Lebih Kuatir Dalam Kelapangan

Kelapangan Dan Kesempitan
Jul 4, 2019
Riang Gembira Dicocoki Nafsu
Jul 14, 2019

اَلْعَارِفُوْنَ إِذَا بُسِطُوْا أَخْوَفُ مِنْهُمْ إِذَا قُبِضُوْا وَلَا يَقِفُ عَلَى حُدُوْدِ الْأَدَبِ فِي الْبَسْطِ إِلَّا قَلِيْلٌ

Orang-orang arif apabila dalam kelapangan lebih kuatir daripada dalam kesempitan, sebab tidak dapat tegak dalam batas-batas kesopanan kepada Allah di dalam kelapangan kecuali segelintir orang.

 

ORANG-ORANG arif lebih memilih hidup dalam kesempitan. Mereka sangat kuatir ketika dalam basth (kelapangan). Ini disebabkan kelapangan itu cocok dengan hawa nafsu. Berbeda dengan qabdh (kesempitan) yang berlawanan dengan hawa nafsu. Mereka tidak senang dalam kelapangan, sebab mereka takut merasakan kelezatan yang sejalan dengan hawa nafsu sehingga menjauhkan diri mereka dari Allah”.

Yusuf bin Husain Ar-Rozi pernah mengirim surat kepada Junaid yang isinya berbunyi: “Semoga Allah tidak merasakan kepadamu kelezatan yang sejalan dengan hawa nafsumu. Karena apabila engkau merasakan kelezatan yang sejalan dengan hawa nafsumu maka engkau tidak akan merasakan kebaikan selamanya.”

Orang yang berada dalam kelapangan harus tetap menjaga kesopanan, tetap sedih dan patah hati. Tetapi, sangat sulit tetap menjaga kesopanan di saat kelapangan. Oleh karena itu, sedikit sekali orang yang bisa tetap dalam batas kesopanan ketika berada dalam kelapangan. Pada umumnya manusia akan hanyut dalam kesenangan dan melupakan Allah.

Dikatakan: “Berhentilah dalam kesenangan dan awas jangan berlebih-lebihan dalam kesenangan.”

Efek basth yang tidak disertai dengan kesopanan bisa membuat seseorang jatuh dari maqamnya. Ada seseorang bertanya kepada Abi Muhammad Al-Jariri, “Aku pernah dalam hamparan kesenangan. Dan terbuka untukku jalan kelapangan sehingga aku tergelincir. Lalu aku terhijab dari maqamku. Bagaimana caranya, tunjukkan kepadaku, aku kembali ke maqamku lagi?” Abu Muhammad menangis dan berkata: “Semua ini dari kasalahanmu yang memaksamu menjadi seperti ini.”

Sebagian Masyayikh ditanya tentang kesalahan orang itu. Ia menjawab, “Terlalu senang dengan Allah sehingga ia tidak melaksanakan adab dengan Allah.”

Abul Qasim Al-Qusyairi berkata: “Oleh karena ini, orang-orang besar merasa takut,”

Ibnu Athaillah dalam kitab Lathaiful Minan berkata: “Basth adalah tempat tergelincimya banyak orang besar. Basth menyebabkan mereka bertambah kuatir dan hati-hati. Qabdh lebih dekat kepada adanya keselamatan, karena qabd adalah negerinya hamba. Sebab, hamba itu selalu dalam genggaman Allah dan pengawasan-Nya. Darimana seorang hamba mendapat basth kalau memang keadaannya seperti ini. Basth keluar dari keadaan yang semestinya. Qabdh-lah yang cocok dengan dunia ini. Karena dunia adalah tempat melaksanakan kewajiban-kewajiban, tidak jelas akhirnya, tidak diketahui takdir yang telah digariskan dan tempat hak-hak Allah dituntut untuk dilakukan.”

Ibnu Athaillah juga berkata: “Sebagian orang sufi bercerita kepada saya, ‘Guru kami melihat gurunya dalam mimpi setelah kematiannya dalam keadaan susah (qabdh). Ia bertanya kepada sang guru, ‘Ya Ustadz, kenapa anda terlihat susah?’ Ia menjawab, ‘Wahai anakku, qabdh dan basth itu adalah dua maqam, orang yang tidak mengalaminya di dunia akan mengalaminya di akhirat,’ Memang kebiasaan sang guru di dunia adalah basth.”

Kemewahan di dunia bisa mengurangi kesempurnaan kenikmatan di akhirat. Sebab inilah, orang-orang memilih kehidupan yang sederhana walaupun mereka dalam kekayaan dan kemewahan. Mereka takut kekayaan dan kemewahan itu membuat mereka lupa kepada Allah. Mereka memilih kehidupan yang kasar meniru kehidupan Rasulullah. Nabi shallallahu alaihi wasallam memilih kehidupan orang miskin walaupun sebenarnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam itu kaya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

2 Comments

  1. supriyadi says:

    terimakasih telah berbagi ilmu

Leave a Reply to supriyadi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *