Kerakusan Adalah Bibit Kehinaan

As-Saairun Dan Al-Waashilun, Tidak Melihat Amal Ibadah Dan Kedudukan Diri
Feb 20, 2019
Angan-Angan Menjadikan Manusia Rakus
Mar 2, 2019

مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلَّا عَلَى بَذْرِ طَمَعٍ

Tidak akan berkembang biak cabang kehinaan kecuali di atas bibit kerakusan.

 

DALAM kata hikmah ini, Ibnu Athaillah menerangkan bahwa sifat tamak (rakus) adalah bahaya yang paling besar pada jiwa manusia dan kejelekan yang dapat merusak ubudiahnya. Bahkan tamak merupakan sumber dari segala bahaya. Sebab tamak itu adalah murni hanya bersandar dan bergantung pada manusia serta mengabdi kepada manusia. Maka tidak ada kehinaan seperti tamak.

Orang mukmin tidak dihalalkan merendahkan dirinya, sebab orang mukmin itu dimuliakan oleh Allah. Hakekat iman berlawanan dengan sifat tamak (rakus), karena iman menghendaki adanya kemuliaan dan tamak menghendaki kehinaan. Maka orang mukmin adalah orang yang mulia. Tidak pantas ia menjadi rakus karena orang rakus itu hina. Kemuliaan itu sifat orang yang beriman karena orang yang beriman itu keinginannya hanya kepada Allah. Ketentramannya juga hanya dengan Allah, tidak dengan yang lain. Kemuliaan itu telah diberikan oleh Allah kepada setiap orang yang beriman dalam firman-Nya:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Kemuliaan itu hanya milik Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Maka tidak patut bagi orang mukmin menghinakan dirinya dengan membutuhkan makhluk selain Allah. Bila ia membutuhkan sesuatu, maka ia kembali kepada Allah, tidak kepada makhluk. Sebab makhluk itu lemah seperti dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Di dalam ayat lain Allah berfirman :

الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Apakah mereka mencari kemuliaan disisi mereka (makhluk), maka ketahuilah kemuliaan itu hanya milik Allah.” (QS. An-Nisa’: 139)

Arti ayat ini, janganlah mencari kemuliaan dari selain Allah, sebab kemuliaan itu hanya milik Allah. Jangan mengandalkan sesuatu selain Allah. Jangan mengandalkan modal. Jangan mengandalkan harta. Jangan mengandalkan kemuliaan nasab. Sebab semua itu akan binasa dan engkau akan binasa bersamanya.

Sebagaimana kemuliaan itu adalah sifat orang yang beriman, kehinaan adalah sifat orang kafir dan orang munafik. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menantang Allah dan Rasul-Nya mereka termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-Mujadalah: 20)

Abul Abbas Al-Mursi berkata: “Demi Allah, aku tidak melihat kemuliaan seperti orang yang tidak mengharap sesuatu dari makhluk.”

Orang yang rakus menjadi hina karena ia meninggalkan Tuhan Yang Maha Mulia dan bergantung pada manusia yang hina sepertinya. Ia meninggalkan Tuhan Yang Maha Pemurah dan Kaya, bersandar pada manusia yang miskin seperti dirinya.

Siapa yang menjadi budak Allah berarti merdeka dan barang siapa yang berharap pada makhluk berarti ia menjadi budak makhluk itu.

Abu Bakar Al-Warraq Al-Hakim radhiyallahu anhu berkata:

Andaikan kerakusan (tamak) itu ditanya, siapa bapakmu?

Maka ia akan menjawab, “ragu pada takdir”.

Kalau ia ditanya, apa kerjamu? Ia menjawab, ”mencari kehinaan”.

Dan bila ditanya, tujuanmu apa ? Maka ia menjawab, “tidak mendapat apa-apa”.

Jadi, orang yang rakus timbulnya dari keraguan pada takdir. Kerjanya hanya mencari kehinaan. Ia mengikuti hawa nafsunya dan mengejar dunia sehingga ia hina di hadapan orang-orang yang beriman dan di hadapan Allah. Namun pada akhirnya ia tidak mendapatkan apa-apa. Yang didapat hanyalah kerendahan dan kehinaan.

Abu Hasan Al-Warraq An-Naisaburi radhiyallahu anhu berkata: “Siapa yang merasakan pada dirinya cinta pada sesuatu dari dunia, maka ia dibunuh oleh pedang kerakusan. Siapa yang rakus ingin sesuatu, maka ia ditarik pada kehinaan. Dan dengan kehinaan itu ia binasa.”

Dalam syair disebutkan:

اَتَطْمَعُ فِي لَيْلَى وَتَعْلَمُ اَنَّـمَا

تُقَطِّعُ اَعْنَاقَ الرِّجَالِ الْمَطَامِع

Apakah engkau rakus ingin mendapatkan Laila padahal engkau tahu

Laila memancung leher lelaki yang suka padanya

 

Maka tidak mustahil sifat rakus itu dapat merusak agama dan bisa mengikis habis cahaya keimanan seseorang kepada Allah. Ini disebabkan oleh rakus itu mengikuti hawa nafsunya.

Dalam kitab At-Tanwir, Ibnu Athaillah berkata: “Maka carilah sifat wara’ dalam dirimu lebih dari engkau mencari yang lain. Sucikanlah dirimu dari sifat rakus kepada makhluk. Seandainya rakus itu mensucikan dirinya dengan mandi air tujuh lautan, maka air sebanyak itu tidak dapat mensucikannya, kecuali dia putus asa dari mereka (makhluk) dan kehilangan keinginan dari mereka. “

Sayyidina Ali karramallahu wajhahu pernah datang ke kota Basrah. Ia masuk ke masjid Jami’ kota tersebut. Di dalam masjid beliau mendapatkan banyak qussosh (pembicara, tukang cerita) yang sedang bercerita. Lalu mereka diusir oleh Sayyidina Ali karramallahu wajhahu karena isi pembicaraan mereka hanya guyonan dan cerita. Sampailah Sayyidina Ali kepada Hasan Al-Bashri yang juga sedang berbicara di masjid itu.

“Hai anak muda, kalau kau bisa menjawab pertanyaanku ini, maka kau kubiarkan tetap mengajar di masjid ini. Bila tidak, maka kan juga akan aku usir seperti mereka,” ucap Sayyidina Ali radhiyallahu anhu kepada Hasan Al-Bashri. Kala itu, Hasan Al-Bashri kelihatan hebat dan berwibawa. Tampak bahwa ia adalah orang yang berilmu.

“Tanyakan pada saya apa yang kau suka,” kata Hasan Al-Bashri.

“Apa yang mengokohkan agama?” tanya Sayyidina Ali radhiyallahu anhu kepadanya.

“Sifat wara”, jawab Hasan Al-Bashri kemudian.

“Apa yang dapat merusak agama ?” tanya Sayyidina Ali radhiyallahu anhu selanjutnya.

“Sifat tamak (kerakusan),” jawab Hasan Al-Bashri.

“Duduklah kau di masjid ini. Orang sepertimu bisa memberi manfaat kepada manusia,” kata Sayyidina Ali radhiyallahu anhu setelah mendengar jawaban yang tepat tersebut.

Dari cerita di atas dapat diambil faedah bahwa para pembicara yang sering membawa cerita-cerita, guyonan yang menghibur pendengarnya tidak memberi manfaat. Mereka bukanlah para Dai Ilallah. Tetapi mereka disebut qussosh (tukang cerita) yang oleh Sayyidina Ali radhiyallahu anhu diusir dari masjid sebab mereka tidak berguna.

Ibnu Athailah berkata: “Aku pernah mendengar guru kami (Abu Abbas Al-Mursi radhiyallahu anhu) mengatakan, “ Dulu pada aku permulaan bersuluk, tatkala aku pergi ke orang yang aku kenal, lalu aku membeli darinya barang seharga separuh dirham maka terlintas di hatiku kata, ‘barang kali ia nanti tidak menerima uangku’. Tiba-tiba ada suara tanpa rupa yang berbunyi, “Keselamatan agama itu dengan meninggalkan tamak pada manusia.”

Hal yang dialami oleh Abul Abbas Al-Mursi ini sering terjadi pada kalangan para ustadz dan kiai. Kalau Abul Abbas Al-Mursi hanya terlintas di hati dan tidak sampai terjadi. Namun pada zaman sekarang kerakusan ini telah merajalela. Bahkan ada seorang ustadz yang membawa beberapa muridnya ke sebuah warung tanpa membawa uang. Muridnya merasa ketakutan dan mengungkapkan kepada ustadznya bahwa ia tidak membawa uang.

“Kalau bersamaku tidak pakai uang.” Jawab ustadz itu enteng.

Selesai makan mereka pulang tanpa bayar dan berterima kasih kepada pemilik warung hanya dengan kata-kata “ Ayo pulang, ya.”

Orang awam menganggap hal seperti ini adalah maqom (kedudukan) dan kekeramatan di sisi Allah. Padahal ini merupakan sifat buruk yang merusak agama. Itu adalah akhlaq yang jelek.

Seharusnya para ustadz dan kiai itu, bila membeli sesuatu dan uangnya ditolak oleh penjualnya, mereka meniru orang-orang yang dahulu. Semestinya ia berkata kepada penjual itu, “Kau harus terima uangku ini. Aku di sini membeli. Aku tidak mau merugikan kamu. Tetapi bila kau mau memberiku hadiah di kesempatan yang lain, maka aku akan menerimanya walau berupa cakar ayam.”

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak pernah membikin rugi dagangan para sahabatnya. Kalau Rasulullah memberi sesuatu pasti ia membayar atau hutang. Pada suatu saat Rasulullah pergi ke pasar untuk membelikan Aisyah secarik kain dengan hutang. Namun penjualnya tidak mau kalau berangnya dihutang oleh Rasulullah. Maka Rasulullah tidak jadi membeli. Rasulullah tidak mau memaksa sahabatnya tersebut. Sahabat itu memang berhak menolak. Apa yang dilakukan Rasulullah ini adalah akhlak yang luar biasa mulia.

Al-Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad Jombang, seorang wali besar ahli mukasyafah yang disegani oleh banyak orang, bila ia pergi ke pasar untuk membeli sesuatu maka ia bertanya kepada penjual itu harga barang yang akan dibeli.

“Berapa ini ?,” Tanyanya kepada orang itu. “Sepuluh rupiah, bib,” jawab sang penjual.

“Ini harga untuk saya saja ataukah untuk orang lain? Tanya Habib Husein kemudian.

“ Untuk sampeyan saja. Kalau untuk orang lain harganya dua belas ribu rupiah, “ kata sang penjual itu.

“Saya ingin harga yang sama dengan orang lain,” ucap Habib Husein Al-Haddad. Ia tidak ingin diistimewakan. Ia tidak mau tamak terhadap orang lain.

Ibnu Athaillah radhiyallahu anhu pernah mendengar gurunya (Abul Abbas Al-Mursi radhiyallahu anhu) berkata, “Orang yang tamak selamanya tak pernah kenyang. Coba perhatikan semua hurufnya berlubang. Tho’ mim dan ain (طمع).”

Artinya orang yang tamak itu tak pernah merasa puas walau punya uang berapa saja ia akan terus merasa kurang. Walau dapat semilyar perhari tetap akan bocor (tidak puas). Berbeda dengan orang yang qanaah, maka ia akan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah.

Ibnu Athaillah mengatakan dalam kitab At-Tanwir, “Jadilah engkau seorang hamba seperti Ibrahim alaihis salam yang berkata “لا أحب الأفلين” (aku tidak senang sesuatu yang sirna).” Dan setiap sesuatu yang selain Allah pada hakikatnya sirna. Allah berfirman:

مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

“Ikutlah agama bapak kalian Ibrahim.” (QS Al-Hajj: 78)

Termasuk dari tuntunan Ibrahim alaihis salam adalah tidak mengharap kepada makhluk. Tatkala Ibrahim akan dibakar oleh api Namrud, Jibril datang kepadanya.

“Apakah kau punya hajat ?” Tanya Jibril. “Kalau padamu, tidak. Kepada Allah, iya,” jawab Ibrahim. “Minta saja kepada-Nya, kata Jibril.

“Cukup bagiku untuk meminta kepadanya karena Dia sudah tahu keadaanku”, tegas Ibrahim. Begitulah Ibrahim alaihissalam. Ia tidak mau mengaharap kepada makhluk. Bahkan ia tidak berdoa kepada Allah karena di saat itu ia melihat Allah lebih dekat padanya dari Jibril dan doanya. Maka Allah menyelamatkan Ibrahim dari api Namrud.

Bila seseorang masih melihat dan mengintip apa yang dimiliki oleh manusia dan masih mengharap meski dari mereka atau terlintas di hatinya ingin diberi sesuatu oleh seseorang, maka menurut tuntutan wara’ dan adab ia harus memberi pelajaran kepada dirinya dengan tidak memakan atau menikmati pemberian itu.

Ada seseorang memikul gandum datang kepada Abu Madyan radhiyallahu anhu. Maka nafsunya bertanya, “Dari mana ini ?

Lalu Abu Madyan menjawab nafsunya sendiri dengan berkata,”Aku tahu dari mana datangnya gandum ini, wahai musuh Allah.”

Maka dalam rangka melatih diri dan memberi pelajaran kepada nafsunya, Abu Madyan radhiyallahu anhu menyuruh muridnya untuk membagikan pemberian orang itu kepada fakir miskin. Ia tidak mau memakannya sama sekali sebagai siksaan bagi dirinya yang melihat orang lain sebelum Allah.

Sikap kita bila menerima suatu pemberian dari seseorang adalah yang pertama kali kita lihat adalah Allah yang memberi kenikmatan tersebut. Kita ucapakan Alhamdulillah. Barulah kita lihat manusia yang mengantar pemberian itu dari Allah. Kita ucapkan padanya جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Sebab orang itu adalah orang yang dipilih oleh Allah sebagai utusan-Nya.

Dikatakan: “Rezeki yang paling halal adalah sesuatu yang tak terlintas di hati dan engkau tidak memintanya kepada siapapun, baik wanita atau lelaki.” Maksudnya rezeki itu tidak diharap-harap tetapi datang secara mendadak.

Abu Muhammad Abdul Aziz Al-Mahdawi mengatakan: “Ketahuilah bahwa wara’ itu ialah tidak adanya hubungan antara dirimu dan makhluk dalam hal mengambil atau memberi, menerima atau menolak. Semuanya dari Allah. Kau datang kepada Allah dalam keadaan suci dari segala sesuatu dan ilmu serta amal, sebagaimana dalam firman Allah:

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ

“Dan sesungguhnya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana kami ciptakan kamu pertama kali.” (QS. Al-An’am: 94)

Al-Mahdawi berkata: “Ulama bersepakat bahwa barang halal yang mutlak adalah yang diambil dari Allah tanpa perantara. Ini adalah maqam tawakkal. Oleh karena itu sebagian ulama berkata, “Barang halal ialah yang tidak melupakan Allah”.

Sebagian Sufi berkata: “Semua hamba Allah memakan rezeki mereka. Tetapi mereka berbeda-berbeda kedudukannya. Ada yang mendapat rezeki dengan kehinaan. Ada yang mendapatkan rezekinya dari bekerja. Ada yang memperoleh rezekinya dengan menunggu. Ada yang memperolehnya dengan kemuliaan tanpa bekerja, menunggu atau terhina.”

Orang yang mendapatkan rezekinya dengan kehinaan ialah para peminta-minta. Mereka yang mendapatkan rezekinya dengan bekerja adalah kaum buruh yang memperoleh rezekinya dengan keahlian dan kepayahan mereka. Yang mendapatkan rezeki dengan menunggu adalah para pedagang. Pedagang itu menuggu dagangannya laku. Hatinya lelah dan tersiksa dengan penantian itu. Sedangkan mereka yang mendapatkan rezeki dengan mulia tanpa bekerja, tanpa menunggu dan tanpa terhina adalah kaum sufi. Mereka hanya melihat Allah Yang Maha Mulia, maka mereka mengambil bagian mereka dari Allah dengan mulia.

Sahl bin Abdullah At-Tusturi mengatakan: “Melihat sebab bukan tingkatan iman. Melihat sebab adalah dalam Islam.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *