Lebih Baik Berteman Si Bodoh Pelawan Nafsu Daripada Si Alim Pengumbar Nafsu

Rela kepada Nafsu Pokok Segala Kemaksiatan
Nov 2, 2018
Sinar Mata Hati, Mata Hati, Dan Hakikat Mata Hati
Nov 10, 2018

وَلَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَصْحَبَ عَالـِمًا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالـِمٍ يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ وَأَيُّ جَهْلٍ لـِجَاهِلٍ لَا يَرْضَى عَنْ نَفْسِهِ

Sekiranya engkau bersahabat dengan orang bodoh yang tidak menuruti hawa nafsunya itu lebih baik bagimu daripada bersahabat dengan orang alim yang selalu mengikuti hawa nafsunya. Maka ilmu apakah yang dapat disebutkan bagi seorang alim yang selalu menuruti hawa nafsunya. Dan kebodohan manakah yang disebut bagi orang bodoh yang tidak mengikuti hawa nafsunya.

 

ORANG alim yang sering mengikuti hawa nafsunya pada hakikatnya bukan orang alim. Tetapi dia adalah orang bodoh. Kebodohannya ialah karena ia ikut hawa nafsunya, tidak ikut ilmunya. Apa gunanya ilmu jika orang alim itu tidak dapat menahan dirinya dari hawa nafsu dan tidak memimpin hawa nafsunya ke jalan yang benar.

Orang bodoh yang selalu menolak ajakan hawa nafsunya pada hakikatnya bukan orang bodoh. Tetapi dia orang alim. Ilmu orang ini ialah mengetahui bahwa mengkuti nafsu adalah berbahaya, maka ia bisa menahan dirinya. Bagaimana seseorang dikatakan bodoh sedangkan ia bisa mengekang hawa nafsunya, sehingga membuktikan bahwa segala amal perbuatannya hanya untuk keridhoan kepada Allah dan bersih dari dorongan hawa nafsu.

Maka kalau mencari sahabat, carilah orang saleh yang tidak mengikuti hawa nafsunya walaupun ia bodoh. Lebih baik berteman dengan orang bodoh yang melawan nafsunya daripada bersahabat dengan orang alim yang mengikuti hawa nafsunya.

Berteman dengan orang alim yang mengikuti hawa nafsunya adalah murni kejelekan dan tidak ada faedahnya sama sekali. Ini dikarenakan ilmu orang itu tidak bermanfaat. Ilmunya membuat sesat dirinya dan orang lain. Ia tidak bisa dijadikan sahabat dan panutan. Kebodohannya tentang hawa nafsu yang membikinnya selalu mengikutinya adalah sangat berbahaya. Sebaliknya, berteman dengan orang bodoh yang tidak menuruti hawa nafsunya adalah murni kebaikan dan mengandung seluruh faedah. Kebodohan orang itu tidak berbahaya.

Tidak semua ulama bisa diikuti. Ulama yang mengikuti hawa nafsunya tidak boleh diikuti. Ia adalah ulamaussu’ (ulama yang jahat). Bal’am bin Baurah sebagai contohnya. Ia adalah orang yang pandai ilmu dan diberi Ismullah Al-A’dham yang doanya terkabulkan. Tetapi malah dibuat mendoakan jelek kepada Nabi Musa dan pasukannya. Bal’am mengikuti nafsunya sehingga dicabut oleh Allah kewaliannya.

Allah Ta’ala berfirman tentang Bal’am:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf 175-176)

Jadi, oleh Al-Qur’an, orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dikatakan sebagai anjing yang menjilat-jilat.

Oleh karena itu, hati-hati dalam memilih teman. Teman bisa menularkan kebaikan atau kejelekan kepada temannya. Nabi berpesan:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang menurut kebiasaan temannya. Maka seseorang harus memperhatikan siapa yang ia temani.” (HR. Ahmad, Abu Dawud)

Ibnu Athaillah dalam kata hikmahnya menyatakan:

لَا تَصْحَبْ مَنْ لَا يُنْهِضُكَ حَالُهُ وَلَا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ

“Jangan berteman dengan seseorang yang keadaannya tidak membangkitkanmu dan perkataannya tidak menunjukkan dirimu kepada Allah.”

Di dalam hadits disebutkan, “Perumpamaan berteman duduk dengan orang jahat seperti duduk dengan tukang pandai besi. Kalau tidak terbakar dengan bunga apinya, maka engkau terkena bau busuknya.”

Berteman dengan orang baik seperti duduk dengan tukang minyak wangi, maka ia terkena bau wanginya. Ia mendapat faedah yang besar dengan bergaul dengan orang-orang yang berakhlak baik. Ia akan memiliki sifat yang ada pada temannya itu. Bahkan ia bisa bermakrifat berkat persahabatan itu. Para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjadi mulia dan mendapatkan kedudukan tinggi berkat menjadi sahabat Nabi. Para shalihin mendapat makrifat juga berkat Suhbatul Akhyar (berkawan dengan orang-orang baik).

مَنْ عَاشَرَ الْأَشْرَافَ عَاشَ مُشَرَّفًا   وَمُعَاشِــرُ الْأَرْذَالِ غَـيْرُ مُــشَرَّفِ

أَوَمَـا تَـرَى الْـجِـلْـدَ الْـحَقِـيْرَ مُـقَبَّلًا    بِالثَّغْرِ لَمَّا صَارَ جِلْدَ الْمُصْحَفِ

Orang yang bergaul dengan orang-orang mulia menjadi mulia

Orang yang bergaul dengan orang hina tidak akan mulia

Tidakkah kau lihat kulit yang hina diciumi

Dengan mulut ketika ia menjadi sampul Mushaf Al-Qur’an

Ada pepatah mengatakan:

كَيْفَ لَا يُفْلِحُ مَنْ رَأَى وَجْهَ الْمُفْلِحِ

“Bagaimana tidak beruntung orang yang berteman dengan orang yang beruntung ?”

وَاللهِ مَا أَفْلَحَ مَنْ أَفْلَحَ إِلَّا بِصُحْبَةِ مَنْ أَفْلَحَ

“Demi Allah, tidak beruntung orang yang beruntung kecuali dengan berteman orang yang beruntung.”

Pertemanan yang dilandasi oleh ketakwaan sangat berguna baik di dunia atau akhirat. Allah Ta’ala berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِيْنَ

“Teman-teman itu antara satu dan yang lain pada hari kiamat akan saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Kisah ini menunjukkan bahwa berteman dengan orang saleh sangat menguntungkan. Ada seorang yang muamalahnya dengan Allah kurang baik. Ia suka bermaksiat. Namanya Mar’i. Ia punya dua teman saleh yaitu Habib Ali bin Idrus BSA dan Habib Ba Agil, Surabaya. Dua orang ini senang dengan Mar’i karena ia suka bercanda.

Dua orang saleh itu kasihan kepada temannya itu. Ia dibawa ke Habib Abdul Qadir bin Alwi Assegaf, Tuban. Dibukakanlah pintu untuk kedua orang itu. Habib Abdul Qadir sedang duduk di atas amben (balai-balai).

“Habib Abdul Qadir. Doakan temanku Mar’i ini taubat. Jaminlah Ia masuk surga.” Ucap dua orang itu dengan berdiri di luar pintu.

Habib Abdul Qadir menundukkan kepala, lidahnya diisyaratkan ke hatinya. Artinya, Habib Abdul Qadir mengiyakan. Tidak lama kemudian Habib Abdul Qadir meninggal. Mar’i pun meninggal. Salah satu dari dua orang itu bermimpi Mar’i disiksa. Tubuhnya dilemparkan dari atas. Ia ditarik lagi pakai tampar, lalu dijatuhkan lagi ke bawah.

Ia memberi tahu temannya. Kedua orang itu selama tiga hari tiga malam tidak tidur untuk mendoakan Mar’i, temannya yarg sudah meninggal itu. Tiba-tiba Habib yang di Surabaya bermimpi melihat Mar’i. Badannya tampak sehat. Ia berpakaian bagus.

“Dimana kamu?” tanyanya kepada Mar’i.

“Di surga.”

“Bagaimana bisa masuk surga. Siapa yang bawa?”

“Ini,” jawab Mar’i menunjuk kepada Habib Abdul Qadir bin Alwi Assegaf.

“Betulkah engkau yang menjaminnya masuk surga?”

Habib Abdul Qadir memberi isyarat dengan lidahnya ke hatinya lagi seperti yang ia lakukan ketika hidupnya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *