Jemu Dengan Makhluk, ‘Pintu Kebahagiaan Dengan Allah’ Terbuka

Saat Terbaik Dalam Hidupmu, Saat Engkau Butuh Allah
Nov 30, 2019

مَتَى أَوْحَشَكَ مِنْ خَلْقِهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الْأُنْسِ بِهِ

Apabila Allah menjemukan engkau dari makhluk-Nya, maka ketahuilah bahwa Allah akan membukakan untukmu pintu perasaan senang dengan Allah.

 

ORANG bisa mendapatkan perasaan senang dengan Allah kalau ia sudah jemu dengan manusia, tidak menghendaki manusia dan merasa bahwa manusia itu tidak bermanfaat baginya –bahkan bermudharrat dan tidak bisa menolong. Di saat-saat sempit seperti itu ia merasa bahagia dengan Allah karena ia merasa hanya Allah yang dapat menolong dirinya dan memenuhi kebutuhannya. Allahus Shamad (Allah tempat bergantung).

Memang dalam keadaan terpojok manusia akan pergi ke alam malakut yaitu alam yang dingin. Ia mencari suasana yang sejuk dari panasnya alam dunia ini. Disaat itulah ia kembali kepada Allah. Ia merasa bahagia dengan Allah.

Ada yang mengatakan:

الْإِسْتِئْنَاسُ بِالنَّاسِ مِنْ عَلَامَاتِ الْإِفْلَاسِ

“Merasa senang (bergaul) dengan manusia adalah tanda kebangkrutan.”

Bila seseorang diberi oleh Allah perasaan gembira dengan Allah, maka ia jemu dengan segala sesuatu selain Allah. Maka ia benar-benar tentram dengan Allah. Apa saja selain Allah tidak bisa memuaskan dirinya. Hanya Allah yang bisa memuaskan dirinya.

sebagaimana cerita yang dialami oleh Abu Yazid Al-Busthami, seorang wali besar yang dipanggil Thaifur. Ia pemah diperlihatkan oleh Allah keindahan alam malakut. Di sana banyak pemandangan-pemandangan dan keindahan yang tidak bisa diceritakan dan dicontohkan. Ada yang bertanya kepadanya;

“Adakah dari apa yang engkau lihat yang engkau tertarik kepadanya?“

“Tidak ada sedikitpun yang membuatku tertarik,” jawab Abu Yazid.

“Engkau betul-betul hamba Allah,” ucap suara itu.

Ini adalah misal dari orang yang mendapatkan kesenangan dari Allah. la melupakan segala kesenangan selain Allah. Ia tidak tertarik sama sekali dengan selain Allah, karena baginya tidak ada yang menyenangkan kecuali Allah.

Ini sudah menjadi ketetapan Allah, bahwa orang yang akan digolongkan Allah sebagai Ahlul unsi (orang yang merasa gembira dengan Allah) maka ia dijemukan dan dijadikan muak dengan manusia dan makhluk-Nya. Ia tidak suka keramaian. Ia senang menyendiri.

Lalu Allah mengilhaminya untuk berdzikir untuk membersihkan hati. Setelah hatinya kuat, imannya kokoh, makrifatnya bertambah maka Allah mengumpulkannya kembali dengan manusia. Ia sudah tidak terpengaruh lagi dengan manusia, bahkan ia bisa memperbaiki manusia dan memberi manfaat kepada mereka. Ia tidak akan rusak walau ditaruh di tengah jalan teramai sekalipun.

lni dimisalkan seperti lampu templek. Bila dihidupkan pertama kali dan apinya masih kecil maka ia gampang padam diterpa angin walaupun angin itu kecil. Tetapi ketika apinya semakin membesar dan ditaruh pada kayu bakar, maka ia tidak terpengaruh oleh terpaan angin. Bahkan semakin ada angin semakin besar pula nyala api itu. Begitu pula orang shaleh (wali), walau berada di tengah masyarakat ia tidak terpengaruh. Bahkan imannya semakin kuat.

Contohnya, Nabi Muhammad sebelum mendapatkan risalah senang berkhalwat di gua Hira’ berhari-hari. Sampai Nabi mendapat pemberian dari Allah dan hatinya bersih bercahaya, maka Allah menyuruhnya keluar dari gua dan berdakwah.

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى

“Dia temukan engkau dalam kebingungan maka Dia memberimu petunjuk. “ (QS. Ad-Dhuha: 7)

Nabi shallallahu alaihi wasallam bingung apakah akan terus duduk di dalam gua karena ia sudah merasa tenteram dengan Allah ataukah keluar kepada manusia. Maka Allah memberi petunjuk kepadanya untuk berdakwah dan memberi manfaat kepada orang lain karena sudah kuat.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *