Kelapangan Dan Kesempitan

Permintaan Arifin
Jun 29, 2019
Lebih Kuatir Dalam Kelapangan
Jul 10, 2019

بَسَطَكَ كَيْ لَا يُبْقِيَكَ مَعَ الْقَبْضِ وَقَبَضَكَ كَيْ لَا يَتْرُكَكَ مَعَ الْبَسْطِ وَأَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لَا تَكُوْنَ لِشَيْءٍ دُوْنَهُ

Allah melapangkan engkau supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan dan menyempitkan engkau supaya engkau jangan hanyut dalam kelapangan dan melepaskan engkau dari keduanya supaya engkau tidak bergantung kepada selain Allah.

 

Keadaan manusia selalu berubah-ubah, tidak selalu tetap pada satu keadaan. Allah yang mengubahnya. Allah mengubah sulit menjadi mudah, susah menjadi gembira, kegelapan menjadi cahaya, sakit menjadi sehat, ataupun sebaliknya. Semua perubahan itu datangnya dari Allah. Karena pada setiap detik Allah mempunyai penentuan yang tidak bisa dielakkan oleh manusia. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Pada setiap detik Allah dalam urusan.” (QS. Ar-Rahman: 29)

Perubahan-perubahan itu terjadi agar manusia mengerti bahwa ketentuan Allah pasti terlaksana dan tidak bisa ditolak. Juga agar manusia selalu memakai landasan la haula wa laa quwwata illa billah (tiada daya untuk menolak sesuatu dan tiada kekuatan untuk melakukan sesuatu kecuali dari pertolongan Allah). Begitu pula supaya manusia tidak menyesali terhadap apa yang luput dan terlepas darinya dan tidak merasa senang dengan apa yang ia dapatkan, sehingga ia menyerah dan kembali kepada Allah. Ini sesuai dengan firman Allah:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23).

Basth (kelapangan) adalah kesenangan yang mendalam di hati. Qabdh (kesempitan) adalah kesusahan yang mendalam di hati. Ini bisa terjadi pada setiap tingkatan manusia, baik awam ataupun khawash. Namun bagi orang awam Qabd disebut dengan khauf, sedangkan Basth disebut dengan Raja’.

Orang yang Arif billah, tetapi belum sempurna makrifatnya, mereka mengalami kelapangan dan kesempitan dalam menuju jalan Allah. Kalau mereka merasa kesempitan mereka bersabar dan ridho. Kalau yang datang kelapangan mereka menahan diri jangan sampai melampaui batas.

Kalau orang awam, mereka mendapatkan kesenangan karena ada suatu sebab seperti mendapatkan harta. Tetapi para Arif billah mendapatkan dalam hatinya kesenangan yang mendalam yang datang dari Allah dengan tiba-tiba, yang tidak diketahui apa sebabnya. Kadang-kadang kesenangan itu sulit dikendalikan sehingga timbul hal-hal yang kurang sopan dalam syariat seperti omongan kotor atau lainnya. Maka bila mengalami hal itu ia berusaha menahan diri dan diam dan kembali kepada Allah. Sebab kalau dilepas, akan timbul tindakan-tindakan yang kurang sopan terhadap Allah, walaupun tindakan-tindakan tersebut dianggap halal dalam syariat.

Sebaliknya, apabila kesempitan yang terjadi pada sang Arif. Dia harus sabar, ridho kepada Allah dan yakin bahwa perasaan itu sebentar lagi akan hilang. Kadang ada yang tidak sabar sehingga ia melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti marah-marah kepada isteri dan orang-orang. Dan ini semua adalah pengaruh kesempitan.

Kedua hal tersebut adalah cobaan dan ujian dari Allah. Di kala mendapatkan kesenangan kita diuji oleh Allah. Di saat kesusahan kita juga diuji oleh Allah.

Adapun orang-orang yang sudah di maqam fana’ (orang yang hatinya tidak tertuju kecuali hanya kepada Allah), maka mereka tidak terpengaruh dengan adanya kesempitan ataupun kelapangan, karena bagi mereka susah ataupun senang adalah sama.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *