Kerisauan Hati Ahli Ibadah Dan Orang Yang Zuhud

Orang Yang Lalai Dan Orang Yang Ingat Kepada Allah
Feb 21, 2020
Di Dunia Memikirkan Ciptaan-Nya, Di Akhirat Melihat Dzat-Nya
Mar 2, 2020

إِنَّمَا يَسْتَوْحِشُ الْعُبَّادُ وَالزُّهَّادُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ لِغَيْبَتِهِمْ عَنِ اللهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ فَلَوْ شَهِدُوْهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ لَمْ يَسْتَوْحِشُوْا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Yang menyebabkan kerisauan hati terhadap orang-orang ahli ibadah dan orang-orang yang zuhud dari segala sesuatu, adalah disebabkan mereka terhijab (tidak melihat) dari Allah di dalam segala sesuatu. Seandainya mereka melihat dan mengenal Allah di dalam segala sesuatu, maka hati mereka tidak akan risau dari segala sesuatu.

YANG dimaksud orang-orang ahli ibadah (al-Ubbad) adalah orang-orang menyibukkan diri dalam melakukan segala bentuk ibadah. Seperti bangun malam, berpuasa di waktu siang dan ibadah-ibadah yang lainnya. Mereka disibukkan dengan kemanisan ibadah, sehingga mereka tidak merasakan manisnya melihat Allah, Dzat yang disembah. Mereka terhijab dari Allah dengan ibadah-ibadah yang mereka lakukan.
Adapun orang-orang yang zuhud (az-Zuhhad) adalah orang-orang yang lari meninggalkan dunia dan ahli dunia. Mereka merasakan manisnya zuhud, sehingga mereka terhenti sampai di situ dan mereka terhijab dari Allah.
Dua kelompok ini, baik dari orang-orang ahli ibadah atau orang-orang yang zuhud, hati mereka merasakan risau dengan melihat segala sesuatu, dikarenakan mereka terhijab dan tidak melihat Allah. Seandainya mereka melihat Allah dalam segala sesuatu, maka hati mereka tidak akan risau dan akan merasa senang dari segala sesuatu.
Mereka tidak melihat Allah, artinya mereka masih terpengaruh dengan melihat apa yang ada di sekitar mereka. Sehingga mereka terhijab dari Allah, merasa risau dan merasa terganggu ketika berkumpul dengan makhluk ciptaan Allah dan berusaha untuk menjauh dari makhluk. Seandainya mereka melihat dan mengenal Allah di dalam segala apa yang ada di sekitar mereka, maka mereka tidak akan merasa risau. Karena di dalam segala sesuatu itu menunjukkan adanya kebesaran dan keagungan Allah.

الْخَلْقُ مَظْهَرٌ مِنْ مَظَاهِرِ الْحَقِّ

“Segala sesuatu itu menunjukkan adanya kebesaran Allah.”
Dengan melihat makhluk-makhluk ciptaan Allah dan mengetahui kebesaran-Nya di dalam ciptaan-ciptaan-Nya, maka hati akan bertambah cinta dan bertambah dekat kepada Allah dan akan merasa senang berkumpul dengan ciptaan-Nya.
Orang-orang yang arif billah kedudukan mereka lebih tinggi dibanding orang-orang yang zuhud dan orang-orang ahli ibadah. Karena orang-orang yang arif billah, mereka sudah melihat Allah dan tidak ada yang menghijab mereka dari Allah. Di setiap mereka melihat sesuatu, mereka selalu ingat kepada Allah dan tidak bisa terpengaruh dari sesuatu yang mereka lihat. Sehingga mereka selalu bertambah dekat dan bertambah cinta kepada Allah.
Orang-orang yang arif seperti ini, dalam tasawuf diistilahkan dengan:

كَائِنْ بَائِنْ

Yaitu orang-orang yang bersama manusia tetapi hakikatnya mereka putus dari manusia. Sehingga sebagian dari mereka tetap bisa bermunajat kepada Allah, walaupun ia berada di tengah-tengah keramaian manusia semisal di pasar.
Al-lmam Abu Yazid al-Busthami pernah mengatakan: “Selama dua puluh tahun aku berkumpul dengan manusia. Mereka mengira aku berbicara dengan mereka, padahal sebenarnya aku berbicara dengan Allah.” Artinya, aku bersama mereka tetapi hatiku bersama Allah.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ

“Ada orang-orang yang mulia, yang mereka tidak bisa dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah” (QS. An-Nur: 37)
Oleh karena itu, janganlah dikira bahwa orang-orang Sufi hanya duduk menganggur di rumah tanpa mau berkumpul di tengah-tengah manusia, tanpa mau bekerja di pasar. Karena orang yang bekerja ia akan merasa berkecukupan, sehingga ia tidak butuh kepada makhluk. Dan karena inilah ia bisa sampai kepada Allah.
Abdullah bin Umar tetap melakukan aktivitasnya dengan pergi ke pasar bekerja sebagai makelar dan beliau tetap berdzikir kepada Allah.
Suatu ketika Al-Habib Husien Jombang, ketika beliau berada di pasar terlintas dalam hati beliau: “Tidak pantas saya berada di sini. Yang pantas saya berada di rumah melakukan ibadah.” Tidak lama datang seorang yang tidak beliau kenal menghampiri beliau. Kemudian orang itu menjewer telinga beliau sambil mengatakan: “Ya Sayyid, jadilah orang baik-baik dengan bekerja di pasar mencari nafkah! ”
Nabiyullah Ibrahim, beliau diajak oleh Allah menuju kerajaan langit dan diperlihatkan kebesaran-kebesaran kerajaan langit, supaya bertambah kema’rifatannya kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ نُرِى إِبْرَاهِيْمَ مَلَكُوْتَ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضِ

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi.” (QS. Al-An’am: 75)
Orang-orang yang arif billah (orang-orang yang berjalan di jalannya Nabiyullah Ibrahim) juga demikian. Mereka diperlihatkan kebesaran-kebesaran ciptaan Allah. Sehingga mereka bertambah dekat dengan Allah, bertambah cinta dengan Allah. Kemudian mereka sampai kepada Allah.
Seorang dari auliya Allah ada yang diperlihatkan kebesaran-kebesaran bumi. Sehingga ia dapat melihat sampai tujuh lapis bumi. Di lapisan bumi yang ketujuh tersebut terdapat alam barzakh-nya orang-orang kafir dan orang-orang yang sangat durhaka kepada Allah.
Orang-orang seperti ini, di dunia oleh Allah diperlihatkan rahasia-rahasia alam ciptaan-ciptaan-Nya. Begitu juga di akhirat mereka akan diperlihatkan Dzat kesempurnaan-Nya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *