Jangan Risau, Sudah Ada Yang Mengatur

Sekeras Apapun Semangatmu, Tidak Akan Dapat Menembus Takdir
Aug 17, 2018
Tanda Hati Buta : Semangat Memburu Rezeki dan Teledor Ibadah
Aug 19, 2018

أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ فما قامَ بهِ غيرُكَ عنْكَ لا تَقُم بهِ لنفسِكَ

Tenangkanlah jiwamu dari kerisauan mengatur kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah dijamin dan diselesaikan oleh selain engkau, yaitu Allah, tidak usah kamu memikirkannya.

JANGAN kamu risau dan payah memikirkan urusan dunia, karena yang menentukan sudah ada, yaitu Allah. Semua sudah tertulis dalam takdir sejak zaman azal, baik itu urusan dunia atau agama. Jangan ragu dengan jaminan Allah.
Boleh berusaha tetapi tetap tawakkal pada Allah, seperti tawakkalnya burung sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu alaihi wasallam:

لَوْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا، وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian tawakkal pada Allah dengan sungguh-sungguh, maka kalian akan diberi rezeki oleh Allah seperti burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. (HR. Turmudzi)
Mengatur yang tercela ialah mengatur yang sampai melupakan Allah, melupakan jaminan dan ketentuan Allah, mengatur yang mengandalkan kepandaian, kekayaan dan kekuatan seperti kamu mengatakan, “Sudah tentu kalau saya berbuat begini, pasti terjadi begini”. Mengatur yang seperti inilah yang dilarang oleh Allah.
Kata “kalau” dan ‘kenapa” adalah kata-kata orang bodoh, kata-kata yang menunjukkan tidak bersandar pada Allah bahkan menentang Allah. Imam Al-Haddad menyebutkan, “Perkataan kalau dan kenapa adalah kata-kata orang bodoh”
Sahal bin Abdullah At-Tusturi berkata, “Tinggalkanlah mengatur dan usaha, karena keduanya dapat memperkeruh kehidupan manusia.”
Abul Hasan As-Syadzili berkata; “Jika kalian harus mengatur diri, maka aturlah agar kalian tidak mengatur.”
Seorang Arif berkata, “Siapa yang tidak mengatur, maka dia akan diatur.”
Artinya, orang yang betul-betul bertawakkal kepada Allah akan diurus segala urusannya oleh Allah. Sebaliknya, orang yang mengatur dengan dorongan hawa nafsu, mengatur seakan-akan ia bisa menciptakan sendiri padahal yang sebenarnya yang menciptakan dan mentakdir hanya Allah, maka Allah lepas tangan dari orang itu sehingga yang ia dapat hanyalah kesusahan dan kepayahan.
Boleh mengatur-atur dan berusaha tetapi jangan merusak dan menentang konsep ubudiah, yakni tanpa bersandar kepada Allah. Mengatur boleh, bahkan dianjurkan jika disertai dengan niat baik dan tawakkal kepada Allah.
Bahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

التَّدْبِيْرُ نِصْفُ الْمَعِيْشَةِ

“Mengatur-ngatur itu separuh dari kehidupan.” (HR. Abu Mansur Ad-Dailami)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Allah suka jika seseorang dari kalian melakukan sesuatu pekerjaan, lalu ia menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la)
Tidak mungkin orang dapat melakukan sesuatu dengan baik dan sempuma jika tidak ada aturan. Hidup seseorang tidak akan bahagia dan sukses tanpa adanya aturan. Hanya saja mengaturnya harus karena Allah. Hati harus tetap yakin bahwa bukan dirinya yang mengatur dan menentukan, tetapi sebenarnya Allah-lah ya mengatur dan menentukan segalanya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *