberi contoh dan mensyariatkan kepada orang-orang lemah agar selalu meminta kepada Allah. Sebab, nabi itu diutus untuk mendidik seluruh umat, baik orang lemah ataupun orang kuat.

Dalam hadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk memohon apa saja kepada Allah sampai tali sandal atau garam sekalipun.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *