Kata-Kata Membawa Corak Hati

Cahaya Mendahului Kata-Kata
Nov 9, 2020
Orang Yang Punya Izin, Ucapannya Bisa Dipahami
Nov 15, 2020

كُلُّ كَلَامٍ يَبْرُزُ وَعَلَيْهِ كِسْوَةُ الْقَلْبِ الَّذِى مِنْهُ بَرَزَ

Tiap perkataan yang keluar pasti membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya.

 

TANDA ucapan atau nasihat yang didahului oleh cahaya adalah perkataan itu berkesan di hati dan membangkitkan jiwa. Apabila didengar oleh orang yang lalai maka ia akan sadar. Jika yang mendengar orang yang bermaksiat maka ia akan berhenti dari maksiatnya. Kalau didengar oleh orang yang taat maka ia tambah giat dalam ibadahnya. Kalau didengar oleh orang yang sedang menempuh jalan Allah, maka ia tidak merasa payah dalam perjalanannya. Kalau didengar oleh orang yang sudah sampai kepada Allah, maka kedudukan orang itu akan semakin mantap.

Perkataan itu mempunyai pengaruh menurut orang yang berbicara. Jikalau yang berbicara memiliki hati yang bercahaya dan ikhlas, penuh dengan keimanan dan ketawakalan, maka nasihatnya akan menembus ke dalam hati orang yang mendengarnya.

Tapi, bila hati orang yang berkata itu keruh, maka kata-katanya akan masuk di telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Sebab, setiap perkataan yang keluar pasti membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Peribahasa Arab mengatakan:

كُلُّ إِنَاءٍ يَنْضَحُ بِمَا فِيْهِ

“Setiap wadah mengeluarkan apa yang terisi di dalamnya.”

Dalam syair Arab disebutkan:

اِنَّ الْكَلَامَ لَفِى الْفُؤَادِ وَإِنَّمَا

جُعِلَ اللِّسَانُ عَلَى الْفُؤَادِ دَلِيْلًا

Sesungguhnya kata-kata itu di dalam hati

Lidah itu hanyalah menjadi tanda apa yang di hati

Oleh karena itu Sayyidina Ali Karramallahu wajhah berkata: “Siapa yang berbicara, maka saya bisa mengenalnya seketika itu. Barangsiapa tidak berbicara, maka saya mengenalnya setelah satu hari”. Ada pula yang berkata: “Kata-kata yang keluar dari hati yang tulus maka akan masuk ke dalam hati.”

 

Kisah Ibnu Athaillah

Ibnu Athaillah, pengarang Kitab Hikam ini, adalah contoh orang yang kata-katanya didahului oleh cahaya. Kata-kata hikmahnya punya pengaruh dan manfaat yang baik bagi orang yang mendengarnya. Kitabnya dipelajari di seantero dunia dan disyarahi oleh tiga puluhan ulama. Cukuplah pujian gurunya, Abul Abbas Al-Mursi, kepadanya sebagai bukti kebesaran dirinya.

Ibnu Athaillah dalam Kitab Lathaiful Minan bercerita: “Dulu saya pernah berkata kepada salah satu murid Syeikh Abul Abbas Al-Mursi ‘Aku ingin guruku (Syeikh Abul Abbas Al-Mursi) memperhatikan aku dan aku berada di hatinya.’ Ketika aku masuk bertemu dengan Syeikh Abul Abbas Al-Mursi ia berkata, ‘Janganlah kamu ingin berada di hati gurumu. Tapi berusahalah agar gurumu berada di hatimu. Menurut kebesaran sang guru di hatimu, maka kamu menjadi besar di hati gurumu.’ Kemudian Abul Abbas Al-Mursi berkata kepadaku, “Engkau ingin jadi apa? Demi Allah, engkau akan menjadi orang besar, Demi Allah engkau begini, dan begini.” Dan semua yang diucapkan guruku itu tejadi.”

Abul Hasan Al-Hariri teman Abul Abbas Al-Mursi mengatakan kepadaku: “Pada suatu hari aku duduk bersama Abul Abbas Al-Mursi. Engkau terlihat berada di sana. Aku berkata kepadanya. “Wahai tuanku., sungguh pemuda ini aneh. Murid-murid yang lain menjauh darimu, tapi ia tetap melazimi dirimu! Abul Abbas Al-Mursi menjawab, “Hai Abul Hasan, pemuda ini (Ibnu Athaillah) tidak akan mati kecuali akan menjadi seorang yang berdakwah menuju Allah.”

Ibnu Athaillah menuturkan, ”Dulunya aku sering terkena waswas dalam bersuci. Hal itu sampai kepada Syeikh Abul Abbas Al-Mursi. Ia berkata kepadaku, ‘Katanya kamu waswas dalam wudhu.’ Aku menjawab, ‘Ya.’

‘Sesungguhnya golongan tasawuf ini mempermainkan syetan. bukan dipermainkan oleh syetan,’ nasihatnya kepadaku. Pada akhirnya dengan berkat Syeikh Abul Abbas Al-Mursi waswasku hilang sampai aku khawatir terlalu menggampangkan sebagian urusan. Salah satu doa yang diajarkan Abul Abbas Al-Mursi untuk menghilangkan waswas adalah:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ الْخَلَّاقِ الْفَعَّالِ اِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيْدٍ وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيْزٍ

“Maha Suci Raja Yang Maha Suci, Maha Pencipta yang mampu melakukan segala sesuatu. Jika Dia menghendaki, Dia lenyapkan kalian dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu tidak sulit bagi Allah.”

Syekh Abul Abbas Al-Mursi pernah berkata: “Ahli fikih ini (lbu Athaillah) berteman denganku dan dia punya dua penyakit. Allah telah menyembuhkannya dari dua penyakit itu. Dan pasti ia akan duduk mengajar tentang dua ilmu (dhahir dan batin).’ Yang dimaksud dua penyakit itu adalah penyakit waswas dan sakit kepala yang sering menimpaku. Dan berkat doa Syeikh Abul Abbas Al-Mursi, Allah menyembuhkannya.”

Pada suatu malam aku dirundung kesedihan. Dalam tidurku aku bermimpi Syeikh Abul Abbas. Aku mengadu kepadanya mengenai masalah yang menimpaku. “Diamlah. Demi Allah aku akan mengajarkan kepadamu ilmu yang agung” ucap Syeikh Abul Abbas Al-Mursi kepadaku.

Ketika aku terbangun aku ceritakan mimpiku itu kepadanya.

“Insyaallah akan terjadi seperti itu,” kata beliau.

lbnu Athaillah berkata: “Dulunya, sebelum aku menjadi muridnya. saya termasuk orang yang menentang dan megingkari Syeikh Abul Abbas Al-Mursi. Aku sering adu mulut dengan murid-muridnya. ‘Biarkan aku pergi melihat sendiri orang ini (Syeikh Abul Abbas Al-Mursi), sebab orang yang benar itu tanda-tandanya jelas,’ kataku.

Aku mendatangi majlis Abul Abbas Al-Mursi. Di sana beliau berbicara tentang ilmu-ilmu yang berharga yang diperintahkan oleh syariat.

Syeikh Abul Abbas Al-Mursi menerangkan: “Yang pertama disebut Islam. Yang kedua adalah Iman. Yang ketiga, Ihsan. Bila engkau mau bisa kau katakan, Islam adalah mengucapkan dengan kata-kata, Iman adalah pengakuan dalam hati, Ihsan adalah mengamalkan dengan anggota badan. Apabila engkau mau bisa kau katakan Islam adalah ibadah, Iman adalah ubudiah, Ihsan adalah ubudah. Bila engkau mau bisa kau ucapkan, Islam adalah syariat, Iman adalah thariqat dan Ihsan adalah haqiqat. Bila kau mau maka kau katakan, Islam adalah dhahir, Iman adalah batin dan Ihsan adalah Ikhlas.” Abul Abbas Al-Mursi terus berucap, bila kau mau, sehingga akalku tercengang dan aku tahu bahwa Abul Abbas Al-Mursi menciduk dari luapan lautan ilmu Allah. Hilanglah apa yang selama ini ada di hatiku.

Kemudian aku pulang malam itu. Aku temukan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku menyendiri memandangi langit, bintang-bintangnya dan segala keajaiban ciptaan Allah. Semua itu mendorong aku untuk bertemu lagi dengan Abul Abbas Al-Mursi untuk kedua kalinya.

Ketika aku masuk menemuinya, Syeikh Abul Abbas Al-Mursi berdiri dan menyambutku dengan senyuman dan keramahan. Sampai-sampai aku merasa malu dan menganggap diriku jelek, tidak pantas mendapat penghormatan seperti itu.

Pertama kali kata-kata yang aku ucapkan kepadanya adalah, “Wahai Tuanku, demi Allah saya mencintaimu.”

“Semoga Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintaiku,” kata Syeikh Abul Abbas Al-Mursi.

Kemudian aku mengeluhkan kepada beliau tentang kesumpekan dan kesedihan yang menimpaku.

“Keadaan hamba itu ada empat, tidak ada yang kelima. Nikmat, bala, taat dan maksiat. Bila engkau dalam kenikmatan, maka bersyukurlah. Bila engkau dalam bala (ujian), maka bersabarlah. Bila engkau dalarn ketaatan, maka akuilah bahwa ketaatan itu dari (taufiq dan hidayah) Allah. Bila engkau dalam kemaksiatan, maka beristighfarlah,” ucap Syeikh Abul Abbas Al-Mursi. Ketika aku beranjak dari majlis, tiba-tiba segala kesedihanku terlepas dariku seperti baju yang aku lepas.

Setelah beberapa lama Syeikh Abul Abbas Al-Mursi menanyakan kepadaku tentang kesedihan itu. Aku menjawabnya bahwa sudah tidak ada lagi.

“Tetaplah, demi Allah bila engkau tetap seperti ini, maka engkau akan menjadi mufti dalam dua mazhab,” katanya. Maksudnya mazhab ahli syariat dan ahli hakikat.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *