Kalau Tidak Mau Dengan Cara Lembut Maka Dengan Cara Kasar

Budak Dari Keinginan
Mar 11, 2019
Nikmat Tetap Walau Maksiat, Jangan-Jangan Itu Istidraj
Mar 19, 2019

 مَنْ لَمْ يُقْبِلْ عَلَى اللهِ بِمُلَاطَفَاتِ الْإِحْسَانِ قُيِّدَ إِلَيْهِ بِسَلَاسِلِ الْإِمْتِحَانِ

Siapa yang tidak suka menghadap Allah dengan kelembutan pemberian karunia Allah maka akan diseret kepada-Nya dengan rantai ujian.

 

ARTINYA, siapa yang tidak suka dan tidak sadar untuk berdzikir (ingat) kepada Allah di waktu murah rezeki dan kenikmatan maka akan dipaksakan berdzikir ketika mendapat cobaan dan bencana. Allah Maha Memaksa manusia.

Allah memberi kenikmatan kepada hamba-Nya supaya ia mengingat Allah, berdzikir, kembali dan bersyukur kepada Allah. Kalau dengan cara baik itu orang itu tidak sadar, maka orang itu akan diseret oleh Allah dengan cobaan dan diberi siksaan agar ia ingat dan kembali kepada Allah walaupun dengan rantai cobaan. Sebab, tujuan Allah ialah agar hamba-Nya kembali kepada-Nya, baik dengan patuh atau dipaksa.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا

“Dan kepada Allah sujud segala apa yang di langit dan di bumi baik dengan patuh atau dipaksa.” (QS. Ar-Ra’d: 15)

Jadi, manusia ada dua macam; ada manusia yang menghadap kepada Allah dengan kelembutan karunia-Nya dan menegakkan syukur atas nikmat yang diberikan padanya. Ada pula yang menghadap Allah dengan rantai cobaan dan bencana.

Maqam pertama ialah maqam syukur, yaitu orang-orang yang mendapatkan kenikmatan yang melimpah baik kesehatan atau harta benda dan kenikmatan itu dilaksanakan haknya dengan disyukuri dan dibuat untuk beramal shaleh. Kenikmatan dan harta yang diberikan oleh Allah itu dijadikan kendaraan menuju Allah. Kenikmatan itu hanya diletakkan di tangan mereka dan tidak dimasukkan di hatinya. Mereka ini adalah orang-orang yang tunduk pada Allah. Mereka, orang-orang yang bersyukur ini, jumlahnya sedikit. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Kita berdoa,

اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْقَلِيْلِ

“Ya Allah, jadikan kami dari golongan yang sedikit ini.”

Maqam kedua ialah maqam sabar, yaitu menghadap kepada Allah dengan paksa untuk kembali beribadah dengan paksa, yaitu dengan cobaan. Mereka adalah orang-orang yang diberi oleh Allah kenikmatan, harta benda yang banyak, kesehatan dan afiat, dipalingkan dari kesengsaraan dan diberi kebahagiaan, lalu mereka disibukkan dengan kenikmatan itu sehingga mereka lalai dan mencegah mereka melakukan perjalanan menuju Allah. Kemudian kenikmatan-kenikmatan itu dicabut oleh Allah dan mereka diberi berbagai cobaan. Akhirnya mereka terpaksa harus kembali kepada Allah. Fisiknya sudah rusak, hartanya sudah habis, maka mau ke mana lagi kalau tidak kembali kepada Allah? Maka mereka kembali kepada Allah dengan rantai ujian.

Disebutkan dalam hadits sahih riwayat Bukhari, Ahmad dan lainnya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُسَاقُوْنَ إِلَى الْجَنَّةِ بِالسَّلَاسِلِ

“Tuhanmu kagum terhadap kaum yang ditarik masuk surga dengan rantai”

Kalau sudah tertulis sebagai ahli surga maka mau tidak mau dia harus masuk surga walau dengan diseret dan paksaan. Sebab, orang yang bertakwa akan diseret dan dimasukkan surga dengan ditundukkan dan dipaksakan, begitu pula orang-orang yang jahat ditarik ke neraka dengan dipaksakan dan ditundukkan. Tidak ada yang menundukkan kecuali Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa dan Maha Memaksa.

Ada yang mengatakan hadits di atas mengenai tawanan perang di zaman Nabi yang dirantai dan kemudian masuk islam.

Kita ingin kembali kepada Allah dengan patuh bukan terpaksa. Kita ingin menjadi orang yang mensyukuri kenikmatan, bukan hamba yang diberi berbagai cobaan untuk kembali kepada Allah. Ini seperti yang disebut dalam doa Ibnu Athaillah:

اَللّهُمَّ اجْعَلْنِيْ عَبِيْدَ امْتِنَانٍ لَا عَبِيْدَ امْتِحَانٍ

“Ya Allah, jadikan aku sebagai hamba yang diberi kenikmatan bukan hamba yang diberi cobaan.“

Kita menginginkan kenikmatan yang murni dari Allah tanpa kecampuran cobaan dari Allah. Kenikmatan yang merupakan karomah atau penghormatan dari Allah kepada hamba-Nya seperti yang diberikan kepada Nabi Sulaiman. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *