KEMAMPUAN MELIHAT ALAM MALAKUT DALAM KEADAAN JAGA

MASUKNYA PIKIRAN LURUS DALAM HATI
Feb 27, 2017
KEMAMPUAN ‘MUKASYAFAH’ ADALAH KEMAMPUAN DASAR MANUSIA
Feb 27, 2017

KEMAMPUAN MELIHAT ALAM MALAKUT DALAM KEADAAN JAGA

ولا تظنن أن هذه الطاقة تنفتح بالنوم والموت فقط, بل تنفتح باليقظة لمن أخلص الجهاد والرياضة, وتخلص من يد الشهوة والغضب والأخلاق القبيحة والأعمال الرديئة

Janganlah sekali-kali menyangka bahwa kekuatan (melihat alam malakut) ini hanya terbuka pada saat tidur dan mati saja. Tapi dapat juga terbuka dalam keadaan jaga bagi mereka yang benar¬-benar berjuang, melatih diri dan menghindarkan diri dari cengkeraman nafsu, angkara murka, pekerti buruk dan perbuatan-perbuatan hina.

فإذا جلس فى مكان خال وعطل طريق الحواس, وفتح عين الباطن وسمعه, وجعل القلب فى مناسبة عالم الملكوت, وقال دائما: “الله الله الله” بقلبه دون لسانه, إلى أن يصير لا خير معه من نفسه ولا من العالم ويبقى لايرى شيئا إلا الله سبحانه وتعالى, انفتحت تلك الطاقة, وأبصر فى اليقظة الذي يبصره فى النوم, فتظهر له أرواح الملائكة والأنبياء, والصور الحسنة الجميلة الجليلة, وانكشف له ملكوت السموات والأرض

Ketika orang yang seperti itu duduk di tempat yang sepi, menghentikan jalan indra, membuka mata batin dan pendengarannya, menyelaraskan hati terhadap alam malakut dan mengucapkan “Allah, Allah, Allah”, terus menerus dalam hati -bukan dengan lisan- sampai tak menyadari dirinya dan alam sekelilingnya, sehingga yang terlihat olehnya hanyalah Allah swt. saja, maka akan terbukalah kekuatan itu. Diapun lalu dapat melihat, dalam jaga, apa yang dilihatnya ketika tidur. Ruh-¬ruh malaikat dan Nabi-nabi serta bentuk-bentuk elok indah lagi agung akan tampak jelas baginya. Kerajaan-kerajaan langit dari bumi terkuak baginya.

ورأى ما لايمكن شرحه ولا وصفه كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : ” زويت لى الأرض فرأيت مشارقها ومغاربها ” وقال الله عز وجل : ” وكذالك نري إبراهيم ملكوت السموات والأرض ” (الأنعام: ٧٥) لأن علوم الأنبياء عليهم السلام كلها كانت من هذا الطريق لا من طريق الحواس كما قال الله سبحانه وتعالى : ” واذكر اسم ربك وتبتل إليه تبتيلا ” (المزمل: ٨) معناه الإنقطاع عن كل شيء, وتطهير القلب من كل شيء, والإبتهال إليه سبحانه وتعالى بالكليات, وهو طريق الصوفية فى هذا الزمان, وأما طريق التعليم فهو طريق العلماء. وهذه الدرجة الكبيرة مختصرة من طريق النبوة, وكذالك علم الأولياء لأنه وقع فى قلوبهم بلا واسطة من حضرة الحق كما قال سبحانه وتعالى : ” آتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما ” (الكهف: ٦٥)

Dan dia dapat melihat apa yang tak mungkin diterangkan maupun disifati, sebagaimana sabda Nabi saw.:

زُوِيَتْ لِى الأَرْضُ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا

Artinya: “Bumi didekatkan padaku, maka aku pun dapat melihat bagian-bagian timur dan baratnya.”

Dan firman Allah:

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ  . الأنعام : ٧٥

Artinya: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda (kerajaan) langit dan bumi.” (QS. Al-An’am: 75)

Sebab ilmu-ilmu para Nabi as. semuanya selalu melalui jalan ini, bukan dari jalan indra. Sesuai firman Allah swt.:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلا . المزمل:٨

Artinya: “Sebutlah nama Tuhanmu dan tekunlah beribadah kepada-Nya setekun-tekunnya.”

(QS. Al-Muzzammil: 8)

Arti “At-Tabtiil” (tekun beribadah) ialah memutuskan hubungan dan ikatan dengan segala sesuatu, membersihkan hati dari segala sesuatu, dan menghadapkan diri kepada Allah swt. secara total. Inilah jalan orang-orang sufi dewasa ini. Sedangkan metode pengajaran (ta’lim) adalah jalan ulama. Tingkat yang tinggi ini jalannya hanya dapat ditempuh melalui jalan nubuwwah (kenabian) saja. Demikian pula ilmu para wali (kekasih Allah). Karena ia begitu saja datang di hati mereka tanpa perantara, dari sisi Tuhan yang Maha Benar. Seperti firman Allah swt.:

وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا . الكهف:٦٥

Artinya: “Dan Kami anugerahi dia ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al-Kahfi : 65)

وهذه الطريقة لاتفهم إلا بالتجربة, وإن لم تحصل بالذوق لم تحصل بالتعليم, والواجب التصديق بها حتى لاتحرم شعاع سعادتهم, وهو من عجائب القلب, ومن لم يبصر لم يصدق كما قال سبحانه وتعالى : ” بل كذبوا بما لم يحيطوا بعلمه ولما يأتهم تأويله ” (يونس:٣٩) وقوله : ” وإذا لم يهتدوا به فسيقولون هذا إفك قديم ” (الأحقاف: ١١).

Jalan ini tidak bisa dipahami kecuali dengan tajribah (pengalaman).   Apabila jalan ini tidak dapat ditempuh dengan perasaan (dzauq), maka tak dapat pula ditempuh hanya dengan pengajaran. Yang penting adalah mempercayai jalan ini, sehingga pancaran sinar kebahagiaan mereka (para Nabi dan wali) itu tidak terhalang. Ini termasuk keajaiban-keajaiban hati. Siapa yang tidak melihat, tidak akan percaya, seperti firman Allah swt.:

بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ . يونس : ٣٩

Artinya: “Sebaliknya mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dan belum datang kepada mereka takwilnya.” (QS. Yunus: 39)

Dan firman-Nya:

وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ . الأحقاف : ١١

Artinya: “Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengan Al-Qur’an, merekapun akan mengatakan “Ini adalah kebodohan lama.””.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *