Lipatan Yang Sebenarnya

Anda Ingin Kemuliaan Abadi?
Sep 8, 2019
Pemberian Yang Merugikan
Sep 18, 2019

اَلطَّيُّ الْحَقِيْقِيُّ أَنْ تُطْوَى مَسَافَةُ الدُّنْيَا عَنْكَ حَتَّى تَرَى الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْكَ

Attoyyu (lipatan) yang hakiki yaitu jika terlipat untukmu jarak-jarak dunia sehingga engkau melihat akhirat lebih dekat padamu daripada dirimu sendiri.

 

ATTOYYU biasa terjadi kepada para wali sebagai karomah. Ahli tasawuf membagi attoyyu menjadi empat macam:

  1. Toyyuzzaman (Terlipatnya zaman).

Misal dari pelipatan zaman adalah apa yang terjadi kepada seorang wali yang mandi di sungai Furat, Bagdad. Waktu itu hari Jumat sebelum zawal (tergelincimya matahari). Setelah selesai mandi, ia mencari bajunya sampai ia masuk ke Mesir. Lalu ia kawin dengan seorang perempuan di sana, punya banyak anak dan menetap selama tujuh tahun.

Kemudian, pada suatu hari Jumat, ia mandi di sungai Nil, Mesir. Selesai mandi, tiba-tiba ia menemukan kembali bajunya yang dulu hilang ketika mandi di sungai Furat. Maka ia berjalan dan ternyata ia sudah berada di Bagdad sebelum shalat Jumat, pada hari yang sama, ketika ia pertama kali keluar dan kehilangan pakaiannya.

Allah melipatkan waktu bagi orang itu. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat ia bisa melakukan banyak hal, yaitu kawin, punya anak dan menetap di Mesir selama bertahun-tahun.

  1. Toyyulmakan (Terlipatnya tempat).

Ini banyak terjadi pada para wali. Ia bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang jauh dalam sekejap. Allah melipatkan kepadanya bumi ini.

Toyyul makan ini pernah terjadi kepada Rasulullah. Ketika Rasulullah berada di Tabuk, Jibril datang kepadanya memberitahukan kematian Muawiyah bin Muawiyah al-Muzani.

“Apakah kau ingin menshalatinya?” tanya Jibril kepada Nabi.

“Ya,” jawab Nabi.

Maka Jibril mengepakkan sayapnya, sehingga Nabi sampai di depan jenazah Muawiyah al-Muzani. Nabi menshalatinya bersama dua saf malaikat. Setiap saf berisi tujuh puluh ribu malaikat.

“Wahai Jibril, apa yang membuatnya mencapai kedudukan ini di sisi Allah,” Tanya Nabi kepada Jibril.

“Sebab ia senang membaca قل هو الله احد yang selalu ia baca di saat ia berdiri, duduk, berjalan kaki ataupun menaiki kendaraan,” ucap Jibril.

Peristiwa yang terjadi pada Rasulullah dalam hadits di atas adalah toyyul makan atau pelipatan tempat, sehingga Rasulullah berada di depan jenazah Muawiyah al-Muzani walaupun jaraknya sangat jauh. Oleh karena itu, dalam mazhab Maliki tidak ada shalat jenazah ghaib sebab yang pernah dilakukan Rasulullah adalah shalat jenazah hadir seperti hadits di atas.

Apa yang terjadi kepada Rasulullah juga bisa terjadi pada umatnya. Misalnya apa yang dialami oleh seorang syeikh yang dikenal kurang istiqamah di kampung Al-Habib Ali Al-Habsyi. Ketika itu Habib Ali bersiap melakukan wudlu untuk melakukan shalat Jumat. Tiba-tiba orang itu datang.

“Wahai Habib Ali! Anda mau ikut salat Jum’at bersama saya di Makkah ?” kata orang itu.

“Kenapa harus pergi ke Mekkah, cukup di sini saja,” jawab Habib Ali menolak ajakan orang tersebut.

Tiba-tiba orang itu terbang dalam sekejap ke Makkah. Lalu Habib Ali berkata kepada dirinya “Mulai hari ini aku tidak akan suuddhon pada seseorang. Apabila orang seperti itu punya karomah, apalagi orang-orang sholeh’.

Juga terjadi pada Habib Ali bin Syahab. Banyak guru-guru di Mekkah, seperti Sayyid Muhammad Al-Maliki, menyaksikan Habib Ali bin Syahab berada di Arafah pada hari Arafah. Adapula yang sempat bersalaman. Ini terjadi setiap tahun, padahal Habib Ali bin Syahab berada di Hadramaut.

  1. Toyyuddunya (Terlipatnya dunia).

Maksud dari dilipatnya dunia ialah dengan zuhud dan lenyap dari dunia dan hasilnya keyakinan yang sempurna dalam hati, sehingga akhirat terlihat lebih dekat daripada pergi ke sana.

  1. Toyyunnufus (Terlipatnya nafsu).

Semua keinginan nafsu digulung dan dilipat dari orang tersebut. Semua yang selain Allah lenyap dari hatinya. Yang ada dan yang diingat hanyalah Allah.

Ini adalah toyyu yang hakiki dan yang paling tinggi dan sebagaimana dijelaskan oleh kata hikmah di atas.

Dalam kata hikmah yang lain Ibnu Athaillah berkata: “Bila cahaya keyakinan bersinar di hatimu maka engkau akan lihat akhirat lebih dekat padamu daripada pergi ke sana, dan kau lihat keindahan dunia ini menjadi suram karena kehancuran yang akan menimpa dunia.”

Semuanya bersumber dari keyakinan. Bila keyakinan dan iman seseorang kuat, maka tampaklah akhirat di depan mata. Walau ia berada di dunia, tetapi ia bisa memantau ke akhirat.

Ini terjadi pada sahabat Harits bin Malik al-Anshari. Pada suatu hari ia bertemu dengan Rasulullah. Maka Rasulullah bertanya kepadanya:

كَيْفَ أَصْبَحْتَ يَا حَارِثُ ؟

“Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai harits?”

أَصْبَحْتُ مُؤْمِنًا حَقًّا

“pada pagi hari ini aku betul-betul beriman,” jawab Harits.

اُنْظُرْ مَا تَقُوْلُ؟ فَإِنَّ لِكُلِّ شَيْئٍ حَقِيْقَةً؟ فَمَا حَقِيْقَةُ إِيْمَانِكَ؟

“Lihatlah pembicaraanmu. Apa bukti keimananmu?” Tanya Rasulullah.

Harits menjawab :

قَدْ عَزَفَتْ نَفْسِي عَنِ الدُّنْيَا، وَأَسْهَرْتُ لِذَلِكَ لِيَلِي، وَاَظْمَأَنَّ نَهَارِي، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى عَرْشِ رَبِّي بَارِزًا، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ يَتَزَاوَرُونَ فِيهَا، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَهْلِ النَّارِ يَتَضَاغَوْنَ فِيهَا

“Aku sudah jemu dengan dunia. Malamku aku gunakan untuk salat tahajjud. Siangku aku gunakan untuk berpuasa. Seakan-akan aku melihat Arsy Tuhanku nyata (ada di hadapanku), Seakan-akan aku melihat penduduk surga saling berziarah. Dan seakan-akan aku melihat penduduk neraka menjerit-jerit.”

Maka Rasulullah bersabda tiga kali:

يَا حَارِثُ عَرَفْتَ فَالْزَمْ

“Wahai Harits, Engkau sudah betul-betul makrifat (mengenal Allah). Maka tetapilah!” (HR. Thabrani dan Al-Baihaqi)

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:

عَبْدٌ نَوَّرَ اللهُ قَلْبَهُ

“Hamba yang hatinya diberi cahaya oleh Allah.”

Orang-orang yang punya keyakinan seperti Harits ini, tidak berpengaruh baginya apakah dia bisa melangkah ke Makkah atau tidak. Karena yang ia peroleh dari keyakinan pada akhirat sehingga tampak nyata di depannya adalah lebih berharga.

Sebagian ulama berkata:

“Janganlah engkau heran melihat orang memasukkan tangannya ke sakunya dan keluar apa yang ia inginkan, tetapi heranlah pada orang yang memasukkan tangannya ke kantongnya, tidak keluar keinginannya, namun imannya tidak berubah.”

Diberitahukan kepada Abi Muhammad al-Murta’isy bahwa ada seseorang yang bisa berjalan di atas air.

“Bagiku orang yang bisa melawan nafsunya lebih mengherankan daripada orang yang bisa berjalan di atas air dan terbang di udara, tegas beliau kepada orang tersebut.

Jadi, yang terpenting adalah Istiqamah karena istiqamah lebih baik dari seribu karomah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *