Kelezatan Beribadah Cukup Sebagai Balasan

Beramal Segera Dibalas
Sep 24, 2019
Dijadikan Ahli Taat Sudah Cukup
Oct 2, 2019

كَفَى الْعَامِلِيْنَ جَزَاءً مَا هُوَ فَاتِحُهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ فِيْ طَاعَتِهِ وَمَا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْهِمْ مِنْ وُجُوْدِ مُؤَانَسَتِهِ

Cukup sebagai pembalasan kepada orang-orang yang beramal apa yang telah dibukakan oleh Allah di hati mereka di dalam melakukan ketaatan dan apa yang telah diberikan Allah kepada mereka dari kesenangan-kesenangan (yang mereka rasakan di waktu munajat dengan Allah).

 

TERMASUK balasan Allah yang dipercepat di dunia adalah kesenangan dan kelezatan yang dirasakan seseorang ketika melakukan amal ibadah. Nabi Muhammad menyatakan bahwa puncak kesenangannya dirasakan ketika melakukan shalat. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِيْ فِي الصَّلَاةِ

“Dan puncak kesenanganku dijadikan dalam shalat.” (HR. Nasa’iy, Ahmad, Baihaqi)

Kelezatan yang dirasakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam juga para shalihin ketika melakukan shalat menjadi hiburan yang tiada bandingannya melebihi kesenangan yang dirasakan orang-orang yang ahli bermain dan bermaksiat. Oleh karena itu, ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadapi sebuah urusan yang sulit, beliau menyuruh Bilal untuk menghibumya dengan shalat. Nabi berkata kepada Bilal:

يَا بِلَالُ, أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

“Wahai Bilal, hiburlah kami dengan shalat.”

Maka Bilal mengumandangkan iqamah dan Nabi shallallahu alaihi wasallam melaksanakan shalat.

Urwah bin Zubair, seorang sahabat Nabi, terkena penyakit di kakinya. Para dokter (tabib) menyarankan kepadanya agar kakinya itu dipotong agar penyakit itu tidak menjalar ke anggota tubuhnya yang lain. Mereka hendak memberinya bius agar ia tidak merasakan sakit ketika dipotong, tetapi Urwah menolak.

Istri Urwah memberi saran kepada para dokter itu. Sang istri berkata, “Kalian tidak bisa memotong kakinya kecuali ketika ia sedang shalat.”

Maka ketika Urwah sedang melaksanakan shalat, dokter-dokter itu memotong kakinya. Selesai shalat Urwah melihat banyak dokter di sekelilingnya.

Urwah berkata kepada mereka, “Kalian mau memotong kaki saya? Di lain waktu saja, Insya Allah.”

Para dokter itu berkata,”ini kakimu, selesai kami potong.” Urwah berkata, “Aku tidak merasakan apa-apa.”

Urwah yang tidak menyadari bahwa kakinya sudah selesai dipotong. Betapa lezatnya shalat bagi Urwah sehingga melupakan kesakitan kakinya yang dipotong. Memang makanan ruhani yang berupa kelezatan batin ketika beribadah bisa menghilangkan rasa sakit badan.

Tidak hanya terbatas pada shalat, kelezatan dan kenikmatan bisa pula dirasakan dalam ibadah lainnya. Ada orang yang merasa nikmat ketika bersedekah. Bahkan baru niat akan bersedekah, ia sudah merasa senang.

Kelezatan-kelezatan dalam beribadah adalah termasuk dari tanda keridhoan Allah yang merupakan kenikmatan terbesar yang bisa melupakan dan menjadikan remeh segala balasan yang lain.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, surat At-Taubah ayat 72:

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللهِ أَكْبَرُ

“Dan keridhoan dari Allah adalah kenikmatan terbesar.” (QS. At-Taubah: 72)

Bagaimana caranya untuk meraih kelezatan dalam beribadah? Beribadahlah dengan sungguh-sungguh dengan rasa cinta kepada Allah, maka kelezatan itu akan kita rasakan. Jarrib ta’rif (cobalah baru kau tahu).

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *