PERMINTAAN TERBAIK
May 25, 2019
Tidak Ada Isyarat Karena Lenyap Dalam Wujud Allah
Jun 15, 2019

اَلْحُزْنُ عَلَى فِقْدَانِ الطَّاعَةِ مَعَ عَدَمِ النُّهُوْضِ إِلَيْهَا مِنْ عَلَامَاتِ الْإِغْتِرَارِ

Sedih karena tidak bisa melakukan suatu ketaatan disertai rasa malas untuk melakukannya, itu adalah suatu tanda bahwa orang itu tertipu oleh syaitan.

 

YANG dimaksud dalam kata hikmah ini adalah kalau seorang yang merasa sedih dan menyesal karena ketinggalan amal yang baik, tetapi kita lihat orang tersebut tidak ada niat dan semangat untuk mengejar kekurangannya dan ketertinggalannya itu, maka ini suatu tanda bahwa ia dipermainkan oleh syaitan.

Hal seperti ini sering dialami orang dengan menampakkan kesedihan, menangis tetapi tidak ada rasa bersemangat untuk menutupi kekurangannnya itu. Maka tangisan dan kesedihannya itu hanya sia-sia belaka, karena kalau dia benar-benar menyesal dan sedih, maka ia akan bangkit untuk beribadah kepada Allah dan mengejar kekurangannya.

Kesedihan itu dibagi menjadi tiga bagian:

  1. حُزْنُ الْكَاذِبِيْن (kesedihan orang-orang yang bohong) yaitu kesedihan dengan rasa penyesalan dan rasa sedih karena banyak amal-amal yang ketinggalan. Akan tetapi dirinya tidak bangkit dan tidak bersemangat untuk beribadah dan mengejar kekurangannya itu.
  2. حُزْنُ الصَّادِقِيْن (kesedihan orang-orang yang benar) yaitu kesedihan yang dapat membangkitkan orang untuk bersungguh-sungguh beribadah dan mengejar kekurangan.
  3. حُزْنُ الصِّدِّيْقِيْنَ السَّائِرِيْن (kesedihan orang-orang yang shiddiq yang berjalan kepada Allah) yaitu kesedihan dikarenakan kehilangan waktu yang tidak diisi dengan dzikir kepada Allah, yang ia anggap sebagai kelalaian, condong kepada keinginan / nafsu syahwatnya yang terlintas di dalam hati.

Sebagaimana halnya Nabiyullah Ayyub alaihissalam, ketika hatinya lalai dengan Allah yang hanya sebentar, beliau mengatakan dalam do’anya:

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku ditimpa musibah yang besar dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)

Beliau mengangap kelalaian dari Allah yang hanya sebentar merupakan penyakit yang berbahaya. Begitulah orang-orang shaleh yang apabila lalai dari Allah yang hanya sebentar, dengan condong kepada syahwat atau terlintas keinginan dunia atau lalai tidak berdzikir. Mereka anggap itu sebagai suatu dosa, kemudian mereka sedih dan menyesal karena waktunya diisi dengan yang kurang baik. Tetapi kesedihan mereka ini tidak berlangsung lama.

Adapun orang-orang yang dinamakan al-Waashilun (orang-orang yang sudah sampai kepada Allah), maka mereka ini tidak ada kesedihan, seperti yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya wali-wali (kekasih-kekasih) Allah itu, mereka tidak ada takut dan tidak sedih.” (QS. Yunus: 62)

Biasanya kesedihan itu untuk orang yang ketinggalan atau kehilangan sesuatu, namun al-Washilun, mereka tidak kehilangan apapun, oleh karena itu mereka tidak ada kesedihan sebab mereka sudah menemukan Allah subhanahu wa ta’ala. Maka mereka mengatakan:

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami.” (QS. Al-Fathir: 34)

Para Ulama Sufi mengatakan:

كَمْ مِنْ عَيْنٍ جَارِيَةٍ وَقَلْبٍ قَاسٍ وَهُوَ مِنْ مَكْرِ اللهِ تَعَالَى الْـخَفِيّ

“Berapa banyak mata yang mengeluarkan air mata, hatinya tetap beku, dan ini termasuk tipu daya Allah yang samar.”

Orang seperti ini tertipu karena tangisannya tidak bermanfaat untuk dia.

Rabi’ah al-Adawiyah pernah mendengar ada seorang menangis mengatakan:

وَحُزْنَاهْ !

“Aduh sedihnya !”

Maka Rabi’ah berkata:

بَلْ قُلْ: وَاقِلَّةَ حُزْنَاهْ!, لَوْ كُنْتَ مَـحْزُوْنًا لَمْ يَتَهَيَّأْ لَكَ أَنْ تَتَنَفَّسَ

“Wahai orang, jangan kamu katakan benar sedih itu, tetapi katakanlah: aduh sedikitnya susahku ini! Kalau engkau memang benar sedih, pasti kamu tidak akan punya kesempatan untuk bersenang-senang.”

Adapun jika kesedihan seseorang itu benar, maka kesedihan itu akan membangkitkan orang itu untuk bersemangat dalam beribadah dan beramal taat dalam segala keadaan, sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikh Abu Ali Ad-Daqqaq: “Orang yang sedih dapat menempuh jalan kepada Allah dalam tempo sebulan yang tidak bisa ditempuh oleh yang tidak sedih dalam beberapa tahun.”

Dalam hadits disebutkan:

إِنَّ اللهَ يُـحِبُّ كُلَّ قَلْبٍ حَزِيْنٍ

“Allah suka terhadap setiap hati yang sedih.”

Disebutkan dalam kitab Taurat: “Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, maka Allah menancapkan dalam hatinya ratapan dan rintihan, tetapi jika Allah membenci seorang hamba, maka Allah menancapkan dalam hatinya nyanyian atau irama.”

Orang yang selalu senang hingga lupa dengan Allah, lupa dengan agama, tidak pernah sedih dalam memikirkan dosa, maka orang seperti ini orang yang dibenci oleh Allah.

Disebutkan dalam hadits:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang banyak orang tertipu: sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Ditambah lagi orang tersebut masih muda dan punya uang. Seorang penyair menyebutkan:

إِنَّ الشَّبَابَ وَالْفَرَاغَ وَالْـجِدَةْ  مَفْسَدَةٌ لِلْمَرْءِ أَيُّ مَفْسَدَةْ

Sesungguhnya masa remaja, waktu luang dan kekayaan

bisa merusak manusia dengan serusak-rusaknya

Dikatakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, hatinya selalu merasa sedih, banyak berpikir. Yang banyak dipikirkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah umatnya, sehingga dikatakan oleh Aisyah ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan sholat dengan duduk: “Tidak ada yang membuat Nabi sholat dengan duduk, kecuali karena banyak memikirkan umatnya.”

Kalau Nabi shallallahu alaihi wa sallam, orang yang paling mulia yang ma’shum (dijaga) dari dosa sering sedih dan sering berpikir, apalagi kita yang sering lupa, sering berpaling dari Allah dan banyak bermaksiat, maka lebih layak untuk bersedih hati dan menyesali kekurangan-kekurangan.

Oleh karena itu banyak para ulama yang shaleh sering tertimpa penyakit dikarenakan banyak memikirkan umat. Orang-orang yang shaleh tidak pernah berpisah dari kesedihan dan dengan kesedihan itu mereka bertambah dekat dengan Allah.

Dalam hadits disebutkan:

إِبْكِ عَلَى خَطِيْئَتِكَ

“Tangisilah kesalahan ( dosa) mu.” (HR. At-Turmidzi)

Nabiyullah Yusuf alaihissalam yang memberi makan penduduk seluruh negeri, tetapi beliau terkadang makan dan terkadang tidak makan. Beliau pernah ditanya: “Wahai Nabiyullah Yusuf! saya lihat anda seorang yang hidup dalam kemewahan dan memberi makan seluruh negeri, tetapi anda saya lihat sehari makan dan sehari tidak makan ? “

Nabi yusuf menjawab: “Semua ini saya lakukan agar saya selalu ingat dengan orang-orang yang miskin.”

Orang yang tidak ada kesedihan dalam hatinya, maka berarti hatinya telah runtuh. Barang siapa yang tidak merasakan kesedihan, maka ia tidak akan merasakan kelezatan beribadah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *