Malu minta kepada Allah, apalagi kepada yang lain!

Dua Syarat Menerima Pemberian
Dec 16, 2020
Berat Kepada Nafsu, Lakukan! Itu Benar
Jan 1, 2021

رُبَّمَا اسْتَحْيَا الْعَارِفُ اَنْ يَرْفَعَ حَاجَتَهُ اِلَى مَوْلَاهُ لِاكْتِفَائِهِ بِمَشِيْئَتِهِ فَكَيْفَ لَا يَسْتَحْيِيْ اَنْ يَرْفَعَهَا اِلَى خَلِيْقَتِهِ

Adakalanya seorang arif itu malu meminta hajatnya kepada Tuhannya karena ia merasa cukup dengan kehendak-Nya, maka bagaimana ia tidak malu untuk meminta hajatnya kepada makhluk-Nya.

 

SEORANG arif memilki perasaan yang luhur. Terkadang, ia merasa malu untuk meminta hajatnya kepada Allah, Yang Maha Kaya dan sumber segala kehidupan. Ini dikarenakan si arif itu merasa cukup dengan kehendak-Nya dan puas dengan ketentuan-Nya. Bagaimana ia tidak merasa malu untuk meminta hajatnya kepada makhluk-Nya?

Tentu saja, ia tidak akan pernah mengulurkan tangannya untuk meminta kepada makhluk yang lemah, tidak memiliki daya dan kekuatan apapun. Orang itu tidak akan memohon kepada manusia yang faqir yang selalu membutuhkan Allah Yang Maha Kaya dan al-Karim, yang memberi tanpa diminta, dan tidak peduli berapa dan kepada siapa Ia memberi.

 

Jangan Butuh Selain Allah

Sahal bin Abdullah At-Tusturi berkata: “Tidak ada hati kecuali selalu dilihat oleh Allah di setiap saat siang dan malam. Apabila hati yang dilihat oleh Allah punya hajat kepada selain Allah, maka Allah mendatangkan Iblis kepada hati itu untuk menguasainya.”

Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq bertutur: “Suatu tanda makrifah adalah engkau tidak meminta hajatmu, sedikit (kecil) atau banyak (besar), kecuali kepada Allah. Sebagaimana Nabi Musa. Ia ingin melihat Allah. Maka Nabi Musa berdoa:

رَبِّ اَرِنِيْ اَنْظُرْ اِلَيْكَ

“Tuhanku, perlihatkan padaku agar aku melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf : 143)

Pada suatu saat Nabi Musa membutuhkan sekeping roti, maka ia berdoa:

رَبِّ اِنِّي لِمَا اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

“Tuhanku, sungguh aku, terhadap kebaikan yang engkau turunkan padaku, sangat butuh.” (QS. Al-Qashash : 24)

Abul Qasim Al-Qusyairi menceritakan bahwa ada seorang Sufi yang setiap hari berdiri menghadap Ka’bah setelah ia bertawaf. Ketika berdiri itu, ia mengeluarkan dari sakunya secarik kertas. Ia memandang ke kertas itu. Setelah berhari-hari ia melakukan hal tersebut, ia menjauh dari Ka’bah. Kemudian ia mati. Salah seorang yang menyaksikan kematiannya melihat kertas itu. Di kertas itu tertulis ayat:

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

“Dan sabarlah terhadap hukum Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau dalam pengawasan Kami. ” (QS. : Ath-Thur : 48)

Ternyata, lelaki yang meninggal itu adalah orang yang ditimpa kemiskinan yang sangat parah. Tapi, ia bersabar dan tidak mau menampakkan keadaannya kepada makhluk selain Allah sampai ia mati.

Bahkan, sebagian para Sufi ada yang berprinsip lebih baik menguras laut daripada meminta-minta dan berharap kepada makhluk. “Makanlah dari hasil pekerjaanmu dan keringat dahimu. Bila keyakinanmu lemah mintalah kepada Tuhanmu, maka Dia pasti menolongmu,” salah satu pedoman mereka.

Berikut ini perkataan Ibnu Athaillah dalam Kitab At-Tanwir:

Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, bahwa perasaan yang luhur dengan tidak mengharap dan meminta kepada makhluk bagi orang yang menempuh jalan akhirat itu lebih cantik menghias mereka daripada hiasan untuk penganten. Mereka lebih butuh kepada perasaan itu daripada kebutuhan kepada air untuk kehidupan jiwa.

Barangsiapa diberi hiasan raja dan menjaganya maka tentu pantas hiasan itu akan tetap langgeng bersamanya dan tidak dicabut dari orang itu. Orang yang mengotori hiasan yang diberikan kepadanya, maka hiasan itu akan dicopot dari orang tersebut. Maka dari itu, janganlah engkau kotori imanmu dengan ‘berharap kepada makhluk’. Dan jadikanlah sandaranmu hanya kepada Allah Tuhan seluruh alam.

Jadilah, wahai saudaraku, seorang ibrahimi (orang yang mengikuti Nabi Ibrahim). Sungguh bapakmu, Ibrahim, telah berkata:

لَا اُحِبُّ الْأٰفِلِيْنَ

“Aku tidak senang sesuatu yang terbenam.” (QS. Al-An’am : 76)

Dan semua selain Allah itu tenggelam. Allah Ta’ala berfirman:

مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرَاهِيْمَ

“Ikutilah agama bapak kalian, Ibrahim.” (QS. Al-Hajj : 78)

Maka wajib bagi seorang mukmin mengikuti agama Ibrahim.

Termasuk ajaran agama Ibrahim ialah tidak membutuhkan makhluk. Sebab, di hari ia dilempar dengan manjanik ke kobaran api, Jibril datang kepadanya.

“Apakah engkau punya kebutuhan?” tawar Jibril kepada Ibrahim.

“Kalau kepadamu, tidak. Kalau kepada Allah, ya,” jawab Ibrahim. “Mintalah kepada-Nya,” saran Jibril. “Cukuplah ilmu-Nya tentang keadaanku tanpa permintaanku,” ucap Ibrahim.

Lihatlah bagaimana Ibrahim tidak membutuhkan sama sekali kepada makhluk. Ia hanya mengharap kepada Allah. Ibrahim juga tidak meminta kepada Allah. Bahkan, pada saat itu ia melihat Allah lebih dekat kepada dirinya dari Jibril dan dari permintaan dirinya. Oleh karena itu Ibrahim diselamatkan dari kekejaman Namrud.

Termasuk ajaran agama Ibrahim adalah memusuhi segala sesuatu yang menyibukkan dari Allah. Nabi Ibrahim berkata:

فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِيْ اِلَّا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Semuanya itu adalah musuh bagiku kecuali Tuhan semesta alam.” (QS. Asy-Syu’ara : 77)

Abul Hasan Asy-Syadzili pernah ditanya tentang kimia. Ia menjawab: “Keluarkan makhluk dari hatimu dan putuskan harapanmu untuk mendapatkan sesuatu selain yang ditentukan Allah untukmu.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *