Maaf Allah Lebih Dibutuhkan Ketika Beramal Taat

Kebaikan Tutup Dari Allah
May 4, 2020
Tutup Allah Dalam Perbuatan Maksiat Dan Tutup Allah Dari Perbuatan Maksiat
May 9, 2020

اَنْتَ اِلَى حِلْمِهِ اِذَا اَطَعْتَهُ اَحْوَجُ مِنْكَ اِلَى حِلْمِهِ اِذَا عَصَيْتَهُ

Engkau lebih membutuhkan maaf dan kesabaran Allah ketika beramal taat daripada ketika melakukan maksiat.

 

KEMULIAAN seorang hamba dan ketinggian martabatnya hanya diperoleh ketika hamba itu bersandar kepada Allah, menghadap kepada-Nya, merasa tentram dengan-Nya. Sebaliknya, seorang hamba menjadi rendah dan hina di mata Allah ketika dia merasa bersih, memandang kepada dirinya, menghadap kepada selain Allah dan bersandar kepada selain-Nya.

Ketika seorang hamba beramal taat berarti ia menghadangkan dirinya menjadi sasaran bahaya-bahaya. Yaitu memandang kepada dirinya, menganggap amalnya besar, merasa kagum dengan perbuatan taatnya serta merasa tentram dengan amalnya. Sulit sekali ia bisa selamat dari perbuatan-perbuatan riya’ yang kecil dan kepura-puraan.

Berbeda ketika ia melakukan perbuatan maksiat. Bisa jadi perbuatan maksiat itu dapat mendorong seseorang untuk merasa waspada dan takut kepada Tuhannya. Pelakunya merasa rendah diri dan hina. Maka ia jatuh di mata makhluk, namun ia agung di mata Allah.

Oleh sebab itulah seorang hamba ketika ia melakukan amal taat lebih membutuhkan maaf dan kesabaran Allah dibandingkan ketika ia melakukan perbuatan maksiat. Sebab, amal taat yang timbul dari hati yang sombong lebih jelek dari perbuatan maksiat yang timbul dari hati yang merasa rendah diri dan hina.

Bahkan perbuatan taat seperti ini hakikatnya bukanlah perbuatan taat namun hakikatnya adalah perbuatan maksiat. karena perbuatan taat seperti ini dapat menjauhkan dirinya dari Allah subhanahu wa ta’ala dan dapat mendatangkan kemurkaan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebaliknya perbuatan maksiat yang menimbulkan rasa rendah diri (merasa hina) dan merasa butuh rahmat Allah hakikatnya adalah perbuatan taat

مَعْصِيَةٌ اَوْرَثَتْ ذُلًّا وَافْتِقَارًا خَيْرٌ مِنْ طَاعَةٍ اَوْرَثَتْ عِزًّا وَاسْتِكْبَارًا

“Maksiat (dosa) yang menimbulkan rasa hina dan rasa butuh (pada rahmat Allah) lebih baik dari ketaatan yang menimbulkan besar diri dan kesombongan.”

Sayyidi Abu Madyan berkata:

اِنْكِسَارُ الْعَاصِيْ خَيْرٌ مِنْ صَوْلَةِ الْمُطِيْعِ

“Perasaan rendah diri dari orang yang bermaksiat lebih baik daripada kesombongan orang yang taat.”

Sebagian ulama mengatakan:

مَعْصِيَةٌ بِاللهِ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ طَاعَةٍ بِالنَّفْسِ

“Perbuatan maksiat yang disertai Allah lebih baik dari seribu perbuatan taat yang disertai hawa nafsu.”

Artinya orang yang bermaksiat yang di bawah inayah (pengawasan) Allah dan ia dicintai oleh Allah disebabkan hati orang itu baik, merasa takut dan malu kepada Allah atas perbuatan yang ia lakukan, adalah lebih baik dari orang yang beramal taat namun dicampuri dengan sifat ujub dan sombong.

Buah dari amal taat adalah rendah diri (merasa hina) dan merasa butuh rahmat Allah, sedangkan buah dari maksiat adalah qashwah (keras hati) dan istikbar (kesombongan). Maka amal taat yang membuahkan keras hati dan kesombongan pada pelakunya tidak layak disebut sebagai amal taat. Bahkan itu merupakan kemaksiatan. Sebaliknya kemaksiatan yang membuat pelakunya merasa hina di sisi Allah dan membikin dirinya sangat butuh kepada Allah, pada hakikatnya, adalah perbuatan taat.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى اَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk-bentuk (amal)mu, akan tetapi Allah melihat kepada hati-hatimu.” (HR. Muslim)

Artinya Allah tidak memandang kepada bentuk perbuatan yang dilakukan manusia, baik itu perbuatan taat ataupun perbuatan maksiat, akan tetapi Allah memandang kepada hati manusia ketika melakukan suatu amal perbuatan. apakah di hati orang itu ada perasaan sombong atau perasaan rendah diri.

Dalam hadits lain Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اَنَا عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ اَجْلِيْ

“Aku bersama orang-orang yang hatinya rendah diri karena Aku”.

Disebutkan dalam hadits, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَوْحَى اللهُ إِلَى نَبِيٍّ مِنَ الْاَنْبِيَاءِ : قُلْ لِعِبَادِيْ الصِّدِّيْقِيْنَ لَا تَغْتَرُّوْا فَإِنِّيْ إِنْ أَقَمْتُ عَلَيْهِمْ عَدْلِيْ وَقِسْطِيْ أُعَذِّبُهُمْ غَيْرَ ظَالِمٍ لَهُمْ وَقُلْ لِعِبَادِيْ الْخَطَّائِيْنَ لَا تَيْأَسُوْا مِنْ رَحْمَتِيْ فَإِنِّيْ لَا يَكْبُرُ عَلَيَّ ذَنْبٌ أَغْفِرُهُ

“Allah subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada salah seorang Nabi-Nya: Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Ku: Janganlah kalian tertipu oleh kesombongan kepada amal kalian. Sesungguhnya jika Aku menegakkan keadilan-Ku, pasti Aku akan menyiksa mereka, tanpa berbuat dholim sedikitpun terhadap mereka. Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang berdosa: Janganlah kalian putus asa dari rahmat-Ku. Sesungguhnya tidak ada dosa yang tidak dapat Aku ampuni.”

Abu Yazid al-Bushtami radhiyallahu anhu mengatakan: “Taubatnya perbuatan maksiat itu satu kali, sedangkan taubatnya perbuatan taat itu seribu kali.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *