Kebijaksanaan Allah Yang Banyak Orang Tidak Mengerti

Allah Memberi, Berarti Menunjukkan Kemurahan-Nya, Kalau Tidak, Berarti Menunjukkan Kekuasan-Nya.
Oct 15, 2019
Dosa Bisa Menjadi Penghantar Kepada Allah
Oct 25, 2019

إِنَّـمَا يُؤْلِمُكَ الْمَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فِيْهِ

Sesungguhnya pencegahan itu menyedihkan hatimu, karena engkau kurang mengerti tentang rahmat dan kebijaksanaan Allah subhanahu wa ta’ala.

 

KENIKMATAN-kenikmatan Allah kepada hamba-Nya tidak bisa terhitung dan terus menerus, mulai diciptakan sampai mati, baik kenikmatan tersebut terasa menyenangkan atau tidak menyenangkan. Karena apa saja yang datangnya dari Allah pasti semuanya adalah kenikmatan, sebab Allah menghendaki hamba-Nya kebaikan. Oleh karena itu baik Allah memberi atau menolak (tidak memberi), semuanya itu adalah kenikmatan bagi orang yang mengerti tentang rahmat Allah.

Apabila datang kepada hamba pemberian atau penolakan hendaknya kedua-duanya dianggap sebagai anugerah dari Allah dan meyakini bahwa penolakan Allah itu karena ada mudharat (bahaya) yang akan menimpanya.

Para Ulama dari kalangan sufi mengatakan bahwa keadaan paling baik, paling utama bagi seorang hamba adalah ketika ia tidak diberi oleh Allah, karena dengan tidak diberi ia telah mendapatkan kebaikan, yaitu ia diselamatkan dari bahaya yang tidak ia mengerti, baik dunia atau akhirat.

Di samping itu, tidak diberi lebih selamat dan lebih aman. Juga dengan tidak diberi dapat lebih dekat kepada Allah, sebab orang Yang diberikan hajatnya, dikhawatirkan ia akan lupa dengan Allah. Seperti yang dialami oleh Fir’aun, ia menampakkan sifat ketuhanan sambil mengatakan :

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى (24)

“Sayalah Tuhan kalian yang paling besar.” (QS. An-Naazi’at: 24)

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa orang-orang kaya yang sombong itu adalah pewarisnya Qorun, sebaliknya para Ulama adalah pewaris Nabi:

وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Ulama itu adalah pewaris Nabi, sesungguhnya Nabi itu tidak mewariskan uang, tetapi yang diwariskan adalah ilmu. Siapa yang punya ilmu maka ia mendapat bagian banyak dari kenabian.”

Ibrahim Al Khawwash mengatakan: Tidak sempurna iman dan keyakinan seseorang sehingga ia memiliki dua sifat:

Pertama, ia harus percaya penuh kepada Allah, artinya ia pasrah diri kepada Allah bersandar hanya kepada-Nya dan tidak mengharap kecuali dari Allah.

Kedua, ia harus bersyukur kepada Allah, karena Allah menghindarkan darinya apa yang diujikan Allah kepada orang lain dari kekayaan dunia. Dan tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mengerti bahwa pencegahan itu lebih utama daripada pemberian. Dan tanda kebenarannya (kesungguhan keyakinannya kepada Allah) adalah ia merasakan dalam pencegahan itu kemanisan yang tidak ia dapatkan di waktu ia diberi. Dan tidak mengetahui hal ini kecuali Allah yang memberi makrifat (pengetahuan) kepada hamba-Nya, sehingga ia tidak melihat kecuali Allah dan ia tidak memiliki kecuali apa yang diberikan Allah kepadanya. Semuanya ikut Allah dan semuanya tunduk kepada Allah.

Orang yang sungguh-sungguh cinta kepada Allah akan merasakan demikian, yaitu apa yang datang dari Allah baik menyenangkan atau tidak. Semuanya adalah baik, karena datangnya dari Allah kekasihnya.

Seseorang tidak akan benar-benar beriman dan cinta kepada Allah, kecuali dia beriman bahwa apa yang datang dari Allah semuanya itu adalah baik, baik diberi atau ditolak.

Dikatakan :

حَبِيْبِيْ وَمَحْبُوْبِيْ عَلَى كُلِّ حَالَةٍ

“Dalam keadaan apapun dia adalah kekasihku”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *