Kebodohan Murid: Salah Masih Merasa Benar

Nikmat Tetap Walau Maksiat, Jangan-Jangan Itu Istidraj
Mar 19, 2019
Walau tidak Keramat, Jangan Dihina
Mar 26, 2019

مِنْ جَهْلِ الْمُرِيْدِ أَنْ يُسِيْءَ الْأَدَبَ فَتُؤَخَّرُ الْعُقُوْبَةُ عَنْهُ فَيَقُوْلُ “لَوْ كَانَ هَذَا سُوْءَ أَدَبٍ لَقُطِعَ الْإِمْدَادُ وَأَوْجَبَ الْإِبْعَادَ” فَقَدْ يُقْطَعُ الْمَدَدُ عَنْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا مَنْعُ الْمَزِيْدِ وَقَدْ تُقَامُ مَقَامَ الْبُعْدِ وَأَنْتَ لَا تَدْرِي وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا أَنْ يُخَلِّيَكَ وَمَا تُرِيْدُ

Termasuk kebodohan seorang murid adalah jika ia berbuat salah (suul adab), lalu tidak langsung dihukum sehingga ia berkata: Andaikata ini termasuk kesalahan pasti bantuan Allah akan terputus dan pasti sudah jauh.

Kadang-kadang bantuan Allah itu diputus, tetapi tidak dirasakan oleh si murid, meskipun hanya berupa tidak adanya tambahan yang baru ( tidak ada kemajuan). Adakalanya engkau sudah dijauhkan sedangkan kamu tidak tahu, meskipun engkau hanya dibiarkan mengikuti hawa nafsumu.

INI termasuk bentuk istidraj. Seorang murid yang melakukan kesalahan suul adab (tidak sopan) tetapi keadaannya tetap enak dan senang. Urusannya tetap lancar. Dari bodohnya si murid itu ia menyangka bahwa apa yang ia lakukan sudah benar. Katanya, andai apa yang ia lakukan itu adalah kesalahan maka pasti langsung ada hukuman dari Allah, pasti bantuan Allah sudah terputus dan ia jauh dari Allah.

Ia mengira bahwa hukuman itu hanya berbentuk kurangnya rezeki dari Allah. Ia tidak tahu bahwa orang yang suul adab kepada Allah, Nabi atau masyayikh dan para wali pasti ada hukumannya. Hukuman tersebut ada yang samar ada yang jelas. Ada yang dipercepat ada yang diperlambat. Ada yang kecil atau besar, di dunia atau di akhirat atau di dunia dan di akhirat.

Tidak adanya kemajuan dan tambahan yang baru dari Allah juga bentuk hukuman dan siksaan dari Allah. Adakalanya seseorang sudah jauh dari Allah tetapi ia tidak merasakan itu, meskipun hanya dengan cara dibiarkan mengikuti hawa nafsunya.

Ada hukuman yang berbahaya dan ditakuti. Yaitu balasan berupa hijab, Na’udzubillah. Ia dihijab untuk sampai kepada Allah sehingga ia putus dari perjalanannya kepada Allah. Seorang murid tidak bisa melanjutkan istiqamah dan mujahadahnya kepada Allah disebabkan suul adab baik kepada Allah, Nabi atau kepada gurunya.

Kalau si murid terkena uqubah (hukuman) ini dan tidak ditolong oleh rahmat Allah, maka dia akan lama dalam siksaan itu. Akhirnya ia jatuh di mata Allah dan hatinya akan terhijab, kesenangan berganti keresahan, cahaya hatinya terhapus menjadi kegelapan dan tidak bisa kembali lagi kepada kedudukan yang pertama. Matahari makrifatnya menjadi gerhana. Mukasyafahnya terputus.

Sampai-sampai ada yang terhijab dua puluh tahun tidak menemukan jalan kepada Allah. Untuk kembali lagi kepada maqam dan kedudukan yang pertama sangat sulit. Ada yang bertahun-tahun baru kembali. Ada yang bisa kembali di akhir umurnya. Ini sangat menyakitkan. Lebih baik dihukum dengan yang lain.

Orang yang tidak ditolong rahmat Allah ini akan ditelantarkan oleh Allah. Ia tidak diberi taufiq petunjuk Allah. Ia selalu dalam kesalahan. Sedangkan taufiq itu sangat dibutuhkan dan sangat mahal harganya. Taufiq hanya disebut satu kali dalam Al-Qur’an.

Ada tiga tanda seseorang mendapat taufiq. Pertama, mudah mengerjakan amal kebaikan padahal tidak ada niat dan tujuan. Kedua, berusaha untuk maksiat tetapi selalu terhindar dari maksiat. Ada saja yang menyebabkan gagal untuk berbuat maksiat. Misalnya, ia tidak punya biaya atau tidak mampu melakukannya.

Ada perkataan sufi:

وَمِنَ الْعِصْمَةِ أَنْ لَا تَقْدِرَ

“Termasuk penjagaan dari Allah kalau engkau mau berbuat maksiat tetapi tidak mampu.”

Ketiga, selalu terbuka baginya pintu kebutuhan atau hajat kepada Allah. Ia selalu berdoa kepada Allah dalam segala keadaan.

Sebaliknya, tanda seseorang mendapatkan khidzlan (ditelantarkan tidak diberi taufiq) ada tiga. Pertama, sukar melakukan ibadah padahal dia sudah berusaha sungguh-sungguh. Ada saja halangan yang menghambatnya dari perbuatan taat. Kedua, mudah terjerumus dalam maksiat padahal ia sudah berusaha untuk menghindar dari maksiat. Ketiga, tidak terbuka pintu untuk memohon kepada Allah, maka ia tidak merasa perlu berdoa dalam segala hal.

Mudah-mudahan kita termasuk hamba yang diberi taufiq dari Allah, sebagaimana diberikan kepada Nabi, Auliya dan Shalihin. Kita juga memohon agar anak-anak kita juga diberi taufiq oleh Allah.

Doa ini dibaca setelah doa azan.

اللّهُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْ اَوْلَادِيْ وَاحْفَظْهُمْ وَلَا تَضُرَّهُمْ وَوَفِّقْهُمْ لِطَاعَتِكَ وَارْزُقْنِيْ بِرَّهُمْ

“Ya Allah berilah barakah kepada anak-anakku, jagalah mereka, dan jangan bahayakan mereka. Berilah mereka petunjuk agar selalu taat kepada-Mu dan berilah aku rezeki kebaktian mereka.”

Nabi Muhammad berkat taufiq dari Allah dididik husnul adab oleh Allah sehingga Nabi menjadi manusia yang paling bagus budi pekertinya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ

“Aku dididik oleh Tuhanku, maka menjadi baiklah adabku.”

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendidik langsung para sahabatnya. Maka para sahabat menjadi baik akhlaknya berkat didikan Rasulullah. Rasulullah tidak hanya menyampaikan Al-Qur’an, tetapi dididik pula hatinya sehingga baik adabnya dan berhati bersih sehingga menjadi tauladan bagi generasi selanjutnya. Para sahabat mendidik para tabi’in dan seterusnya sampai kepada guru-guru tasawuf kita.

Orang bisa bertemu Allah dengan hati bersih juga termasuk adab. Tazkiah (membersihkan hati) itu fardhu ain. Hati menjadi bersih kalau dididik oleh orang soleh yang pernah dididik oleh orang yang sebelumnya dan seterusnya sampai kepada Rasulullah.

Adab sopan santun adalah nomor satu. Segala kewajiban dalam agama selalu didahulukan pengajaran adab. Ada Adab sholat, adab masuk masjid, adab makan, adab berdoa dan lainnya. Karena dengan adab itulah amal ibadah diterima oleh Allah. Contohnya, adab dalam berdoa kita mengangkat tangan, menghadap qiblat, bertawadhu kepada Allah. Wudhu pun dengan adab. Jangan berwudhu’ sambil telanjang. Walaupun sah tetapi kurang adab dan makruh.

Dalam majlis taklim juga ada adab. Seperti, tidak merokok di majlis taklim, berwudhu dan berhati bersih, serta hadir dengan niat yang baik. Maka majlis yang penuh dengan husnul adab akan dituruni rahmat, dan sakinah dari Allah. Ilmunya bermanfaat. Tetapi kalau di majlis itu tidak ada adab maka bukan rahmat malah laknat Allah yang turun.

Oleh karena itu, para sufi sangat mengutamakan adab ini. Habib Ali Al-Habsyi mengatakan:

اَلتَّصَوُّفُ خُلُقٌ فَمْنَ زَادَ خُلُقُهُ زَادَ تَصَوُّفُهُ

“Tasawuf adalah akhlak. Siapa yang lebih banyak akhlaknya berarti lebih banyak tasawufnya.”

Termasuk adab kepada Allah adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kalau tidak maka ia berarti suul adab terhadap Allah.

Di antara adab para sufi terhadap Allah adalah seperti yang dikatakan oleh Imam As-Sariy As-Saqati.

“Pada suatu malam aku salat isya’ dan sibuk dengan wiridku. Kakiku aku julurkan menghadap ke mihrab. Lalu ada suara, “wahai Sari, apakah begitu engkau duduk dengan raja.’ Maka aku tarik kakiku. Aku berkata, ‘Demi keagungan-Mu aku tidak akan mengulurkan kakiku lagi selamanya.”

As-Sariy dididik oleh Allah bagaimana beradab dengan Allah sampai dalam duduknya. Imam Junaid berkata, “Selama enam puluh tahun ia tidak menjulurkan kakinya, baik siang ataupun malam.”

Termasuk suul adab (ketidaksopanan) adalah menentang para masyayikh (para guru) dan para wali, tidak menghormati mereka, tidak mau menerima isyarat mereka.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَـمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَلَـمْ يُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا

“Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati orang besar kami.”

Para sufi berkata, “Durhaka kepada para guru tidak ada taubatnya.”

Mereka juga berkata, “Barangsiapa berkata kepada gurunya, ‘Kenapa’ maka ia tidak beruntung.”

Cerita di bawah ini adalah contoh hukuman orang yang menentang kepada salah satu wali dari wali-wali Allah.

Dikisahkan bahwa Imam Syafi’i punya tiga murid pandai. Al-Auza’i, Muhammad Robi’, dan Al-Muzani. Pada suatu hari Al-Auza’i pergi ke rumah Imam Syafi’i. Di tengah jalan ia bertemu dengan Syaiban Arro’i. Ia adalah seorang wali Allah yang memiliki ilmu syariat dan hakekat. Terjadilah perdebatan antara keduanya. Salah satu bahan perdebatan itu Syaiban Arro’i berpendapat tentang zakat, “Kalau menurutku semua milikku untuk Allah. Karena aku adalah hamba Allah dan seluruh hartaku milik Tuanku Allah.” Tentang haji pun mereka berbeda pendapat. Menurut Syaiban Arro’i bahwa wajib tiap waktu kita harus haji. Hati kita harus selalu menggantung ke Ka’bah. Al-Auza’i tidak setuju dengan apa yang diucapkan Syaiban Arro’i yang tampaknya berlawanan dengan syariat. Timbul di hatinya meremehkan atau terlempar kata-kata yang tidak sopan kepada Syaiban Arro’i.

Sesampainya di rumah Imam Syafi’i keadaan Al-Auza’i berbeda dengan biasanya. Imam Syafi’i mengajukan banyak pertanyaan kepadanya. Al-Auza’i tidak bisa menjawab. Tidak seperti biasanya, ia banyak salah dan menjadi bodoh di depan gurunya itu.

“Mungkin engkau telah melakukan kesalahan kepada seorang wali Allah ?” kata Imam Syafi’i dengan firasatnya melihat perubahan yang terjadi pada muridnya itu.

“Ya. Aku tadi bertemu dengan Syaiban Arro’i. Kemudian aku salahkan dia,” ucap Al-Auza’i.

“Mintalah maaf kepadanya, barangkali ilmumu dicabut olehnya,” kata Imam Syafi’i.

Al-Auza’i pergi menemui Syaiban Arro’i. Ia minta maaf kepadanya dan memohon ilmunya dikembalikan kepadanya. Agar ilmunya kembali, Syaiban Ar-Ro’i menyuruhnya untuk menyembelih ayam jago dan memakannya sampai pantatnya, “Ilmumu aku letakkan di pantat ayam itu,” kata Syaiban Arro’i.

Suul adab dengan Allah, Rasul, auliya, salihin dan kedua orang tua menimbulkan hukuman. Karena kebodohannya, banyak masyarakat yang tidak merasa bahwa dia dalam siksaan akibat suul adab tersebut. Kesulitan hidup yang tidak kunjung selesai yang dialami seseorang bisa akibat suul adab. Ia harus mengoreksi dirinya. Apakah ada kesalahan atau perbuatan yang tidak sopan kepada Allah, masyayikh atau kepada kedua orang tua.

Oleh karena itu, dalam hidup ini kita harus hati-hati. Kita harus menjaga akhlak dan kesopanan terhadap Allah, Rasul, Auliya dan Sholihin.

Ibrahim bin Adham berkata, “Seseorang tidak akan mencapai derajat orang sholeh kecuali setelah melampaui enam rintangan. Pertama, menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan. Kedua, menutup pintu nikmat dan membuka pintu kesukaran. Ketiga, menutup pintu istirahat dan membuka pintu perjuangan. Keempat, menutup pintu tidur dan membuka pintu jaga. Kelima, menutup pintu kekayaan dan membuka pintu kemiskinan. Keenam, menutup pintu harapan dan membuka pintu bersiap menghadapi kematian.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *